Pronosutan di Kulon Progo, Jalur Jogging dengan View Sawah dan Menoreh
Aktivitas lari dan jogging kian berkembang di kawasan persawahan Pronosutan, Kalurahan Kembang, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jalan yang dilintasi para pelari itu di sana dalunya merupakan jalan tani kini menjadi lintasan favorit warga untuk berolahraga.
Hamparan sawah yang terbentang sejauh mata memandang, dipadukan dengan barisan Perbukitan Menoreh di kejauhan, menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik visual tersendiri.
Tak sedikit pengunjung yang datang pada akhir pekan atau hari libur untuk berlari, jogging, bersepeda, atau sekadar berjalan santai menikmati suasana pedesaan, saat pagi hari.
Salah satu pegiat lari dari Sleman, Tri Kustanto, menilai kawasan Pronosutan berpotensi menjadi lokasi favorit komunitas lari. Ia sendiri mengaku kerap lari di jalur tersebut karena suasana alamnya yang berbeda dari rute lari di kawasan perkotaan.
“Yang paling menarik menurut saya itu hamparan sawah hijau yang luas di tengah jalur lari,” kata Tri, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, pengalaman berlari di ruang terbuka dengan lanskap persawahan memberikan sensasi yang lebih menyenangkan dibandingkan lintasan perkotaan. Jalur di kawasan ini juga memiliki kontur ringan dengan pandangan terbuka tanpa banyak penghalang, sehingga tidak membosankan karena pemandangan terus berganti.
Salah satu rute yang bisa dinikmati adalah rute yang menghubungkan Lapangan Kembang, kawasan persawahan Pronosutan, hingga kembali ke lapangan melalui Pasar Kenteng memiliki jarak sekitar 5–6 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 25–30 menit bagi pelari rekreasional.
“Kadang kesulitannya hanya di waktu lewat pasar yang padat,” katanya.
Ia juga menilai beberapa bagian lintasan masih perlu penyempurnaan agar lebih nyaman digunakan pelari, terutama pada beberapa titik semenisasi yang mulai mengalami kerusakan.
“Kalau jalannya diperhalus lagi, bisa jadi destinasi lari yang lebih menarik,” tambahnya.
Tri menyebut waktu terbaik untuk menikmati lintasan Pronosutan adalah pada pagi hari sebelum matahari meninggi. Selain udara yang masih sejuk, kondisi tersebut juga lebih nyaman untuk menjaga ritme detak jantung saat berlari.
“Paling enak sekitar setengah enam sampai jam tujuh pagi. Setelah itu matahari mulai tinggi dan cukup berpengaruh,” katanya.
Selain relatif sepi kendaraan bermotor, kawasan ini juga dinilai aman dan nyaman untuk aktivitas olahraga di ruang terbuka, udaranya masih bersih dan segar.
Penikmat jogging lainnya, Rika Wulan Marheni, juga merasakan hal serupa. Tenaga kesehatan RSUD Wates itu menikmati rute sepanjang sekitar 5,6 kilometer lewat sawah dan panorama Menoreh.
Menurut Rika, daya tarik utama Pronosutan terletak pada pemandangan alamnya yang terbuka, sehingga memberikan pengalaman berolahraga sekaligus rekreasi visual.
“Setiap beberapa titik kami sempat berhenti untuk foto dan video dengan background sawah dan Pegunungan Menoreh,” kata Rika.
Selain hobi berlari, Rika juga memiliki kegemaran mendaki gunung, sehingga suasana alam terbuka menjadi nilai tambah tersendiri baginya.
Ia menilai Pronosutan sangat potensial sebagai kawasan wisata olahraga karena menawarkan udara segar dan lanskap yang berbeda dari jalur perkotaan.
“Enggak terasa capek karena terbayar dengan pemandangannya,” katanya.
Rika juga menyarankan waktu terbaik untuk berlari di kawasan tersebut adalah sekitar pukul 06.00 WIB, saat udara masih sejuk dan sinar matahari belum terlalu terik.
“Jam enam itu paling cocok karena masih sejuk. Lewat jam tujuh biasanya mulai panas,” kata Rika.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang