Bukan Cawapres, Ini Alasan Bahlil Maju Jadi Caleg dari Dapil Papua pada Pemilu 2029
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia akan maju sebagai calon legislatif (caleg) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
"Ketua Umum kami mau nyaleg, sudah men-declare-kan bahwa beliau akan menjadi caleg untuk 2029," ujar Sarmuji dikutip dari , Jumat (13/2/2026).
Alasan Bahlil Pilh Jadi Caleg dari Dapil Papua
Sarmuji menjelaskan bahwa Bahlil memutuskan bertarung di Daerah Pemilihan (dapil) Papua karena wilayah tersebut merupakan tempat ia tumbuh dan besar.
Meskipun tidak menyangkal bahwa Bahlil lahir di Banda, Sarmuji menegaskan bahwa Papua tetap menjadi pilihan utama lantaran kedekatan historis dan emosional Bahlil dengan daerah itu.
"Pak Bahlil sudah memilih dapil, dapil Papua. Tanah kelahiran beliau ya. Ya pokoknya Pak Bahlil kan dibesarkan di Papua," ujar Sarmuji dikutip dari Tribunnews, Kamis (12/2/2026).
Berdasarkan catatan Kompaspedia, Minggu (27/10/2024), Bahlil Lahadalia memang lahir di Banda, Maluku Tengah, Maluku, pada 7 Agustus 1976.
Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lahadalia dan Nurdjani.
Nurdjani berasal dari Banda Neira, salah satu pulau di Kepulauan Banda.
Bahlil menghabiskan masa kecil dan pendidikan awalnya di wilayah timur Indonesia.
Ia menempuh sekolah dasar di SD Negeri 1 Seram Timur, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Seram Timur, Maluku.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia didampingi Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri beserta jajaran melakukan doorstop di depan media nasional dalam acara Kunjungan Satgas Nataru di Intergrated Terminal Jakarta, pada Minggu (28/12).
Bahlil Pindah Ke Fakfak
Kemudian, keluarga Bahlil pindah ke Fakfak, Papua Barat. Di sana, ia melanjutkan pendidikan di SMEA YAPIS Fakfak.
Setelah lulus, Bahlil berangkat ke Jayapura dan tinggal di asrama orang Fakfak.
Di Jayapura, ia mendaftar di Akademi Keuangan dan Perbankan (Akubank), yang kini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay.
Untuk membiayai kuliah, Bahlil bekerja sebagai sopir angkot, kuli angkut, serta kuli dorong di pasar.
Selama di kampus, ia aktif berorganisasi. Pada semester lima, Bahlil terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa di era reformasi.
Ia juga terlibat sebagai aktivis gerakan reformasi 1997-1998 dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga mencapai posisi Bendahara Umum PB HMI.
Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Bahlil berhasil menyelesaikan gelar Sarjana (S1) di Akubank Port Numbay. Gelar master (S2) diraihnya di Universitas Cendrawasih.
Selain dirinya, ketujuh saudara kandungnya juga berhasil meraih gelar sarjana dan menjalani profesi sebagai pegawai negeri serta guru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang