Kucing Abad Pertengahan Menginjak Manuskrip Kuno, Jejak Kakinya Bertahan 500 Tahun

Kira-kira 500 tahun lalu, seekor kucing meninggalkan jejak kakinya di sebuah manuskrip Abad Pertengahan.
Jejak kaki ini abadi hingga kini, dan tengah dipamerkan dalam pameran bertajuk “Paws on Parchment” yang digelar di Walters Art Museum, Baltimore.
Dilansir dari Smithsonian Magazine, Selasa (13/1/2026), lebih dari 500 tahun lalu, setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyalin sebuah manuskrip penting dengan sangat teliti, seorang juru tulis asal Flanders meletakkan perkamen itu untuk dikeringkan.
Namun saat kembali, ia kaget karena mendapati halaman tersebut ternodai oleh jejak kaki kucing yang masih berlumur tinta.
Menurut peneliti, mungkin inilah contoh paling awal yang pernah diketahui dari apa yang kini disebut sebagai “keyboard cat”.
Menggambarkan kasih sayang manusia kepada kucing
Dicukil dari laman resmi Walters Art museum, manuskrip tersebut menjadi inspirasi sekaligus pusat perhatian dalam pameran tersebut.
Berlangsung hingga akhir Februari, pameran Paws on Parchment mengeksplorasi peran kucing pada Abad Pertengahan, serta berbagai cara manusia menunjukkan kasih sayangnya kepada sahabat berbulu mereka ratusan tahun lalu.
“Benda-benda seperti manuskrip ini mampu menjembatani waktu, karena begitu mudah dipahami oleh siapa pun yang pernah memelihara kucing,” kata Lynley Anne Herbert, kurator buku langka dan manuskrip di museum tersebut.
“Banyak orang pada Abad Pertengahan mencintai kucing mereka sama seperti kita sekarang,” lanjutnya.
Kasih sayang itu tercermin dari banyaknya ilustrasi kucing dalam berbagai budaya.
Setelah menemukan manuskrip dari Flanders tersebut, Herbert menelusuri arsip museum dan menemukan begitu banyak penyebutan maupun penggambaran kucing dalam teks dan gambar dari dunia Islam, Asia, dan Eropa lainnya.
Salah satu naskah yang dipamerkan adalah versi Turki dari Wonders of Creation, sebuah karya kosmografi Islam abad ke-13 yang menampilkan ilustrasi seekor kucing hitam duduk di antara tanaman.
Nabi Muhammad sendiri juga dikenal menyayangi kucing, yang memiliki makna simbolis penting dalam Islam.
Kemudian pada abad ke-13, Sultan Al-Zahir Baybars bahkan mendirikan taman khusus kucing di Kairo untuk menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi kucing liar.
Versi lain Wonders of Creation dari abad ke-15 yang berasal dari Irak atau Turki Timur dan kini disimpan di National Museum of Asian Art milik Smithsonian, juga menampilkan lukisan kucing dengan cat air.
Selain itu, sebuah Injil Armenia abad ke-17 yang ditampilkan dalam pameran, dipesan oleh seorang perempuan bernama Napat sebagai penghormatan bagi dirinya dan keluarganya, juga memuat banyak gambar kucing
Gambar-gambar kucing itu diduga merupakan bagian penting dari kehidupan rumah tangga mereka.
Ada pula lukisan abad ke-15 berjudul Madonna and Child With a Cat, yang menampilkan seekor anak kucing kecil di samping bayi Yesus.
Menurut pihak museum, penggambaran ini kemungkinan merujuk pada legenda Kristen yang kurang dikenal, bahwa seekor kucing melahirkan anak-anaknya di palungan pada saat yang sama ketika Maria melahirkan Yesus.
Kucing juga digambarkan sebagai karakter jahat
Ilustrasi kucing berburu tikus.
Namun, sifat kucing yang penuh perhitungan dan piawai berburu juga membuat hewan ini kerap digunakan untuk melambangkan karakter jahat atau menyampaikan kisah peringatan.“Karena mereka begitu senyap dan mampu melihat dalam gelap, kucing dipandang sebagai makhluk yang agak etereal,” kata Herbert.
“Hal ini kemudian diterjemahkan ke dalam gagasan tentang cara kerja iblis. Jika seseorang berbuat dosa, ia bisa mengintai dan pada akhirnya menerkam,” sambungnya.
Di margin manuskrip yang dipamerkan, terdapat ilustrasi kucing yang tampak konyol sedang memainkan alat musik, yang menggambarkan dua sisi tersebut.
Menurut Herbert, gambar-gambar itu “menegaskan pentingnya tatanan masyarakat dengan menunjukkan kekacauan yang bisa terjadi jika tatanan alam dibalik.”
Di sisi lain, manusia pada Abad Pertengahan jauh lebih tergantung pada naluri pembunuh hewan peliharaan mereka dibandingkan saat ini.
Tikus, mencit, dan hama lainnya kala itu lebih sering membawa penyakit, sehingga kucing rumahan menjadi benteng pertahanan penting bagi keluarga.
“Kemampuan mereka menangkap dan membunuh tikus sebenarnya sangat krusial bagi kehidupan yang sehat,” ujar Herbert.
Hewan pengerat kerap mencemari persediaan makanan, memakannya, atau merusak benda berharga seperti kain dan buku.
“Sejak sangat awal, orang-orang menyadari bahwa kucing adalah pembasmi tikus yang sangat andal. Mereka bahkan didefinisikan dalam ensiklopedia pada masa itu berdasarkan kemampuan menangkap tikus,” ujar Herbert.
Akan ada pameran berikutnya
Paws on Parchment merupakan pameran pertama dari tiga pameran bertema hewan yang direncanakan Walters Art Museum dalam dua tahun ke depan.
Pameran ini telah meninggalkan kesan mendalam, baik bagi pengunjung manusia maupun kucing.
Tak lama setelah pembukaannya, bekerja sama dengan Baltimore Animal Rescue and Care Shelter, empat anak kucing asuh berusia enam minggu mendapat tur pribadi.
Herbert bahkan mengadopsi dua di antaranya.
“Ini adalah hasil yang sama sekali tak terduga dan sangat istimewa, dan saya sangat bersyukur mereka berlarian di galeri saya dan meninggalkan jejak cakar di hati saya,” kata Herbert.
Pameran “Paws on Parchment” dapat dikunjungi di Walters Art Museum, Baltimore, hingga 22 Februari 2026.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang