Langit India Kacau usai Maskapai Penerbangan Terbesarnya Lumpuh
IndiGo, maskapai penerbangan terbesar India dengan pangsa pasar lebih dari 60 persen, tengah menghadapi krisis operasional terbesar sepanjang sejarahnya.
Sejak awal Desember 2025, ribuan penerbangan dibatalkan, ratusan ribu penumpang terlantar, dan seluruh industri penerbangan India terguncang akibat kegagalan IndiGo beradaptasi dengan aturan baru jam kerja dan istirahat pilot.
Kisah memilukan turut muncul dari tengah kekacauan ini. Manjuri, seorang perempuan di India timur laut, terpaksa membawa peti jenazah suaminya dari satu kota ke kota lain demi mengejar penerbangan ke Kolkata untuk upacara terakhir.
Namun, penantiannya berujung hampa ketika penerbangan IndiGo mengalami penundaan berjam-jam sebelum akhirnya dibatalkan. Ia hanyalah satu dari ratusan ribu penumpang yang perjalanan pentingnya berantakan.
Ribuan penerbangan di India batal
Kekacauan dimulai pada 2 Desember 2025 ketika penundaan penerbangan perlahan berubah menjadi gelombang pembatalan massal.
Pada 5 Desember saja, lebih dari 1.600 penerbangan batal dalam satu hari, salah satu gangguan penerbangan domestik terbesar di India dalam hitungan tahun.
Media India melaporkan total pembatalan mencapai 2.000 hingga 4.000 penerbangan sejak awal krisis.
Di bandara-bandara besar seperti Delhi, Mumbai, Bengaluru, dan Hyderabad, ratusan penerbangan lenyap dari jadwal, meninggalkan ribuan penumpang tidur di lantai terminal, antre refund, atau berebut tiket alternatif.
Akar masalah: Aturan baru istirahat pilot yang tak disiapkan
Masalah utama berasal dari aturan baru Flight Duty Time Limitations (FDTL), yang diperkenalkan pemerintah India pada 2023 dan diberlakukan bertahap hingga 1 November 2025.
Aturan ini dibuat untuk mengatasi kelelahan pilot, isu krusial yang telah lama disuarakan serikat pilot dan regulator.
Beberapa ketentuan kunci FDTL:
- Waktu istirahat mingguan pilot bertambah dari 36 jam menjadi 48 jam.
- Jumlah pendaratan malam dibatasi hanya dua kali per minggu.
- Terbang malam dibatasi maksimal 10 jam.
- Maskapai wajib mengirim laporan kelelahan pilot tiap kuartal.
Maskapai lain seperti Air India dan Akasa Air telah beradaptasi. Namun IndiGo, dengan 2.200 penerbangan harian dan lebih dari 100 juta penumpang tahunan, gagal menyesuaikan diri.
Federation of Indian Pilots menuduh IndiGo melakukan:
- pembekuan perekrutan pilot,
- kesepakatan non-perekrutan antar maskapai,
- pembekuan gaji,
- dan “perencanaan jangka pendek yang sangat buruk”
Akibatnya, ketika aturan berlaku penuh, IndiGo tak memiliki cukup pilot yang memenuhi syarat istirahat. Hampir separuh armadanya harus berhenti beroperasi.
Para pakar menyebut kegagalan ini sebagai “salah kelola monumental” untuk maskapai sebesar IndiGo.
Terlalu fokus pada ekspansi dan efisiensi
IndiGo selama ini dikenal dengan operasi yang efisien dan murah. Namun, strategi itu justru menciptakan kerentanan ketika regulasi berubah.
Beberapa pilot yang diwawancarai BBC menyebut manajemen IndiGo terlalu fokus pada penghematan biaya hingga mengabaikan risiko kelelahan.
Pesawat IndiGo Airlines dari India yang mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali, Jumat (29/3/2024). Pesawat ini melayani rute Bengaluru-Denpasar.
Sementara itu, ekspansi agresif ke rute internasional diduga membuat manajemen lengah terhadap hal-hal teknis, seperti kepatuhan waktu istirahat.
Pendiri Air Deccan, GR Gopinath, menyebut dominasi IndiGo membuatnya terlena:
“Pada dasarnya mereka adalah monopoli. Dan monopoli membawa sikap masa bodoh,” ujar dia dilansir dari BBC.
Langit India kacau
Dengan dominasi hingga 65 persen pasar domestik, gangguan IndiGo dengan cepat merembet ke seluruh industri:
- Harga tiket meroket tajam akibat minimnya kursi tersedia.
- Maskapai lain seperti Air India dan SpiceJet mulai menambah jadwal penerbangan.
- Pemerintah terpaksa membatasi tarif penerbangan di rute-rute tertentu agar tidak terjadi profiteering.
- Ribuan penumpang dialihkan ke moda kereta.
Permintaan tinggi di musim perjalanan akhir tahun membuat efek krisis semakin besar.
Teguran keras hingga investigasi dari pemerintah
Pemerintah India bertindak cepat dengan:
- memerintahkan penyelidikan tingkat tinggi,
- memberikan pengecualian sementara aturan hingga 10 Februari,
- memperingatkan akan ada “tindakan sangat tegas”,
- dan memaksa IndiGo memotong jadwal 5 persen.
Regulator penerbangan DGCA juga mengirim surat keras kepada CEO IndiGo, menyatakan maskapai telah gagal memastikan operasi yang andal.
Namun serikat pilot mengecam pengecualian tersebut, menyebutnya mengancam keselamatan publik.
Pemulihan butuh waktu bertahun-tahun
CEO Pieter Elbers mengakui kegagalan perencanaan dan menyatakan maskapai menargetkan operasi kembali normal antara 10–15 Desember. IndiGo juga memberikan:
- pengembalian dana penuh,
- penjadwalan ulang gratis,
- dan penguatan layanan pelanggan.
Namun survei LocalCircles menunjukkan 54 persen penumpang mengalami masalah ketepatan waktu IndiGo dalam 12 bulan terakhir, menunjukkan reputasi maskapai sudah lebih dulu menurun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang