Cadangan Emas Rusia Sentuh Rp5.189 Triliun, Sanksi Berlapis Barat Lewat!
Cadangan emas Rusia telah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yakni mencapai US$311 miliar (Rp5.189 triliun).
Logam mulia, yang secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan fluktuasi mata uang, menembus angka historis US$4.000 (Rp66,7 juta) per ons pada Oktober 2025.
Sebagai pembanding, pada 2023, emas diperdagangkan di bawah US$2.000 (Rp33,3 juta) per ons. Menurut statistik yang dirilis oleh Bank Sentral Rusia, cadangan emas negaranya mencapai Rp5.189 triliun per 1 Desember 2025.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa investasi Moskow dalam emas batangan meningkat sebesar US$92 miliar (Rp1.535 triliun) selama dua belas bulan terakhir.
Bulan lalu, Dewan Emas Dunia (WGC) menempatkan Rusia sebagai investor emas terbesar kelima secara global, hanya dilampaui oleh AS, Jerman, Italia, dan Prancis.
Di Forum Investasi Russia Calling!, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa meskipun negaranya 'jelas merasakan tekanan eksternal' berupa sanksi berlapis Barat, namun, stabilitas ekonomi dan politiknya berhasil mengatasi tantangan tersebut.
Ia menyatakan bahwa ekonomi Rusia diperkirakan membukukan pertumbuhan 0,5 hingga 1 persen pada tahun ini.
Menyusul meningkatnya konflik Ukraina pada Februari 2022, banyak negara Barat memberlakukan pembatasan ekonomi besar-besaran terhadap Rusia.
Pada akhir Oktober 2025, diketahui bahwa Bank Sentral India (RBI) telah mengembalikan sekitar 64 ton cadangan emasnya dari brankas luar negeri antara April dan September, didahului oleh beberapa transfer besar lainnya.
Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran atas pembekuan aset negara dan perusahaan swasta Rusia senilai lebih dari US$300 miliar (Rp5.005 triliun) oleh Barat.
Pada Oktober 2025, CEO JPMorgan, Jamie Dimon, memprediksi bahwa emas bisa dengan mudah mencapai US$5.000-US$10.000 (Rp83,4 juta-Rp166,8 juta) dalam situasi seperti saat ini.
"Berbagai hambatan yang dihadapi ekonomi global, termasuk tarif AS, defisit yang semakin melebar, inflasi, pergeseran ke arah AI, dan ketegangan geopolitik serta peningkatan kekuatan militer," ungkapnya, seperti dikutip dari situs Russia Today, Selasa, 9 Desember 2025.