Di Balik Meriahnya Songkran di Thailand, 242 Orang Tewas dalam Sepekan
Perayaan Songkran di Thailand tahun ini kembali menyedot perhatian dunia. Namun di balik kemeriahan festival air yang identik dengan tawa, musik, dan perang air di jalanan, terselip kabar duka.
Sebanyak 242 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tujuh hari perayaan Songkran, berdasarkan data Pusat Operasi Keselamatan Jalan Thailand untuk periode 10–16 April 2026.
Selain itu, tercatat 1.242 kecelakaan lalu lintas dan 1.200 orang luka-luka selama masa yang dikenal sebagai seven dangerous days atau tujuh hari paling berbahaya.
Melansir VnExpress yang mengutip otoritas Thailand menyoroti bagaimana festival yang seharusnya menjadi simbol pembaruan tahun baru justru kembali diwarnai lonjakan angka kecelakaan.
Mayoritas kecelakaan dipicu oleh kecepatan tinggi, disusul perilaku berkendara berisiko dan dominasi penggunaan sepeda motor sebagai moda perjalanan utama selama arus mudik festival.
Di sisi lain, Songkran tetap menjadi salah satu festival paling populer di Asia Tenggara dan magnet wisata internasional.
Lalu, seperti apa sebenarnya festival ini?
Apa Itu Songkran?
Songkran adalah festival Tahun Baru tradisional Thailand yang digelar setiap tahun pada 13–15 April.
Festival ini berakar pada tradisi Buddhis dan kalender matahari, menandai pergerakan matahari memasuki zodiak Aries. Secara etimologis, kata Songkran berasal dari bahasa Sanskerta saṅkrānti yang berarti perpindahan atau transisi.
Awalnya, perayaan ini berfokus pada ritual spiritual seperti membersihkan rumah, berdoa di kuil, memberikan persembahan kepada biksu, menuangkan air ke tangan orang tua sebagai simbol penghormatan, dan memandikan patung Buddha.
Tradisi menyiram air yang kini identik dengan Songkran pada mulanya melambangkan pembersihan diri dari kesialan dan dosa masa lalu.
Dari Ritual Suci Menjadi “Perang Air” Dunia
Dalam perkembangannya, Songkran berubah menjadi festival jalanan terbesar di Thailand.
Kawasan seperti Khao San Road dan Silom Road di Bangkok menjadi pusat perayaan, di mana ribuan warga lokal dan wisatawan asing turun ke jalan membawa pistol air, ember, hingga selang air.
jalan utama ditutup sementara dan berubah menjadi arena perang air massal. Songkran bahkan kerap disebut sebagai “world’s largest water fight” oleh media internasional.
Meski terkesan penuh hiburan, tradisi ini tetap memiliki akar budaya yang kuat, yakni simbol penyucian dan pembukaan lembaran baru.
Mengapa Korban Jiwa Selalu Tinggi?
Setiap tahun, periode Songkran hampir selalu dikaitkan dengan lonjakan kecelakaan lalu lintas.
Thailand sendiri termasuk negara dengan tingkat fatalitas jalan yang tinggi secara global, dan selama Songkran angka tersebut meningkat tajam.
Penyebab utama kecelakaan meliputi, ngebut, mengemudi dalam kondisi mabuk, tidak memakai helm, perjalanan mudik jarak jauh dan kepadatan lalu lintas. Sebagian besar kecelakaan melibatkan sepeda motor.
Karena itu, periode ini dikenal luas di Thailand sebagai “Seven Dangerous Days”.
Istilah tersebut merujuk pada tujuh hari libur Songkran yang secara statistik selalu mencatat lonjakan korban meninggal dan cedera.
Meski dibayangi isu keselamatan, Songkran tetap menjadi salah satu agenda wisata terbesar Thailand.
Festival ini menarik ratusan ribu wisatawan mancanegara setiap tahun dan menjadi salah satu motor penggerak sektor pariwisata negara tersebut.
Songkran 2026 diperkirakan mendatangkan sekitar 500.000 wisatawan asing serta menghasilkan miliaran baht bagi ekonomi Thailand.
Bagi wisatawan, Songkran bukan sekadar perang air, melainkan pengalaman budaya yang memadukan tradisi, spiritualitas, dan kemeriahan kota.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang