Bahaya Tersembunyi Kekurangan Zat Gizi Mikro pada Anak

zat gizi mikro, kekurangan zat gizi mikro, Bahaya Tersembunyi Kekurangan Zat Gizi Mikro pada Anak

Selain zat gizi makro seperti karbohidrat, lemak, dan protein, tubuh juga membutuhkan zat gizi mikro. Kekurangan zat gizi ini dapat berdampak panjang pada tingkat kecerdasan anak.

Seperti namanya, zat gizi mikro adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, misalnya saja zat besi atau vitamin. Meski jumlahnya sedikit, tetapi kekurangan zat gizi mikro bisa berpengaruh besar pada kesehatan. 

Menurut penjelasan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak, Prof.Rini Sekartini Sp.A(K), kekurangan zat mikro sering luput dari pantauan orangtua karena tidak selalu menunjukkan gejala fisik yang kentara pada masa awal pertumbuhan.

"Namanya juga mikro jadi nggak kelihatan ya. Salah satu zat gizi yang disebut mikro adalah zat besi," kata dr. Rini di Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

Kekurangan zat besi berisiko turunkan fungsi kognitif

Zat besi berperan penting dalam memproduksi hemoglobin untuk mendistribusikan oksigen ke seluruh bagian otak. Kekurangan pasokan oksigen ini berdampak pada penurunan fungsi kognitif anak secara permanen.

"Zat besi itu paling banyak dibicarakan. Karena kalau dia anemia defisiensi besi, dia bisa diobati, tapi kalau terlambat bisa memberikan dampak tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata," papar dr. Rini.

Mengonsumsi suplemen besi memang bisa menaikkan kadar hemoglobin di dalam darah. Namun, hal itu tidak selalu bisa memperbaiki kemampuan otak yang sudah telanjur menurun akibat terlambat ditangani.

"Jadi kalau kita periksa lab kadar hemoglobinnya bisa meningkat, tapi belum tentu IQ yang sudah rendah itu bisa catch up dengan perbaikan zat besi," sebut dr. Rini.

Ia mengatakan, risiko kekurangan zat gizi mikro bisa dimulai sejak bayi lahir, misalnya bayi lahir dengan berat rendah dan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup dari ASI atau pun makanan pendamping ASI (MPASI). 

Kecukupan nutrisi makro dan mikro ini harus dipenuhi pada usia dua tahun pertama. Jika anak mengalami kekurangan gizi, tanda fisik yang utama bisa dilihat dari berat badan dan tinggi badannya yang lebih rendah dari usianya.

zat gizi mikro, kekurangan zat gizi mikro, Bahaya Tersembunyi Kekurangan Zat Gizi Mikro pada Anak

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K), di Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

Paradoks kekurangan vitamin D di negara tropis

Selain zat besi, vitamin D adalah komponen gizi mikro lain yang banyak diabaikan orangtua. Vitamin ini berfungsi mengoptimalkan metabolisme tulang dan memperkuat daya tahan tubuh balita.

Paradoks justru terjadi di Indonesia. Berada di wilayah beriklim tropis yang dilimpahi cahaya matahari, banyak anak di dalam negeri justru terdiagnosis kekurangan vitamin D.

"Penelitian kami di lapangan, anak-anak Indonesia, bayi balita, banyak yang defisiensi vitamin D. Padahal negara kita mataharinya banyak," ungkap dr. Rini.

Krisis gizi mikro ini bermula dari kebiasaan menutupi kulit anak secara berlebihan saat berada di luar rumah. Aksesori tambahan seperti jaket atau topi justru menghalangi penyerapan ultraviolet B yang bertugas menstimulasi produksi vitamin D alami.

Sinar matahari pagi antara pukul 08.00-09.00 sangat direkomendasikan untuk kesehatan tulang balita. Menghalangi kontak langsung antara kulit dan sinar matahari akan mengganggu proses pembentukan tulang si kecil.

"Sehingga paparan sinar matahari tidak masuk karena dia penting untuk metabolisme di dalam tulang," ucap dr. Rini.

Status gizi menentukan kekuatan imunitas anak

Pemenuhan zat gizi mikro sama pentingnya dengan makro karena turut menentukan seberapa kuat daya tahan tubuh anak.

"Imunitas tubuh itu sangat dipengaruhi oleh status gizi. Anak yang gizi buruk dan gizi kurang status imunnya lebih rendah daripada anak normal," jelas dr. Rini.

Kondisi serupa juga berlaku bagi balita yang memiliki berat badan berlebih. Terdapat anggapan keliru di masyarakat bahwa anak bertubuh gemuk selalu memiliki daya tahan tubuh yang prima.

"Demikian juga anak dengan gizi obesitas. Itu bukan berarti dia lebih baik status imunnya. Jadi yang memang bagus adalah yang gizinya normal atau sesuai dengan usianya," tambah dr. Rini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang