Rusia Tetap Tersenyum

Ilustrasi kilang minyak.
Ilustrasi kilang minyak.

India mempertahankan posisinya sebagai pembeli minyak mentah Rusia terbesar kedua pada Oktober 2025 setelah China, menurut data dari lembaga pemikir Uni Eropa (UE), seperti dikutip dari situs Russia Today, Senin, 17 November 2025.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil, produsen minyak terbesar Rusia, pada 22 Oktober 2025 untuk menekan Moskow agar mengakhiri konflik Ukraina.

Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) mengatakan dalam analisis bulanannya mengenai ekspor bahan bakar fosil Rusia, yang dirilis pada 13 November 2025, bahwa India menghabiskan US$2,9 miliar (Rp48,5 triliun) untuk minyak mentah Rusia pada bulan lalu, yang mencakup 81 persen dari pembelian bahan bakar fosil New Delhi dari Moskow.

Impor minyak mentah Rusia oleh India mencatat peningkatan sebesar 11 persen secara bulanan pada Oktober, menurut laporan tersebut. CREA juga mencatat peningkatan sebesar 8 persen secara bulanan dalam total impor.

Meskipun impor kilang swasta mencapai lebih dari dua pertiga total impor India, kilang milik negara hampir menggandakan volume impor Rusia mereka secara bulanan pada bulan kemarin.

Kilang Vadinar di negara bagian Gujarat, India barat, yang dikenai sanksi UE dan sebagian dimiliki oleh Rosneft, dilaporkan meningkatkan kapasitas produksi hingga 90 persen pada Oktober 2025.

Laporan CREA mengatakan bahwa setelah sanksi Uni Eropa pada Juli lalu, kilang tersebut hanya mengimpor minyak mentah dari Rusia.

Bulan kemarin, impor minyak mentah India dari Rusia mencatat peningkatan sebesar 32 persen dari bulan ke bulan (MoM), mencapai volume tertinggi sejak Februari 2022.

Namun, ekspor dari kilang minyak mentah tersebut telah turun ke level terendah sejak Mei 2023. Pada September lalu, 34 persen impor minyak India berasal dari Rusia, menurut data Kpler.

Artinya, rata-rata, sekitar 1,8 juta barel minyak Rusia mencapai India per hari di bulan kesepuluh. AS telah mengenakan tarif dagang sebesar 50 persen pada India, termasuk 25 persen sebagai pungutan timbal balik dan sisanya sebagai tindakan hukuman atas impor minyak mentah Rusia.