Pertamina Minta Masyarakat Banda Aceh Tidak Panic Buying, Upayakan Distribusi LPG Semaksimal Mungkin
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun meminta masyarakat yang tinggal di Banda Aceh, Provinsi Aceh supaya tidak panic buying.
Hal tersebut dikatakan Roberth ketika merespons permintaan masyarakat setempat agar stok LPG kembali dipenuhi.
Sebabnya, tidak sedikit warga yang mengeluhkan harga gas melambung dan stoknya sangat langka dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami mengimbau agar masyarakat dapat menggunakan energi atau LPG secukupnya dan jangan panic buying,” ujar Roberth kepada Kompas.com, Sabtu (13/12/2025).
“Kami berusaha semaksimal mungkin agar energi tetap terdistribusi walaupun bertahap dan butuh waktu tambahan,” tambahnya.
Pertamina Patra Niaga Siapkan Skenario Distribusi LPG
Roberth menambahkan, distribusi LPG untuk wilayah Banda Aceh berasal dari Lhokseumawe menggunakan jalur darat.
Namun, Pertamina mengalami kendala dalam pendistribusian gas karena jalur Lhokseumawe ke Banda Aceh masih terisolir dan ada ruas yang belum tersambung.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Pertamina sudah menyiapkan skenario dengan mendistribusikan LPG menggunakan moda transportasi alternatif, yaitu Kapal Roro yang bolak-balik melalui jalur laut dengan rute Lhokseumawe-Banda Aceh.
Roberth menegaskan, pihaknya memberikan upaya terbaik agar kebutuhan energi masyarakat di Banda Aceh dapat tercukupi.
“Tepatnya kemarin siang dengan jalur tempuh alternatif dan moda alternatif (kapal Roro) ini baru sampai di Banda Aceh,” kata Robert.
“Tentunya ini adalah alternatif terbaik saat ini yang dilakukan, walaupun masih perlu pengaturan karena jumlah ter-deliver belum sesuai jumlah permintaan,” tambahnya.
Masyarakat Banda Aceh Mengelih Stok LPG Langka
Sebelumnya, beberapa warga Aceh mengeluhkan stok LPG yang sangat langka dan harga gas yang melambung setelah wilayah Aceh dilanda banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.
Zulfah (29), warga Banda Aceh, mengatakan bahwa LPG biasanya tersedia di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Kendati demikian, stok gas di SPBU menjadi sangat terbatas.
Kepada Kompas.com, Sabtu (13/12/2025), ia juga menunjukkan potret antrean gas yang mengular di Jalan Jenderal Soedirman, Banda Aceh.
Tampak dalam foto, gas sengaja disusun berjejer ke belakang oleh pemiliknya.
“Minggu lalu aku cari gas untuk tabung yang kosong, sampai hari ini belum dapat. Tadi pagi gas yang kedua abis. Hari ini aku ikut antrean gas 5,5 (kg) ada sekitar 300 tabung yang antre. Kuotanya cuma 50 (tabung),” ujar Zulfah kepada Kompas.com, Sabtu (13/12/2025).
“Yang gas 12 kg tadi lumayan banyak, 400 tabung lebih ada kayaknya yang terdistribusi, tapi antreannya sekitar 1.000 tabung,” tambahnya.
Tak hanya Zulfah, Nur (49) yang tinggal di Banda Aceh juga merasakan hal yang sama.
Ia mengatakan, harga makanan di rumah makan dan warung-warung melambung dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga makanan berkisar Rp 3.000 hingga Rp 6.000.
“Bahkan ada yang lebih,” ujar Nur kepada Kompas.com, Senin (15/12/2025).
“Saya disampaikan sama orang jual nasi, dia beli isi tabung gas Rp 300.000 dari biasanya Rp 195.000 hingga Rp 200.000. Ada juga yang beli sampai Rp 370.000,” tambahnya.
Nur menambahkan, tetangga di sekitar rumahnya terpaksa memasak menggunakan tungku dan kayu bakar.
Memasak menggunakan tungku dan kayu bakar sebenarnya tidak mudah di wilayah Banda Aceh karena selain susah, tempat untuk menyalakan api juga tidak ada.
Meski begitu, tidak ada pilihan lain bagi warga untuk bertahan selain menggunakan tungku dan kayu bakar.
“Enggak ada pilihan lain, gas habis, mau antre, antreannya begitu padat, berjubel, ada yang tak sanggup lagi antre, ya pulanglah,” ungkap Nur.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini