LALIGA Paling Kompetitif di Eropa, "Circle of Parity" Jadi Buktinya
Laga American Footbal akan mampir di markas Real Madrid, Santiago Bernabeu. Momen ini terasa pas karena “Lingkaran Kesetaraan” atau Circle of Parity sudah tercipta di LALIGA 2025-2026.
Partai NFL, liga profesional American Football ternama AS antara Miami Dolphins vs Washington Commanders dijadwalkan bergulir di markas Real Madrid, Santiago Bernabeu pada 16 November 2025.
Momen kehadiran laga tersebu terasa pas dengan terciptanya “Lingkaran Kesetaraan” atau Circle of Parity di LALIGA 2025-2026.
Circle of Parity adalah idiom yang sebelumnya banyak dipakai di ranah NFL.
Lingkaran kesetaraan adalah rantai hasil pertandingan yang saling terhubung, yakni ketika satu tim bisa mengalahkan tim lain dalam sebuah kompetisi, lalu tim itu mampu mengalahkan tim berikutnya.
Circle of Parity sudah tercipta ketika LALIGA 2025-2026 baru memasuki pekan ke-11.
Deretan hasil itu lantas terbentuk siklus di mana semua klub terhubung lewat kemenangan langsung.
Jika dirunut seperti peta, hasil-hasil itu membentuk lingkaran penuh, tanda bahwa tak ada klub yang benar-benar dominan atau terlalu lemah untuk bersaing di LALIGA 2025-2026.
Pada musim ini, LALIGA EA SPORTS menutup "lingkaran kesetaraan" itu dengan relatif cepat, bahkan lebih cepat daripada musim-musim sebelumnya dalam satu dekade terakhir.
Lingkaran tersebut utuh setelah pekan ke-11, melampaui catatan musim 2015-2016 (lingkaran kesetaraan baru tercapai di pekan ke-12) serta edisi 2018-2019 dan 2023-2024 (pekan ke-13).
Catatan LALIGA musim ini jadi tampak mencolok lantaran tak ada satu pun dari empat liga besar Eropa lainnya, baik Premier League, Serie A, Bundesliga, mampu Ligue 1 yang bisa menutup lingkaran kesetaraan.
Untuk mencapai “Circle of Parity”, ada dua syarat dasar, setiap tim harus minimal menang sekali dan kalah sekali.
Belum Tercipta Circle of Parity di Empat Liga Top Lain
Namun, kenyataannya, syarat itu belum terpenuhi di beberapa tempat.
Di Italia, Hellas Verona dan Fiorentina masih tanpa kemenangan, sementara di Inggris, Wolverhampton belum juga meraup poin penuh.
Di Jerman, Bayern Muenchen belum terkalahkan, sehingga syarat kedua pun belum terpenuhi.
Sementara di pentas Ligue 1 Perancis, semua tim sudah menang dan kalah, tapi lingkarannya belum sempurna karena masih ada mata rantai hasil yang belum saling terhubung.
Kemungkinan besar, “lingkaran” di Ligue 1 baru akan tertutup pada pekan ke-13, jika hasil pertandingan berpihak ke arah itu.
Sementara itu, Bundesliga menjadi satu-satunya yang masih punya peluang menyaingi LALIGA karena baru memainkan sepuluh pekan sejauh ini.
Tertutupnya lingkaran kesetaraan pada pekan ke-11 ini menunjukkan betapa kompetitifnya LALIGA 2025-2026. Setiap tim bisa saling mengalahkan.
Contohnya, Sevilla pernah dibuat rontok 1-3 musim ini oleh tim papan tengah bawah Mallorca. Namun, di hari lain mereka mampu membabat raksasa LALIGA, Barcelona 4-1.
Persaingan ketat LALIGA merupakan buah dari perubahan struktur ekonomi dan manajemen yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Salah satu faktor kunci adalah distribusi pendapatan hak siar yang lebih merata. Rasio pendapatan antara klub paling kaya dan klub paling kecil kini hanya 3,5 banding 1.
Bandingkan dengan situasi sebelum 2015, ketika kesenjangannya bisa mencapai sepuluh kali lipat. Tak heran, bila kompetisi saat itu terasa kurang berimbang.
Selain itu, pengawasan keuangan yang ketat ikut menjaga stabilitas liga dan memaksa klub lebih disiplin dalam berbelanja pemain.
Kebijakan ini memang tak populer di awal, tetapi kini mulai menunjukkan hasil nyata dalam bentuk liga yang lebih seimbang dan kompetitif.
Faktor lain yang juga tak bisa diabaikan adalah peningkatan kualitas akademi muda di seluruh Spanyol.
Banyak klub kini memproduksi talenta sendiri yang siap naik ke tim utama, membuat jarak kualitas antara tim besar dan kecil semakin tipis.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.