Jejak Aktivitas Sesar Opak, dari Lindu Kecil di Jogja hingga Gempa Bantul 2006

Sesar Opak masih menjadi bahan pembicaraan di media sosial, terutama X, selepas gempa yang mengguncang Pacitan pada Jumat (6/2/2026) pukul 01.06 WIB.
Meski gempa dengan kekuatan Magnitudo (M) 6,4 di Pacitan itu bukan dipicu Sesar Opak, namun getarannya yang sampai ke wilayah Yogyakarta membuat warga DIY membahas kembali soal Sesar Opak yang masih aktif.
Hal ini lantaran di akhir Januari 2026, tepatnya pada Selasa (27/1/2026), Yogyakarta diguncang gempa berkekuatan M 4,5 yang disebabkan oleh aktivitas Sesar Opak.
Selain itu, Gempa Bantul tahun 2006 juga diketahui disebabkan oleh Sesar Opak.
Riuhnya pembahasan soal Sesar Opak, dilengkapi dengan beberapa warganet yang tinggal di sekitar Yogyakarta mengaku sering merasakan gempa-gempa kecil akibat sesar ini.
"Aku beberapa kali kerasa getaran itu malah dituduh halusinasi dan skizofrenia, padahal itu karena sesar opak masih aktif kan?" tulis akun @zelda09a.
Mengenal Sesar Opak
Banyak warganet yang selalu mengaitkan Sesar Opak dengan gempa yang terjadi di Yogyakarta.
Menurut C.Prasetyadi, pakar geologi pengelola Geopark Jogja, hal ini wajar mengingat Sesar Opak memang sering memicu gempa di DIY.
"Sesar Opak merupakan salah satu bukti adanya pergerakan kerak bumi atau lempeng benua yang menjadi penyebab terjadinya gempa Jogja," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (9/2/2026).
Dilansir dari laman Geopark Jogja, struktur geologi yang berkembang di daerah Opak adalah sesar geser dan sesar normal.
Sesar normal di sepanjang Sungai Opak berada di sepanjang hampir 40 km dari pantai selatan Jawa di mulut sungai ke arah Prambanan, Kabupaten Klaten, dengan arah 30 sampai 40 derajat (timur laut-barat daya) dengan bidang sesar mendatar dan kemiringan bidang relatif tegak.
Sesar ini merupakan salah satu segmen Zona Sesar Opak yang tersingkap.
Kedudukan bidang sesar yang memotong lapisan tanah dengan ketebalan sekitar 50 cm-5 meter mengindikasikan bahwa sesar ini merupakan sesar aktif.
"Bukti-bukti sesar dapat diamati di beberapa wilayah Kapanewon, Kecamatan Jetis, dan Pleret," ujar Prasetyahadi.
Sesar Opak memotong Yogya Low dan Wonosari High dengan batuan andesit tua (OAF) sebagai penyusun struktur pemotongan sesar, sedangkan di timur Opak masih terdapat Formasi Semilir dan Nglanggran yang juga terlibat dalam sistem sesar (Nurwidyanto, dkk. 2007).
SOBM bukti aktifnya Sesar Opak
Salah satu lokasi yang kerap menjadi objek kajian adalah Sesar Opak Bukit Mengger (SOBM) yang terletak di Kelurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul.
"Jalan menuju kawasan ini dapat dilalui dengan motor maupun mobil dengan jarak ± 15 km dari Kota Yogyakarta. Jika akan ditempuh dengan kendaraan pribadi dari Yogyakarta, dapat dipilih rute melalui Jalan Imogiri Barat, lokasi situs berada di sekitar Kompleks Perumahan Pemda," ujar Prasetyahadi.
SOBM merupakan perbukitan struktural yang pembentukannya sangat dipengaruhi oleh aktivitas sesar mendatar Sesar Opak.
Selain itu, SOBM juga dipengaruhi oleh kondisi batuan dasar berupa batuan piroklastik gunungapi Formasi Semilir yang relatif keras.
Geosite ini merupakan bagian penting karena menyingkap jejak Sesar Opak.
"Pada geosite ini pula menjadi pengingat untuk kita semua tentang kejadian Gempa Bantul yang terjadi tanggal 27 Mei 2006 yang digerakkan oleh Sesar Opak," ujarnya.
Jejak gempa yang dipicu Sesar Opak
Gempa Bantul yang terjadi pada 27 Mei 2006 disebabkan oleh aktivitas Sesar Opak. Gempa yang menimbulkan banyak kerusakan dan ribuan korban jiwa ini menyita perhatian internasional.
Gempa bermagnitudo 5,9 tersebut menewaskan 6.234 orang dan diketahui berpusat di sekitar Sungai Opak, tepatnya di jalur Sesar Opak.
Gempa bumi lain dengan kekuatan signifikan yang dipicu aktivitas Sesar Opak juga terjadi pada 30 Juni 2023. Berdasarkan kajian BMKG, gempa tersebut tercatat memiliki magnitudo M 6,0.
Kendati tergolong kuat, peristiwa itu hanya menimbulkan kerusakan ringan.
Gempa-gempa yang dipicu oleh Sesar Opak umumnya bertipe gempa dangkal, dengan episenter berada di daratan sekitar Yogyakarta dan sekitarnya.
BMKG dan kajian geologi menyatakan bahwa Sesar Opak masih aktif dan terus menunjukkan aktivitas kegempaan di wilayah Yogyakarta.
Masyarakat di sekitar sesar sering merasakan gempa-gempa kecil (microtremor/lindu) yang muncul akibat pelepasan energi patahan ini.
Aktivitas sesar yang aktif memang memicu gempa-gempa kecil secara berkala di sekitar jalur sesar. Gempa-gempa ini umumnya bermagnitudo kecil (di bawah 5,0), sehingga sering hanya terdeteksi oleh alat dan kadang tidak dirasakan oleh manusia.
Analisis seismisitas menunjukkan daerah sekitar sesar memang menghasilkan gempa dengan magnitudo kecil secara konsisten sebagai bentuk pelepasan energi kontinu, dilansir dari Jurnal UNY.
Lantas, adakah penanda khusus akan gempa yang terhubung dengan aktivitas Sesar Opak? Mengingat di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa, sering hadir beberapa kepercayaan yang dikaitkan dengan perubahan cuaca atau perilaku hewan sebelum gempa terjadi.
Kepala Dukuh Kembangsongo yang tempat tinggalnya berada di jalur Sesar Opak, mengaku tidak ada semacam ilmu titen yang lahir di desanya.
"Menurut keterangan Bapak Kepala Dukuh Kembangsongo, Hermawan, tidak terdapat titen atau tanda-tanda khusus sebelum kejadian gempa. Namun, saat gempa terjadi, masyarakat secara spontan mengucapkan kata 'kukuh-kukuh' yang bermakna bakoh atau kokoh," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang