Tragis Nasib Xabi Alonso: Datang ke Real Madrid sebagai Bintang, Dipecat akibat Mbappe Membangkang

Xabi Alonso dan Kylian Mbappe
Xabi Alonso dan Kylian Mbappe

 Xabi Alonso kembali ke Real Madrid dengan reputasi mentereng pada Mei 2025. Tiga musim bersama Bayer Leverkusen ia tutup dengan sapu bersih gelar: Bundesliga, DFB Pokal, dan Piala Super Jerman. Sebuah portofolio yang membuat Real Madrid yakin telah memulangkan sosok yang tepat.

Apalagi, Alonso bukan nama asing di Santiago Bernabeu. Ia adalah legenda. Selama periode 2009–2014, pria asal Spanyol itu mencatat 236 penampilan dan mempersembahkan enam trofi untuk Los Blancos.

Namun, kisah indah itu runtuh oleh satu adegan yang menyebar cepat. Kylian Mbappe memberi isyarat agar rekan-rekannya meninggalkan lapangan ketika Barcelona merayakan gelar juara Piala Super Spanyol. 

Dalam video yang beredar, Xabi Alonso meminta para pemain Real Madrdid bertahan. Tapi Mbappe memimpin pasukan menolak perintah Alonso. Dan pada akhirnya, Alonso berbalik badan menuruti kehendak sang bintang.

Tak ada guard of honour untuk Barcelona usai menjuarai Piala Super Spanyol, Minggu lalu. Bagi banyak pihak, itu bukan sekadar soal sportivitas. Itu alarm keras: ruang ganti Real Madrid tak lagi berada di tangan pelatih.

Final memang berlangsung ketat dan ditentukan defleksi. Namun di balik hasil itu, seolah ada kesimpulan pahit yang menggantung di benak Alonso—cukup sudah.

Meski begitu, kepergian ini bukanlah pengunduran diri. Juga bukan rencana. Xabi Alonso tak pernah membayangkan ceritanya di Madrid berakhir hanya tujuh setengah bulan setelah dimulai. Namun di Bernabeu, takdir sering datang tanpa aba-aba.

Dalam pernyataan resmi, Real Madrid menyebut perpisahan ini sebagai hasil “kesepakatan bersama”. Tapi di balik bahasa diplomatis itu, keputusan ini nyaris tak terhindarkan.

Senin sore waktu setempat, jajaran direksi Madrid berkumpul dengan satu agenda: masa depan sang pelatih. Penjelasan yang disampaikan kepada Alonso dan lingkar terdekatnya terdengar kabur. 

Ia disebut gagal menerapkan filosofi yang membuatnya bersinar di Leverkusen. Kondisi fisik tim dianggap tak ideal. Pemain dinilai stagnan. Dan yang paling menyesakkan: mereka disebut tak lagi bermain untuknya.

Daftar kekalahan pun dibuka. PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub. Atletico Madrid di LaLiga dengan skor telak 2-5. Semua dijadikan amunisi.

Padahal, secara angka, Madrid jauh dari kata hancur. Mereka masih berada di delapan besar fase liga Liga Champions, lolos ke babak berikutnya Copa del Rey, dan hanya tertinggal empat poin dari Barcelona di LaLiga—bahkan sempat mengalahkan rival abadinya itu pada Oktober lalu.

Wibawa Xabi Alonso sudah tergerus sejak hari pertama. Ia ingin memulai eranya setelah Piala Dunia Antarklub, bukan sebelumnya. Permintaan itu ditolak. Ia tak diberi waktu menyusun ulang fondasi.

Rekrutan anyar pun tak banyak membantu. Franco Mastantuono, yang digembar-gemborkan sebagai “anti-Lamine Yamal”, tak memberi dampak signifikan.

Krisis Vinicius Junior menjadi titik balik. Performa menurun, gestur protes saat ditarik keluar di El Clasico, lalu permintaan maaf yang datang—kepada semua pihak, kecuali pelatih. Negosiasi kontraknya pun ikut dibekukan.

Cedera menghantam lini belakang. Permintaan Alonso akan gelandang pengatur ritme seperti Martin Zubimendi diabaikan. Tak ada figur kuat yang menyatukan ruang ganti. Bahkan Federico Valverde lebih sibuk memikirkan posisinya sendiri.

Di sisi lain, Mbappe mengejar rekor. Target personal. Bermain meski kondisi fisik belum sepenuhnya pulih demi menyamai torehan Cristiano Ronaldo.

Dalam situasi seperti itu, Xabi Alonso gagal meyakinkan skuad bahwa jalannya adalah jalan yang benar. Tanpa keyakinan, tak mungkin ada pressing tinggi, tempo agresif, atau sepak bola posisional khas Leverkusen.