Anemia Defisiensi Besi Turunkan Kecerdasan Anak
Penyakit anemia masih dianggap sebagai hal yang sepele oleh masyarakat. Padahal, anemia bukan sekadar kurang darah yang membuat tubuh lemah, tapi juga berpengaruh pada kecerdasan anak.
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Ditegaskan oleh dokter spesialis anak Devie Kristiani, anemia yang dibiarkan akan menghambat tumbuh kembang anak, menurunkan daya tahan tubuh, hingga memengaruhi kecerdasan dan prestasi belajar.
“Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak," kata dr.Devie.
Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibanding anak dengan kadar zat besi yang cukup.
Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka belajar di sekolah dan performa akademik dalam jangka panjang.
"Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi dimulai dari periode ASI Ekslusif untuk memenuhi kecukupan zat besi pada awal tahap kehidupannya,” jelas dokter yang berpraktik di RS Bethesda Yogyakarta ini.
Kampanye kecukupan zat besi untuk anak dalam rangka Iron Deficiency Anemia (IDA) Awareness Day yang diadakan oleh Sari Husada.
Gejala anemia tidak disadari
Menurut dr. Devie, gejala anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif.
Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu).
Kekurangan zat besi pada anak umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang rendah zat besi, penyerapan zat besi yang tidak optimal, atau kehilangan darah akibat infeksi kronis.
Beberapa kelompok anak memiliki risiko lebih tinggi, seperti bayi prematur, anak dengan ibu yang anemia selama kehamilan, serta anak yang makanan pendukung ASI-nya minim zat besi. Infeksi berulang seperti cacingan juga turut memperparah kondisi anemia pada anak.
“Dalam pencegahan anemia defisiensi besi, dibutuhkan tindakan preventif dimulai dari rutin melakukan pengecekan status kecukupan zat besi dengan skrining atau deteksi dini dan mencukupi kebutuhan nutrisi yang kaya akan zat besi," kata dr.Devie.
Pencegahan anemia
pencegahan dan penanganan anemia defisiensi besi perlu pendekatan menyeluruh, termasuk edukasi gizi kepada orangtua, fortifikasi makanan, serta skrining dini di fasilitas kesehatan.
Menurut dr.Devie, pencegahan anemia dari rumah dimulai dengan edukasi gizi kepada orangtua agar memperhatikan asupan makanan yang mengombinasikan sumber zat besi dengan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan.
"Pastikan kecukupan nutrisi sehari-hari dan jika diperlukan bisa diberikan makanan tambahan yang difortifikasi zat besi," katanya.
Makanan sumber zat besi untuk anak-anak sebenarnya tidak susah dan tidak mahal, misalnya hati, telur, ikan, kacang-kacangan, serta sayuran hijau.
11 miligram zat besi per hari untuk anak di bawah usia 1 tahun dan sekitar 7 miligram untuk anak usia 1-3 tahun.
Memberikan suplemen zat besi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, terutama bagi anak prematur atau berisiko tinggi, juga direkomendasikan.
Dokter Devie juga mengingatkan pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak untuk memastikan kecukupan nutrisinya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang