Serba-serbi New START, Akhir Perjanjian Senjata Nuklir AS-Rusia yang Bikin Was-was Dunia

VIVA Militer: Senjata nuklir Rusia
VIVA Militer: Senjata nuklir Rusia

 Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) resmi berakhir pada Rabu, 4 Februari 2026, malam waktu Amerika Serikat bagian Timur atau Kamis, 5 Februari 2026 pukul 12.00 WIB. 

Kesepakatan ini dinilai sebagai salah satu pilar utama stabilitas nuklir global karena membatasi jumlah senjata strategis jarak jauh milik kedua negara. Dengan berakhirnya perjanjian, para pihak (AS-Rusia) dalam traktat New START tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris, serta bebas menentukan langkah selanjutnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia pada Rabu, mengatakan pihaknya telah berupaya memperpanjang perjanjian itu, yang inisiatif terakhirnya diajukan pada 22 September. Saat itu, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengusulkan agar pembatasan senjata terkait dalam perjanjian tersebut tetap diberlakukan setidaknya selama satu tahun setelah masa berlakunya berakhir.

Ilustrasi berakhirnya New START perjanjian senjata nuklir AS-Rusia

Namun, kementerian itu mengaku belum menerima tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait inisiatif tersebut melalui saluran bilateral.

"Dalam situasi saat ini, kami berasumsi bahwa para pihak dalam New START tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam kerangka perjanjian tersebut, termasuk ketentuan intinya, dan pada prinsipnya bebas memilih langkah selanjutnya," kata Kemlu Rusia.

Apa Itu Perjanjian New START?

Mengutip laman Kementerian Luar Negeri AS, New START, yang mulai berlaku pada 5 Februari 2011, mengatur langkah-langkah pengurangan dan pembatasan lebih lanjut senjata serangan strategis. Perjanjian tersebut dirancang untuk meningkatkan keamanan dengan menetapkan batasan yang dapat diverifikasi terhadap persenjataan nuklir antarbenua, termasuk rudal balistik dan pesawat pembom berat.

Berdasarkan kesepakatan itu, Amerika Serikat dan Rusia diberi waktu tujuh tahun untuk memenuhi batasan utama, yang resmi tercapai pada 5 Februari 2018. Sejak saat itu, kedua negara diwajibkan mempertahankan jumlah persenjataan mereka tetap berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan.

Dalam perjanjian tersebut, kedua pihak sepakat membatasi maksimal 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM), serta pesawat pembom berat berkemampuan nuklir yang dikerahkan. Selain itu, jumlah hulu ledak nuklir dibatasi hingga 1.550 unit, serta 800 peluncur rudal dan pesawat pembom nuklir baik yang dikerahkan maupun tidak.

Data pertukaran terbaru menunjukkan Rusia melaporkan memiliki 1.447 hulu ledak strategis yang dikerahkan, angka yang masih berada di bawah batas New START. Meskipun Rusia memiliki kapasitas untuk menambah jumlah hulu ledak melalui modernisasi sistem senjatanya, perjanjian ini membatasi langkah tersebut.

New START juga mencakup pembatasan terhadap sejumlah sistem senjata modern Rusia, termasuk Avangard yang telah dikerahkan dan rudal Sarmat yang masih dikembangkan. Kedua sistem ini disebut mampu mencapai wilayah Amerika Serikat dalam waktu sekitar 30 menit, sehingga keberadaan perjanjian dinilai penting untuk menjaga keseimbangan strategis.

Selain menetapkan batas kuantitatif, New START memberikan fleksibilitas bagi masing-masing negara untuk menentukan struktur kekuatan nuklirnya sendiri selama tetap mematuhi ketentuan yang berlaku. Hal ini memungkinkan Amerika Serikat dan Rusia menyesuaikan strategi pertahanan mereka dengan kebutuhan keamanan nasional masing-masing.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu aspek utama perjanjian ini adalah mekanisme verifikasi dan transparansi yang ketat. New START mewajibkan pertukaran data rutin, inspeksi di lokasi, penggunaan sarana teknis verifikasi nasional, serta pembentukan Komisi Konsultatif Bilateral untuk memantau pelaksanaan kesepakatan.

Dengan berakhirnya batas waktu perjanjian, masa depan New START kini menjadi pertanyaan penting dalam dinamika hubungan AS–Rusia. Banyak analis menilai berakhirnya perjanjian ini akan berdampak besar terhadap stabilitas keamanan global dan arah perlombaan senjata nuklir di masa depan.