Pramono: Ondel-ondel Tidak Digunakan untuk Ngamen!
Di tengah derasnya arus modernisasi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya, terutama ketika tradisi lisan seperti cerita rakyat mulai kehilangan tempatnya di tengah masyarakat.
Namun, Pramono tidak hanya menegaskan komitmennya melestarikan cerita rakyat, tetapi juga menyampaikan pandangannya yang tegas mengenai keberadaan ondel-ondel di ruang publik. Seperti apa? Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Pramono memulai dengan menekankan bahwa Balai Kota siap menjadi ruang yang hidup bagi kegiatan budaya, termasuk pengumpulan dan pembukuan cerita rakyat dari seluruh provinsi bersama anak-anak Jakarta. Baginya, cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi karakter bangsa.
“Sebagai Gubernur Jakarta saya ingin cerita-cerita rakyat itu tidak hanya menjadi legenda masa lalu. Tetapi sebenarnya spiritnya, kejujurannya, kerja kerasnya, gotong royongnya, budayanya, etikanya, sopan santunnya, tutur katanya, dan sebagainya, inilah yang menguatkan cerita-cerita rakyat,” ujarnya di acara Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang digelar Navaswara di gedung Kemendikbud, Jakarta, baru-baru ini.

Ia juga menyinggung beberapa legenda Nusantara seperti Timur Mak, Sangkuriang, Anjenong, dan Timun sebagai contoh kekayaan sastra lisan yang harus terus dihidupkan. Pramono bahkan membandingkannya dengan cerita populer internasional.
“Begitu tadi ditampilkan dari berbagai cerita rakyat seperti Timur Mak, Sangkuriang, Anjenong, Timun, kalau anak sekarang mungkin Harry Potter. Nah yang seperti inilah mari kita kembali kita hidupkan, karena legenda-legenda cerita rakyat ini luar biasa. Apalagi dengan arus gawai dan digital banyak sekali, kalau kita tidak hati-hati kita akan kehilangan identity,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa identitas utama Jakarta sebagai daerah khusus — sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2024 — berakar kuat pada budaya Betawi. Oleh karena itu, berbagai fasilitas publik kini mulai menampilkan ornamen dan simbol budaya Betawi.
Namun pernyataan paling mencuri perhatian hadir ketika Pramono membahas soal ondel-ondel. Tidak seperti praktik yang sering ditemui di jalanan, ia menegaskan bahwa ikon budaya Betawi tersebut tidak seharusnya digunakan untuk mengamen.
“Dan saya termasuk yang berkeinginan yang namanya ondel-ondel itu tidak digunakan untuk ngamen, tapi ondel-ondel memang kita buat untuk menjadi geranda suatu budaya one melting pot, budaya campuran yang dimiliki oleh Betawi,” tegasnya.
Pramono lalu menjelaskan bahwa budaya Betawi adalah hasil percampuran banyak budaya internasional dan lokal, sehingga tampilannya selalu kaya warna dan penuh karakter.
“Salah satu kelebihan budaya Betawi ini adalah budaya yang mengadaptasi berbagai budaya-budaya internasional maupun budaya lokal. Maka kenapa kalau budaya Betawi pasti pakaiannya itu ngejreng, beraneka warna, termasuk kebaya encim warnanya itu pasti warna yang menarik,” ungkapnya.
Ia menutup pesannya dengan harapan besar agar cerita rakyat dari Sabang sampai Merauke terus dijaga, dituliskan, dan diwariskan lintas generasi.
“Maka dengan begini saya sungguh berharap dari Sabang sampai Merauke, kita jadikan bersama-sama cerita-cerita rakyat yang masih ada dan tumbuh, kalau perlu kita bukukan bersama,” tutupnya.
Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025
Acara puncak festival ini diselenggarakan pada 15 hingga 16 November 2025 di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat. Tercatat 223 peserta yang mendaftar terdiri dari siswa dan guru.
Setelah melalui proses kurasi dan seleksi ketat, akhirnya terpilih 131 yang lolos mengikuti Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025.
“Suara Nusantara hadir sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kekayaan cerita rakyat tersebut. Lewat acara mendongeng, anak-anak diajak menyelami kisah-kisah bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada warisan budaya yang berharga,” ujar Cahaya Manthovani, Ketua Panitia Suara Nusantara.
Tujuannya, sambung perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) ini, agar cerita Nusantara kembali hidup dan menggema di telinga anak-anak.
"Harapannya, mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga merasakan kedekatan dengan Tanah Air, serta membawa nilai-nilai kebaikan itu dalam perjalanan hidupnya,” tambahnya.