Mengapa Masyarakat Mesir Kuno Memuja Hewan? dari Pelindung Rumah hingga Penjaga Akhirat

Mesir, Anubis, Mesir Kuno, Mengapa Masyarakat Mesir Kuno Memuja Hewan? dari Pelindung Rumah hingga Penjaga Akhirat, 2. Anjing dan Jakal: Penjaga Gerbang Kematian, 3. Ibis dan Babun: Simbol Intelektualitas, 4. Kuda Nil dan Buaya: Dualitas Teror dan Berkah, 5. Kumbang Scarab: Teknologi Informasi Kuno

Peradaban Mesir Kuno tidak hanya meninggalkan piramida dan sfings, tetapi juga warisan kompleks mengenai hubungan manusia dengan alam. Bagi mereka, batas antara dunia hewan dan dunia ilahi sangatlah tipis.

Hewan-hewan liar maupun domestik dipandang memiliki kualitas atraktif yang ingin ditiru manusia, seperti kekuatan, kemampuan menangkal predator, hingga simbol regenerasi.

Berikut adalah detail mendalam mengenai peran hewan-hewan paling sakral dalam kosmologi Mesir Kuno:

1. Kucing: Penjaga Lumbung dan Pelindung Ibu Hamil

Kucing bukan sekadar peliharaan, melainkan pahlawan ekonomi dan spiritual. Sejak periode Kerajaan Lama (sekitar 4.600 tahun lalu), kucing membantu manusia menjaga persediaan makanan di lumbung dari serangan tikus dan ular.

Secara religius, kucing bertransformasi menjadi Dewi Bastet.

Awalnya ia digambarkan sebagai singa betina yang ganas, namun seiring waktu, citranya melunak menjadi kucing domestik yang melambangkan kesuburan, seksualitas, dan perlindungan bagi wanita hamil serta bayi.

Data menarik muncul dari Pemakaman Kucing di Saqqara, Mesir Utara.

Di sana ditemukan ribuan mumi kucing dari Periode Akhir (664–332 SM). Arkeolog menemukan bahwa hewan-hewan ini sengaja dibiakkan dalam jumlah besar oleh pihak kuil untuk dijual kepada peziarah sebagai persembahan demi mencari berkah dari dewi.

2. Anjing dan Jakal: Penjaga Gerbang Kematian

Jika kucing menjaga kehidupan, anjing dan jakal menjaga kematian. Anubis adalah dewa yang paling menonjol dalam urusan pemulasaraan jenazah.

Sebelum popularitas Dewa Osiris meningkat, Anubis adalah dewa pemakaman utama yang dikaitkan dengan proses pembalseman.

Ia dipuja di seluruh Mesir, terutama di Cynopolis (Kota Anjing).

Penggambaran Anubis yang berwarna hitam pekat memiliki makna ganda:

  • Melambangkan perubahan warna kulit jenazah setelah diawetkan.
  • Melambangkan tanah subur di pinggiran Sungai Nil yang merupakan simbol kelahiran kembali.

3. Ibis dan Babun: Simbol Intelektualitas

Dewa Thoth, sang pencipta tulisan dan pengetahuan, memiliki dua manifestasi hewan: burung Ibis dan Babun.

  • Burung Ibis: Paruhnya yang panjang dan melengkung dikaitkan dengan bulan sabit dan pena bulu milik juru tulis. Di Saqqara, ditemukan lebih dari 1,75 juta kerangka Ibis, sementara di Tuna-el-Gebel ditemukan lebih dari 4 juta mumi burung ini.
  • Babun: Bangsa Mesir mengagumi kecerdasan dan kemampuan komunikasi babun. Uniknya, babun sering digambarkan dalam posisi jongkok dengan cakram bulan di atas kepalanya. Di alam baka, babun Thoth bertugas menjaga "Danau Api" tempat penghakiman jantung manusia dilakukan.

4. Kuda Nil dan Buaya: Dualitas Teror dan Berkah

Kuda nil dan buaya adalah ancaman nyata bagi siapa pun yang melintasi Sungai Nil. Namun, bangsa Mesir memilih untuk "menjinakkan" ketakutan tersebut melalui pemujaan.

  • Sobek (Dewa Buaya): Dipercaya bahwa Sungai Nil berasal dari keringatnya. Sobek adalah simbol kekuatan Firaun dan kesuburan vegetasi. Raja-raja Dinasti ke-12 dan ke-13 bahkan menggunakan nama "Sobeknefru" atau "Sobekhotep" untuk menunjukkan kedekatan dengan sang dewa.
  • Taweret (Dewi Kuda Nil): Berbeda dengan kuda nil jantan yang dianggap kacau (simbol Dewa Seth), kuda nil betina dipuja sebagai Taweret. Ia digambarkan dengan perut buncit (hamil), payudara besar, kaki singa, dan ekor buaya. Artefak berbentuk "tongkat sihir" dari gading kuda nil sering digunakan dalam ritual untuk mengusir kekuatan jahat dari ibu dan anak.

5. Kumbang Scarab: Teknologi Informasi Kuno

Kumbang scarab (Scarabaeus sacer) dianggap sebagai wujud Dewa Khepri, dewa matahari pagi yang menciptakan dirinya sendiri. Kemampuan kumbang ini menggelindingkan bola kotoran dianggap sebagai representasi matahari yang bergerak di cakrawala.

Selain fungsi religius, scarab berfungsi sebagai alat komunikasi atau propaganda:

  • Scarab Peringatan: Digunakan oleh keluarga kerajaan untuk mengumumkan pencapaian besar kepada rakyat (mirip media sosial zaman sekarang).
  • Scarab Jantung: Diletakkan di dalam lilitan mumi dengan ukiran mantra dari Book of the Dead untuk memastikan jantung sang jenazah tidak "berkhianat" atau berbicara jujur tentang dosa-dosanya saat ditimbang oleh para dewa.

Data dari Reading Museum mengungkap bahwa mummifikasi hewan adalah bisnis besar di Mesir Kuno. Mumi-mumi ini sering kali menjadi objek pertukaran antara museum-museum di seluruh dunia.

Penting untuk dipahami bahwa yang disembah bukanlah hewan secara biologis, melainkan energi ketuhanan yang bersemayam di dalamnya. Hewan-hewan ini adalah jembatan, perantara yang membawa doa-doa manusia menuju singgasana para dewa.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang