Game PUBG Dituding Sebabkan Kekerasan pada Remaja, Benarkah?
Popularitas game battle-royale seperti PUBG yang dimainkan oleh jutaan remaja di seluruh dunia membawa sejumlah pertanyaan penting: apakah permainan tersebut dapat memicu kekerasan atau agresi pada pemain muda? Untuk menjawabnya secara lebih rinci dan berdasarkan fakta, dikutip VIVA Selasa, 11 November 2025.
Beberapa studi telah secara khusus meneliti kaitan antara intensitas bermain PUBG atau permainan dengan konten kekerasan dengan kecenderungan agresif:
Game PUBG Mobile.
Di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa intensitas bermain PUBG berpengaruh signifikan terhadap perilaku kekerasan verbal pada remaja. Sebagai contoh, penelitian di Surabaya menyimpulkan bahwa semakin sering seorang remaja bermain PUBG, semakin tinggi skor kecenderungan kekerasan verbalnya.
Penelitian di Pakistan menemukan bahwa pemain muda terhadap PUBG menunjukkan peningkatan impulsivitas, isolasi sosial, dan berkurangnya perilaku prososial (misalnya empati) dalam kaitannya dengan intensitas bermain
Secara umum, studi meta-analisis dan literatur yang lebih luas menunjukkan bahwa paparan permainan video yang mengandung kekerasan dapat berkorelasi dengan peningkatan agresi ringan hingga sedang (pikiran agresif, ucapan kasar), namun tidak serta-merta terbukti sebagai penyebab kekerasan serius.
Sebagai contoh, penelitian menggunakan model eksperimental menemukan bahwa pemain game kekerasan memiliki skor agresi yang lebih tinggi dibandingkan pemain game non-kekerasan.
Jadi, ada bukti bahwa bermain game seperti PUBG dengan frekuensi tinggi atau tanpa pengawasan dapat berhubungan dengan peningkatan kecenderungan agresif, terutama dalam bentuk verbal atau emosi.
Walau ada korelasi, penting untuk memahami batas-batasnya:
Tidak ditemukan bukti kuat bahwa PUBG atau game kekerasan lainnya secara langsung menyebabkan kekerasan fisik berat atau kriminalitas besar. Sebuah ulasan panjang menunjukkan bahwa permainan kekerasan berkaitan dengan agresi tetapi bukti bahwa itu menyebabkan tindakan kekerasan kriminal sangat terbatas
Faktor seperti kepribadian pemain, kondisi psikososial, pengawasan orang tua, serta jenis dan konteks bermain (online vs offline, kompetitif vs santai) ternyata sangat memoderasi hasil.
Game online PUBG.
Contoh: satu penelitian menunjukkan bahwa paparan game kekerasan hanya meningkatkan agresi apabila digabung dengan faktor-faktor seperti moral disengagement, hostilitas, dan disinhibisi individu
Jadi, apakah game seperti PUBG “menyebabkan kekerasan pada remaja”? Jawabannya: tidak secara otomatis atau langsung, tetapi ada cukup bukti bahwa bermain dalam intensitas tinggi, tanpa pengawasan, dalam konteks risiko (misalnya konflik keluarga, isolasi sosial) dapat meningkatkan kecenderungan agresif, terutama verbal atau emosional.