4 Dugaan Penyebab Ribuan Ikan Mati di Perairan Sayung Demak, Apa Saja?

Ribuan hingga puluhan ribu ekor ditemukan mengambang dan mati di perairan Desa Bedono, Kecamatang Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena yang menghebohkan masyarakat Sayung itu menjadi viral setelah dibagikan oleh akun Instagram @infodemakraya.
“Dalam tiga hari terakhir warga Sayung Demak dihebohkan matinya ikan laut secara misterius, yang mencapai ribuan hingga puluhan ribu ekor,” tulis akun tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup dan Guru Besar Undip pun bagikan dugaan penyebabnya.
Kata DLH soal dugaan imbas pembangunan jalan tol
Sudarwanto, sekretaris DLH Kabupaten Demak, mengatakan bahwa kejadian ribuan ekor ikan mati itu terjadi di di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Tepatnya, di kolam retensi penampungan lumpur, bukan tambak produktif milik warga.
Saat fenomena itu muncul, berkembang dugaan awal penyebab yang mengatakan ikan mati karena perubahan sanitasi air akibat sirkulasi air laut dan payau yang terhambat pembangunan Tol Semarang–Demak.
“Belum, itu kan gini, tapi jangan dulu dijadikan kesimpulan. Kalau menurut teori, karena tolnya sudah nyambung, dia otomatis jadi cekungan yang tidak bisa air laut masuk atau bertukar dengan air payau. Sehingga ya gitu, sanitasi berubah, suhu juga berubah, kaget,” ujarnya, dilansir dari , Jumat (28/11/2025).
Dugaan dari Guru Besar Undip
Dicukil dari pemberitaan Tribunnews, Senin (1/12/2025), Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Munasik, memberikan empat dugaan penyebab ribuan ekor ikan mati di Sayung, Demak tersebut.
Pertama, adalah karena adanya penurunan kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO).
“Ikan itu tahu kalau ada perubahan kualitas air, mereka akan lari ke laut lepas. Tapi ada kemungkinan terjebak pada satu titik, sehingga ikan-ikan tersebut tidak bisa menyelamatkan diri dan mati,” jelasnya, Minggu (30/11/2025).
Selain itu, hujan lebat yang membawa organisme organik dari daratan serta keberadaan kolam retensi dapat memperparah penurunan kadar oksigen.
“Adanya kolam retensi itu akan mengurangi sirkulasi air yang mengandung bahan organik, sehingga membuat ikan muncul ke permukaan dan mati,” katanya.
Dugaan berikutnya, terkait munculnya bau menyengat yang menandakan adanya sedimen akibat pencemaran akut.
“Pencemaran bisa datang dari mana saja. Bisa dari run off air daratan, apakah memang ada limbah konstruksi, dan sebagainya,” ujarnya.
Terakhir atau keempat, tingginya nutrien setelah hujan juga dapat memicu ledakan fitoplankton atau alga beracun.
“Jadi ada potensi alga blooming beracun yang bisa menyebabkan racun bagi ikan sehingga menimbulkan kematian,” tambahnya.
Karena penyebab masih berupa dugaan, Prof Munasik menegaskan agar fenomena kematian ribuan ekor ikan ini perlu ada penanganan cepat dan kebijakan yang jelas terkait kejadian ini agar ekosistem perairan tak rusak di masa mendatang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang