Bukan Selatan Jawa, Sumatera–Andaman Justru yang Berpotensi Gempa Megathrust Besar

megathrust, Sumatera, gempa megathrust, Megathrust Sunda, Bukan Selatan Jawa, Sumatera–Andaman Justru yang Berpotensi Gempa Megathrust Besar

Peneliti internasional mengungkap mekanisme tersembunyi yang menjelaskan mengapa gempa-gempa paling dahsyat di zona megathrust Sunda justru banyak terjadi di wilayah Sumatera hingga Andaman, bukan di selatan Jawa.

Temuan ini berasal dari studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature Communications (28/11/2025) berjudul "Bridging the gap between subduction dynamics and the long-term strength of the Sunda megathrust".

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim ilmuwan yang dipimpin Profesor Fabio A. Capitanio dan Dr Thyagarajulu Gollapalli dari Monash University, Australia, bersama sejumlah peneliti internasional lainnya.

Simulasi superkomputer

Riset terbaru yang dilakukan Monash University menunjukkan bahwa segmen Sumatera hingga Andaman memiliki tekanan tektonik paling besar, sehingga berpotensi menjadi lokasi gempa megathrust besar di masa mendatang.

Megathrust Sunda sendiri membentang dari Andaman–Aceh–Sumatera Barat (Mentawai)–Selat Sunda–selatan Jawa– hingga Bali.

Melalui simulasi superkomputer tiga dimensi berperforma tinggi, para peneliti memodelkan dinamika zona subduksi Sunda secara menyeluruh, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Kepulauan Andaman.

Model ini disusun agar sesuai dengan pergerakan lempeng tektonik, kondisi geologi, serta deformasi kerak Bumi yang terukur saat ini.

Hasilnya menunjukkan bahwa tarikan lempeng bumi yang menunjam jauh di bawah Jawa (Java slab pull) menjadi pengendali utama sistem tektonik di seluruh kawasan tersebut.

Tarikan ini memicu aliran mantel di kedalaman Bumi dan mendorong tekanan tektonik ke arah utara, menjangkau Sumatera hingga kawasan Andaman.

Dampaknya, wilayah Sumatera dan Andaman mengalami peningkatan tekanan oblique convergence, pergerakan palung (trench advance), serta penguatan kopling tektonik di sepanjang segmen megathrust tersebut.

Situasi tersebut menyebabkan wilayah-wilayah itu memiliki potensi mengalami gempa bumi dengan kekuatan ekstrem, termasuk yang terkuat di dunia.

Menjawab misteri gempa besar di Sumatera

Selama ini, ilmuwan menghadapi sebuah kejanggalan. Wilayah utara megathrust Sunda, yakni Sumatera dan Andaman, justru kerap menjadi lokasi gempa raksasa, termasuk gempa dan tsunami Sumatera–Andaman 2004 bermagnitudo 9,3.

Padahal, lempeng Bumi yang menunjam di kawasan ini tergolong lebih muda dan secara teori seharusnya tidak menghasilkan gempa sebesar itu.

Nah, dalam simulasi terbaru ini menunjukkan, bahwa tekanan besar tersebut bukan hanya berasal dari kondisi lokal, melainkan dari dinamika lempeng di bawah Jawa yang bekerja seperti jangkar raksasa dan menyeret sistem tektonik di sekitarnya.

Model tekanan menyimpang (deviatoric stress) yang dihasilkan juga konsisten dengan data geodesi, khususnya pola kompresi antargempa (interseismic compression) di Sumatera, serta sejalan dengan orientasi sumbu tekanan gempa (P-axis) yang tercatat secara seismologis.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa segmen megathrust di selatan Jawa justru berperan sebagai semacam penghalang gempa besar.

Tekanan yang sangat kuat di wilayah ini membuat bidang lempeng saling menekan rapat, sehingga peluang terjadinya patahan raksasa menjadi lebih kecil dibandingkan di segmen Sumatera–Andaman.

Para peneliti juga memetakan kekuatan gesekan (frictional strength) di sepanjang megathrust Sumatera–Andaman dan menemukan ambang kritis pada kedalaman tertentu yang secara mengejutkan bertepatan dengan lokasi gempa-gempa besar di masa lalu.

Penting bagi mitigasi bencana Indonesia

Menurut tim peneliti, temuan ini menjadi langkah penting dalam menjembatani pemahaman antara proses subduksi di kedalaman ratusan kilometer dengan risiko gempa besar di permukaan Bumi.

Model ini diharapkan dapat membantu penyempurnaan perkiraan bahaya seismik di Asia Tenggara, khususnya di kawasan megathrust Sunda yang dihuni lebih dari 300 juta penduduk.

Dengan memahami bagaimana dinamika lempeng di bawah Jawa memengaruhi tekanan di Sumatera dan Andaman, para ilmuwan kini memiliki dasar fisik yang lebih kuat untuk menjelaskan pola gempa besar.

Dan pada akhirnya, meningkatkan kesiapsiagaan bencana di kawasan rawan gempa seperti Indonesia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang