Kenapa Ibu Zaman Sekarang Mudah Overthinking? Ini Penjelasannya

Ilustrasi ibu dan anak/parenting.
Ilustrasi ibu dan anak/parenting.

 Menjalani peran sebagai ibu di era digital bukan perkara sederhana. Di tengah banjir informasi, rekomendasi produk yang tak ada habisnya, serta ekspektasi sosial untuk selalu mengambil keputusan terbaik, banyak ibu—terutama yang baru pertama kali menjalani motherhood—justru merasa kewalahan. Alih-alih merasa terbantu, limpahan informasi sering kali memicu kebingungan dan rasa ragu.

Fenomena ini kerap dirasakan para ibu muda di Indonesia. Bukan karena kurangnya referensi, melainkan sulitnya memilah mana informasi yang benar-benar relevan, aman, dan sesuai dengan kondisi yang sedang mereka jalani. Situasi inilah yang mendorong pentingnya pendampingan yang lebih personal dan kontekstual dalam perjalanan menjadi ibu. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami memahami bahwa tantangan moms saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan sulitnya menyaring mana yang relevan, aman, dan benar-benar dapat dipercaya sesuai dengan kondisi yang sedang dijalani. Berangkat dari hal tersebut, Lilla mengusung pendekatan berbasis motherhood stages, di mana setiap solusi—mulai dari edukasi, kurasi produk, hingga pengalaman berbelanja dan komunitas disesuaikan. Harapannya, siapapun dapat menjalani motherhood lebih , percaya diri dan tidak merasa sendirian,” ujar CEO of Lilla, Chrisanti Indiana, dalam keterangannya, dikutip Selasa 3 Februari 2026. 

Pendekatan berbasis tahapan ini sejalan dengan realitas motherhood yang tidak seragam. Setiap fase—mulai dari kehamilan, masa awal menyusui, pengenalan MPASI, hingga tumbuh kembang anak—memiliki tantangan emosional dan praktis yang berbeda. Ibu hamil membutuhkan informasi berbeda dengan ibu yang sedang menghadapi tantangan MPASI atau mengasuh balita yang aktif.

Di sisi lain, edukasi yang kredibel juga menjadi kebutuhan penting. Informasi seputar kehamilan, menyusui, hingga tumbuh kembang anak idealnya tidak hanya mudah diakses, tetapi juga berbasis keahlian medis dan pengalaman praktis. Kolaborasi dengan tenaga profesional seperti dokter, bidan, ahli gizi, dan konselor laktasi menjadi kunci agar ibu tidak terjebak pada mitos atau informasi menyesatkan.

Selain kebutuhan informasi dan produk, aspek emosional sering kali luput dibicarakan. Banyak ibu merasa harus selalu kuat dan serba bisa, padahal perjalanan motherhood kerap disertai rasa cemas, lelah, bahkan kesepian. Kehadiran ruang aman untuk berbagi pengalaman tanpa penghakiman menjadi salah satu bentuk dukungan yang kini semakin dibutuhkan.

Komunitas digital pun berperan penting sebagai support system, terutama bagi ibu yang tidak selalu memiliki lingkungan pendukung secara langsung. Berbagi cerita, bertanya, dan merasa dipahami oleh sesama ibu dapat membantu mengurangi tekanan emosional dalam menjalani peran baru.