Sejarah Patekoan, Tradisi Delapan Teko Teh Gratis yang Bertahan Ratusan Tahun di Glodok

tradisi Patekoan, Kapitan Gan Djie, Patekoan, Pantjoran Tea House, Apotek Chung Hwa, Gong Fu Cha, Sejarah Patekoan, Tradisi Delapan Teko Teh Gratis yang Bertahan Ratusan Tahun di Glodok, Sejarah Patekoan: Kebaikan Kapitan Gan Djie, Dari Apotek Chung Hwa Menjadi Pantjoran Tea House, Teh sebagai Penyelamat dari Wabah, Merawat Tradisi Gong Fu Cha

Di ujung Jalan Pancoran Raya, Glodok, Jakarta Barat, berdiri sebuah bangunan ikonik yang menjadi gerbang utama kawasan Pecinan. Di sana, sebuah tradisi lama bernama Patekoan terus dihidupkan, menawarkan air teh gratis di dalam delapan teko bagi siapa saja yang melintas.

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas minum teh biasa, melainkan simbol kedermawanan dan persaudaraan yang telah mengakar sejak zaman Batavia.

Sejarah Patekoan: Kebaikan Kapitan Gan Djie

Mengenal tradisi Patekoan tidak lepas dari sosok Kapitan Gan Djie, Kapitan China ketiga di Batavia (1653-1666), dan istrinya, Nyai Gan Djie.

Pada masa itu, cuaca Batavia yang terik membuat para pedagang keliling dan kuli panggul sering kehausan, namun sulit mendapatkan air minum.

Atas usulan Nyai Gan Djie, pasangan ini menyediakan delapan teko teh di depan kantor Kapitan agar masyarakat yang kelelahan bisa melepas dahaga tanpa dipungut biaya.

"Patekoan berasal dari kata Mandarin, 'pa' yang berarti delapan dan 'tekoan' yang berarti teko," sebagaimana dikutip dari narasi sejarah kawasan tersebut.

Secara filosofis, angka delapan dipilih karena bentuknya yang tidak terputus, melambangkan harapan agar keberuntungan terus mengalir bagi penyaji maupun peminumnya.

Dari Apotek Chung Hwa Menjadi Pantjoran Tea House

Kini, tradisi tersebut dirawat oleh Pantjoran Tea House. Bangunan ini awalnya merupakan gedung Winkel The Lun Tai yang dibangun sekitar tahun 1900.

Pada 1928, gedung ini beralih fungsi menjadi Apotek Chung Hwa, toko obat tertua kedua di Jakarta.

Sempat terbengkalai, bangunan ini direvitalisasi pada tahun 2015 melalui inisiasi Lin Che Wei (CEO JOTRC saat itu) dan arsitek Ahmad Djuhara.

Meskipun hanya menyisakan 20 persen bangunan asli, pemugaran selama 8,5 bulan tersebut berhasil mempertahankan arsitektur kolonial yang khas sebagai landmark Kota Tua Jakarta.

Teh sebagai Penyelamat dari Wabah

tradisi Patekoan, Kapitan Gan Djie, Patekoan, Pantjoran Tea House, Apotek Chung Hwa, Gong Fu Cha, Sejarah Patekoan, Tradisi Delapan Teko Teh Gratis yang Bertahan Ratusan Tahun di Glodok, Sejarah Patekoan: Kebaikan Kapitan Gan Djie, Dari Apotek Chung Hwa Menjadi Pantjoran Tea House, Teh sebagai Penyelamat dari Wabah, Merawat Tradisi Gong Fu Cha

Pantjoran Tea House di Glodok, Jakarta Barat menyediakan teh gratis setiap hari.

Menariknya, sejarah teh di Glodok juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1629, ketika Sungai Ciliwung tercemar akibat perang, wabah disentri dan kolera melanda Batavia

Namun, jumlah korban dari warga Tionghoa cenderung sedikit. Setelah diselidiki, tradisi warga Tionghoa yang selalu menyeduh teh dengan air panas secara tidak langsung telah mensterilkan air dan menyelamatkan nyawa mereka dari kuman penyakit.

Merawat Tradisi Gong Fu Cha

Selain menyediakan teh gratis di depan gedung, Pantjoran Tea House juga menjadi pusat edukasi melalui tradisi Gong Fu Cha, yaitu tata cara menyeduh teh tradisional yang penuh presisi.

Berdasarkan panduan teknis yang dipraktikkan, proses ini melibatkan beberapa tahap penting:

  • Sterilisasi: Alat dibilas dengan air panas suhu 90 derajak celsius.
  • Penyeduhan: Menggunakan 5-7 gram daun teh untuk sekitar150 ml air selama 20-30 detik guna mengeluarkan rasa dan aroma.
  • Penyajian: Teh dituang ke cha hai lalu ke cangkir aroma (wenxiang bei) sebelum dipindah ke cangkir teh (cha bei).

Tradisi ini biasanya dilakukan dalam momen spesial seperti permintaan maaf, menghormati orang tua, atau acara lamaran (sanjit).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang