PBB Sebut Gaza Jadi Tempat Paling Berbahaya bagi Jurnalis
Kantor Hak Asasi Manusia PBB di wilayah Palestina menyatakan bahwa Gaza menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis. Setidaknya tercatat ada 295 jurnalis yang tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak awal perang berkecamuk.
Dalam unggaan mereka di akun X, Minggu 3 Mei 2026, kantor tersebut menyuarakan tindakan nyata bukan sekedar kecaman. Kantor HAM PBB di wilayah Palestina menuntut adanya pertanggungjawaban, perlindungan bagi jurnalis dan akses bebas bagi media independen ke wilayah Gaza.
“Gaza adalah tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis,” demikian pernyataan mereka dikutip dari laman presstv.ir, Senin 4 Mei 2026.
Kantor HAM PBB juga menegaskan bahwa 295 jurnalis yang tewas dalam serangan di Gaza merupakan angka yang sangat besar, dan menunjukkan adanya pola penargetan terhadap para pekerja media.
Selain itu, mereka menyoroti bencana kemanusiaan yang lebih luas. Sejak 7 Oktober 2023, perang yang terus berlangsung di Gaza telah menyebabkan puluhan ribu warga Palestina tewas dan terluka, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Bahkkan banyak di antaranya masih tertimbun reruntuhan.
Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menggambarkan situasi ini sebagai jebakan mematikan bagi media.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia juga berulang kali menuduh Israel sengaja menargetkan jurnalis, keluarga mereka, serta kantor media, dengan tujuan membungkam pemberitaan tentang kekejaman yang terjadi di Gaza.
Pemerintah Israel juga tidak mengizinkan media independen asing masuk ke wilayah tersebut, sehingga arus informasi sangat dikendalikan dan kerja jurnalis Palestina sering terhambat.
Kantor HAM PBB pun mendesak komunitas internasional untuk tidak berhenti pada kecaman lisan saja, melainkan segera mengambil langkah konkret guna memastikan adanya pertanggungjawaban atas pembunuhan tersebut, melindungi jurnalis dari bahaya lebih lanjut, serta membuka akses seluas-luasnya bagi media independen untuk meliput situasi di Gaza.