Mengenang Sosok Letjen (Purn) Agus Widjojo, Reformis yang Mendorong TNI Keluar dari Politik
Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) malam.
Kepergian tokoh militer, diplomat, sekaligus pemikir pertahanan nasional ini menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang perwira yang sejak awal Reformasi dikenal konsisten mendorong perubahan fundamental di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Agus Widjojo menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, sekitar pukul 20.15 WIB. Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI saat ini, Ace Hasan Syadzily.
“Innalillahiwainnailaihiroji'un. Telah berpulang ke rahmatullah Gub Lemhannas RI (2016–2022), Bapak Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo bin Sutoyo Siswomiharjo pada hari Minggu 8 Februari 2026 jam 20.15 di RSPAD Jakarta. Sementara kami mendapatkan informasi demikian,” demikian pesan yang disampaikan Ace saat mengonfirmasi wafatnya Agus Widjojo, Minggu malam.
Menurut rencana, jenazah Agus Widjojo akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
“Rencana setelah dimandikan di RSPAD malam ini, jenazah akan disemayamkan di kediaman almarhum di Puri Cikeas. Kemungkinan almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta,” ujar Ace.
Siapa Agus Widjojo dalam sejarah TNI dan bangsa?
Agus Widjojo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 8 Juni 1947. Ia merupakan putra dari Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) dan lulus pada 1970.
Sejak itu, Agus menjalani karier panjang di TNI Angkatan Darat, khususnya di kecabangan Infanteri, hingga mencapai pangkat Letnan Jenderal.
Dalam perjalanan kariernya, Agus dikenal bukan hanya sebagai perwira lapangan, tetapi juga sebagai pemikir strategis.
Saat dipercaya menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), ia memegang peran penting dalam restrukturisasi doktrin politik dan keamanan TNI, terutama pada masa transisi menuju era Reformasi.
Bagaimana peran Agus Widjojo dalam reformasi TNI?
Nama Agus Widjojo tak bisa dilepaskan dari proses reformasi TNI pasca-1998. Pada masa itu, bersama Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, ia diminta Panglima TNI saat itu, Jenderal Wiranto, untuk menyiapkan konsep reformasi militer. Konsep tersebut kemudian dikenal sebagai Paradigma Baru TNI.
Paradigma ini menekankan reposisi TNI agar kembali fokus pada fungsi pertahanan negara dan menjauh dari praktik politik praktis.
Pada 1998, Agus secara terbuka menyampaikan pandangannya bahwa militer seharusnya keluar dari politik.
“Mereka yang melihat kebutuhan untuk menjadikan militer sebagai bagian dari sistem yang lebih demokratis adalah mereka yang telah terkena sistem demokrasi,” ujarnya saat itu.
Gagasan tersebut tidak berhenti di tataran konseptual. Ketika menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Fraksi TNI/Polri pada periode 2001–2002, Agus memimpin langkah historis Fraksi TNI/Polri untuk mundur dari parlemen.
Keputusan tersebut menjadikan periode MPR 1999–2004 sebagai masa terakhir keterlibatan TNI/Polri di lembaga legislatif.
Apa pandangan Agus Widjojo soal peran TNI di luar pertahanan?
Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019). Rapat tersebut membahas rencana kerja Lemhannas tahun 2020 beserta dukungan anggarannya dan isu-isu aktual lainnya. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc. *** Local Caption ***
Dalam berbagai kesempatan, termasuk saat peluncuran bukunya tentang transformasi TNI pada 2015, Agus Widjojo mengkritisi banyaknya peran nonmiliter yang dibebankan kepada TNI.
Ia menilai, penugasan di luar fungsi pertahanan, seperti keterlibatan dalam program swasembada pangan dan tugas-tugas sipil lainnya, berpotensi mengganggu konsolidasi demokrasi.
Menurutnya, peran utama TNI adalah menjaga pertahanan negara. Karena itu, TNI perlu melepaskan tanggung jawab di sektor keamanan dalam negeri yang seharusnya menjadi ranah penegakan hukum sipil.
Salah satu contoh yang kerap ia soroti adalah tumpang tindih kewenangan di bidang keamanan laut.
“Masih ada salah pengertian bahwa keamanan laut dan keamanan maritim berada di tangan TNI Angkatan Laut. Perlu ditanamkan pengertian, fungsi keamanan maritim merupakan fungsi penegakan hukum di wilayah perairan nasional yang dilaksanakan oleh lembaga penegak hukum sipil,” kata Agus.
Bagaimana kiprahnya di bidang ketatanegaraan dan HAM?
Selain isu reformasi militer, Agus Widjojo juga aktif dalam bidang ketatanegaraan dan hak asasi manusia.
Ia pernah menjabat sebagai anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan RI–Timor Leste yang menangani dugaan pelanggaran HAM terkait konflik di Timor Timur.
Perhatiannya juga tercurah pada tragedi politik 1965. Agus tercatat sebagai salah satu penasihat Forum Silaturahmi Anak Bangsa, sebuah forum yang didirikan pada 2003 untuk mempertemukan anak-anak korban konflik politik 1965.
Ia juga menjadi penggagas sekaligus Ketua Panitia Pengarah Simposium Nasional membedah Tragedi 1965 yang diselenggarakan melalui Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada 2016.
Bagaimana perjalanan Agus Widjojo di pemerintahan dan diplomasi?
Pada 15 April 2016, Agus Widjojo diangkat sebagai Gubernur Lemhannas RI. Ia memimpin lembaga tersebut hingga 12 Januari 2022, dengan fokus pada penguatan ketahanan nasional melalui pendekatan strategis dan kebijakan berbasis kajian.
Setelah menyelesaikan tugasnya di Lemhannas, Presiden ke-7 RI Joko Widodo melantik Agus Widjojo sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina pada 12 Januari 2022.
Dalam jabatan tersebut, ia juga merangkap sebagai Dubes RI untuk Republik Kepulauan Marshall dan Republik Palau.
Hingga akhir hayatnya, Agus Widjojo tetap dikenal sebagai sosok yang konsisten menyuarakan pentingnya supremasi sipil, profesionalisme militer, dan penghormatan terhadap demokrasi.
Sebagian artikel ini telah tayang di Bangkapos.com dan Kompas.com dengan judul "Profil Letjen (Purn) Agus Widjojo, Dubes RI untuk Filipina yang Meninggal Dunia".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang