Lokasi, Harga Tiket Masuk, dan Daya Tarik Museum Bustanil Arifin

Tempat wisata edukasi budaya Minangkabau tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Sumatera Barat.
Wisatawan tak perlu bingung harus pergi ke mana saat ingin belajar lebih jauh soal budaya Minangkabau. Salah satu tempat yang bisa dituju adalah Museum Bustanil Arifin.
Museum Bustanil Arifin didirikan oleh Menteri Koperasi RI kedua era 1978-1993, almarhum Bustanil Arifin pada 8 Agustus 1988.
Saat ini, Museum Bustanil Arifin dikenal juga sebagai Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).
Museum ini berdiri pada 8 Agustus 1988. Bangunannya berupa rumah gadang, rumah adat khas masyarakat Minangkabau.
Dua tahun berselang, tempat ini diresmikan sebagai spot wisata edukasi sejarah, tepatnya pada 17 Desember 1990.
Panduan wisata Museum Bustanil Arifin
Museum Bustanil Arifin didirikan oleh Menteri Koperasi RI kedua era 1978-1993, almarhum Bustanil Arifin pada 8 Agustus 1988. Saat ini, Museum Bustanil Arifin dikenal juga sebagai Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).
Mari simak panduan berwisata ke Museum Bustanil Arifin, meliputi lokasi, harga tiket masuk, dan daya tariknya berikut ini.Lokasi Museum Bustanil Arifin
Museum Bustanil Arifin berlokasi di Jalan Bustanil Arifin, Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.
Pemandu Museum Bustanil Arifin, Suaita, menuturkan, lokasi Museum Bustanil Arifin juga terbilang strategis.
Bagi siapa saja yang ingin menuju Padang, Bukittinggi, maupun Batusangkar, pasti lah melewati tempat wisata yang satu ini.
Jam operasional Museum Bustanil Arifin
Museum Bustanil Arifin didirikan oleh Menteri Koperasi RI kedua era 1978-1993, almarhum Bustanil Arifin pada 8 Agustus 1988. Saat ini, Museum Bustanil Arifin dikenal juga sebagai Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).
Museum Bustanil Arifin buka setiap hari mulai pukul 08.30 WIB hingga 17.30 WIB.Tempat wisata ini tidak hanya menerima kunjungan turis domestik, melainkan turis asing dari berbagai negara.
Suaita mengatakan, saat ini, kunjungan turis asing ke Museum Bustanil Arifin didominasi oleh wisatawan Malaysia.
"Banyak wisatawan dari luar kota. Dari luar negeri juga banyak. Memang kalau Malaysia itu, selain biaya (berwisata) murah, budaya dan kulinernya juga enggak beda banget sama Sumatera Barat," jelas Suaita, ketika ditemui Kompas.com dalam rangkaian Familiarization Trip Kementerian Pariwisata RI bersama Travel Agent Malaysia ke Sumatera Barat, Senin (27/10/2025).
Bila menarik jauh ke ratusan tahun lalu, lanjut Suaita, Negeri Sembilan, salah satu negara bagian di Malaysia, juga berasal dari nenek moyang orang Minang.
Itu sebabnya, tidak heran bila wisata adat Minangkabau di Sumatera Barat banyak digemari turis Malaysia.
Harga tiket masuk Museum Bustanil Arifin
Harga tiket masuk Museum Bustanil Arifin dibanderol Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 10.000 untuk wisatawan nusantara (wisnus).
Khusus turis asing, harga tiket masuk Museum Bustanil Arifin dibanderol Rp 25.000 per orang.
Tiket masuk ini bisa dibeli langsung di pintu masuk Museum Bustanil Arifin saat berkunjung ke sana.
Daya tarik wisata Museum Bustanil Arifin
Museum Bustanil Arifin didirikan oleh Menteri Koperasi RI kedua era 1978-1993, almarhum Bustanil Arifin pada 8 Agustus 1988. Saat ini, Museum Bustanil Arifin dikenal juga sebagai Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM).
Rumah adat Minangkabau atau rumah gadang tentu menjadi daya tarik utama dari Museum Bustanil Arifin.Gedung megah ini dibangun mengikuti nilai-nilai budaya masyarakat Minangkabau. Terlihat dari bentuk jendela yang tidak simetris. Begitu juga dengan tiang-tiang rumah gadang.
Filosofi rumah gadang bagi masyarakat Minang bisa diperoleh langsung dari pemandu di Museum Bustanil Arifin, termasuk Suaita.
Selain itu, pengunjung juga dapat mencoba pengalaman mengenakan pakaian adat Minangkabau di Museum Bustanil Arifin.
Tersedia jasa sewa pakaian adat Minangkabau seharga Rp 50.000 untuk dewasa dan Rp 20.000 untuk anak-anak.
Di dalam Museum Bustanil Arifin, ada pula perpustakaan berisi buku-buku, serta foto-foto sejarah perjalanan berdirinya Kota Padang Panjang.
"Karena di sini ada perpustakaan, pasti isinya berupa buku-buku. Namun, kalau kami tampilkan hanya buku, kurang menarik untuk menarik pengunjung datang," jelas dia.
buku yang tersedia di Museum Bustanil Arifin merupakan salinan dari versi aslinya.
Kebanyakan buku ditulis dalam bahasa Belanda, Melayu, Arab, Inggris, dan juga bahasa Minang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.