Kulon Progo Akan Memiliki Venue Paralayang Desember 2025
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo tengah menuntaskan pembangunan fasilitas landasan pacu (take-off) untuk olahraga paralayang di Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Proyek di puncak Giri Sembung itu ditargetkan selesai dalam waktu dekat dan mulai dapat digunakan pada bulan depan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas ini telah memasuki tahap akhir kontrak. Jika tidak ada kendala, landasan pacu tersebut dapat dioperasikan segera.
“Diharapkan bulan depan sudah bisa beroperasi,” ujar Sutarman, Minggu (23/11/2025).
Meski fasilitas hampir rampung, waktu pelaksanaan kejuaraan paralayang di lokasi baru bisa terwujud.
Sutarman memperkirakan kegiatan kompetitif maupun aktivitas paralayang lainnya baru mulai berlangsung tahun depan.
Proyek pembangunan landasan pacu ini dikerjakan selama sekitar 150 hari sejak Juli 2025. Fasilitas yang dibangun berupa area datar luas sebagai titik lepas landas bagi atlet atau pilot paralayang.
“Kontrak pembangunan sudah hampir selesai. Jalan sepanjang 800 meter yang dilalui alat berat sempat rusak, dan saat ini sedang dalam proses perbaikan. Setelah itu, fasilitas akan kami lakukan launching untuk bisa digunakan,” kata Sutarman.
Landasan pacu paralayang di atas bukit
Area take-off berada di sebuah bukit, sementara area pendaratan berada di lapangan di samping balai desa, yang dapat terlihat jelas dari lingkungan sekitarnya.
Pemerintah berharap fasilitas ini mampu mendukung pengembangan wisata minat khusus, terutama olahraga udara, sekaligus meningkatkan potensi penyelenggaraan event paralayang di masa depan.
Pegiat paralayang dan paramotor terbang dari lapangan Boro berlatar puncak Giri Sembung di Padukuhan Sumbersari, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Puncak Giri Sembung mulai dikenal para pegiat paralayang sejak 2021. Bukit ini memiliki jalur meluncur yang panjang dan dinilai ideal setelah melalui sejumlah uji coba. Landasan pacu kemudian dibangun beberapa tahap.
Lokasi ini memanfaatkan angin yang menabrak bukit dan bergerak naik, menciptakan kondisi ideal bagi paralayang. Pemandangan dari udara juga menawan; pada cuaca cerah saat pagi hingga siang, pilot dapat melihat Gunung Merbabu dan Merapi.
Suhu udara relatif lebih sejuk dibanding Parangtritis, serta aspek keselamatan terbang dinilai baik karena tidak berada di jalur penerbangan komersial. Area landing yang luas di Lapangan Boro, serta keberadaan rumah sakit dan puskesmas yang dekat, menjadi nilai tambah.
Secara teknis, lokasi ini memiliki kecepatan angin yang stabil dan cocok untuk paralayang dengan durasi terbang lebih lama.
Selain itu, area ini dapat digunakan hingga sekitar delapan bulan dalam setahun, jauh lebih panjang dibanding Gunungkidul yang rata-rata hanya memungkinkan penerbangan selama tiga bulan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.