Saat Ibu Kehilangan Diri Pasca Melahirkan, Latihan Beban Justru Menyelamatkan Irsani

Irsani, strength training, Saat Ibu Kehilangan Diri Pasca Melahirkan, Latihan Beban Justru Menyelamatkan Irsani, Menyadari banyak miskonsepsi tentang perempuan dan angkat beban, Mengajak orang tua dan lansia untuk berani memulai, Latihan beban tak harus mahal atau ke tempat gym, Membangun budaya kuat di keluarga Indonesia

Tidak semua perjalanan seorang ibu berjalan mulus setelah melahirkan.

Ada yang kembali bugar dalam hitungan bulan, tetapi ada pula yang harus menghadapi perubahan besar pada tubuh, emosi, hingga identitas diri.

Itulah pengalaman yang dilewati Irsani, seorang ibu yang enam tahun lamanya merasa kehilangan dirinya sendiri setelah proses persalinan.

Belum lagi perubahan hormon, kurang tidur, dan naiknya berat badan hingga 15 kilogram membuat emosinya tidak stabil.

Kepada Kompas.com, ia bercerita pada satu titik, ibu dari dua anak ini menyadari ada yang tidak beres.

“Enam tahun jadi ibu, enam tahun juga aku merasa seperti kehilangan diri dan mengalami depresi,” ujarnya.

Konsultasi dengan psikolog menjadi titik awal Irsani menemukan kembali dirinya.

Sang psikolog menyarankan ia kembali bergerak, menggunakan tubuhnya, memberi ruang bagi energi yang stagnan, dan perlahan menata ulang rutinitas.

Saat itulah ia kembali pada hal yang dulu sempat jauh darinya, olahraga.

Strength training (angkat beban) untuk mengenali diri

Awalnya, tujuan Irsani hanya untuk menurunkan berat badan pascapersalinan.

Tetapi setelah mencoba strength training (angkat beban), ia justru menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perubahan fisik.

“Latihan beban bukan hanya mengubah tubuh, tapi pelan-pelan membangun ulang mentalku sebagai seorang ibu,” kata dia.

Di tengah dinamika menjadi ibu, kehilangan waktu pribadi, tuntutan rumah tangga, dan perubahan hormon, 1–2 jam latihan menjadi ruang aman untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

Baginya, itu bukan tindakan egois, tetapi bentuk mencintai diri agar bisa hadir lebih utuh untuk keluarga.

Latihan beban juga membantunya merasa lebih sabar, lebih stabil secara emosional, dan lebih kuat menghadapi tekanan sehari-hari.

Seiring waktu, ia menyebut perjalanannya bukan sekadar olahraga, tetapi “olahrasa”, proses mengenali tubuh, mendengarkan sinyalnya, dan memahami kapasitas diri.

Menyadari banyak miskonsepsi tentang perempuan dan angkat beban

Selama berlatih, Irsani sering bertanya mengapa ia mudah cedera padahal memiliki latar belakang olahraga.

Jawabannya ia temukan setelah mempelajari lebih dalam tentang biomekanik dan perbedaan hormonal perempuan.

Di situ ia melihat masalah yang lebih besar, minimnya edukasi tentang latihan beban di Indonesia.

Beberapa contoh yang sering ia temui antara lain, miskonsepsi bahwa angkat beban membuat berat badan naik, hingga anggapan bahwa perempuan akan terlihat berotot.

Irsani berkaya, beban yang aman sangat bergantung pada kondisi individu, dan latihan beban justru penting bagi perempuan, terutama menjelang menopause, untuk menjaga massa otot, mencegah osteoporosis, hingga mendukung metabolisme.

“Masalahnya bukan cuma di larangannya, tapi tidak ada edukasi lanjutan tentang bagaimana memulai kembali gerak secara aman,” jelasnya.

Irsani, strength training, Saat Ibu Kehilangan Diri Pasca Melahirkan, Latihan Beban Justru Menyelamatkan Irsani, Menyadari banyak miskonsepsi tentang perempuan dan angkat beban, Mengajak orang tua dan lansia untuk berani memulai, Latihan beban tak harus mahal atau ke tempat gym, Membangun budaya kuat di keluarga Indonesia

Latihan beban jadi momen kembali ke diri bagi Irsani. Ia menemukan kekuatan fisik, mental, dan misi edukasi untuk keluarga Indonesia.

Mengajak orang tua dan lansia untuk berani memulai

Salah satu perjalanan paling mengharukan bagi Irsani terjadi ketika seorang teman lansianya, yang juga rekan yoga, memintanya mendampingi latihan di gym.

Awalnya ia ragu karena melatih lansia memerlukan kehati-hatian lebih besar.

Namun komitmen dua arah membuat proses ini berjalan aman dan saling mempercayai.

Mereka selalu mengevaluasi rasa tubuh, menyesuaikan beban, dan memastikan progres yang realistis.

Hasilnya tak hanya membuat sang teman lansia lebih percaya diri, tetapi juga mengurangi nyeri sendi dan meningkatkan kualitas hidupnya.

“Lansia bukan tidak mampu. Mereka hanya jarang diberi kesempatan dan lingkungan aman untuk mencoba,” kata Irsani.

Latihan beban tak harus mahal atau ke tempat gym

Karena menyadari banyak orang tidak punya akses ke gym, baik waktu, biaya, maupun jarak, ia pun menekankan bahwa latihan bisa dimulai dari rumah.

Gerakan dasar seperti squat, hip hinge, push, dan pull sudah cukup untuk membangun fondasi kekuatan.

Selama progresif dan konsisten, otot tetap akan berkembang.

Meski begitu, ia tetap menekankan bahwa konteks setiap orang berbeda.

Untuk individu dengan kondisi medis tertentu atau yang belum pernah latihan sebelumnya, bimbingan langsung tetap penting.

Membangun budaya kuat di keluarga Indonesia

Selain membagikan edukasi di media sosial, Irsani kini menyediakan ebook panduan latihan beban di rumah dan grup WhatsApp diskusi untuk pemula.

Upaya ini ia jalani bersama suaminya, sebagai bentuk inisiatif untuk memudahkan masyarakat memahami latihan beban dengan benar.

Ia bercerita, ingin menjadikan strength training sebagai budaya keluarga Indonesia. Ia ingin latihan beban tidak lagi dianggap milik anak muda atau pecinta gym saja, tetapi menjadi aktivitas lintas generasi, dari anak-anak, orang tua, hingga lansia.

“Strength training bukan hanya membangun otot. Prosesnya mengasah disiplin, konsistensi, dan ketahanan mental,” ucapnya.

Dari perjalanan personal menghadapi depresi pascapersalinan, Irsani menemukan kekuatan baru dalam tubuhnya.

Kini, ia membagikan pengalaman itu untuk mengajak lebih banyak orang merasakan manfaat serupa.

Jika dulu olahraga menyelamatkannya, kini ia berharap gerakan kecil ini bisa membantu lebih banyak ibu, dan siapa pun, menemukan kembali dirinya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang