Sering Dicap Paling Awet Muda, Begini Pendapat Dian Sastrowardoyo Soal Ageism

Dian Sastrowardoyo di JFW
Dian Sastrowardoyo di JFW

 Nama Dian Sastrowardoyo sudah lama dikenal sebagai salah satu aktris Indonesia yang kerap dipuji karena pesonanya yang tak lekang oleh waktu. 

Di usia yang sudah menginjak kepala empat, bintang film Ada Apa Dengan Cinta? itu tetap tampil segar dan memesona, membuat publik sering menjulukinya sebagai “artis paling awet muda.” Scroll lebih lanjut yuk!

Namun di balik sanjungan tersebut, Dian justru mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap pandangan sosial yang sering kali menilai perempuan dari usia dan penampilan semata.

Dian mengungkap pandangannya tentang fenomena ageism yang masih terjadi di industri hiburan. Ia menilai, masih banyak pihak yang menilai kecantikan dan aktualisasi diri perempuan berdasarkan usia. 

“Aku merasa bahwa sayangnya di industri kita masih terjadi ageism dimana paham itu kesannya kecantikan atau aktualisasi perempuan terpaku pada tenggat waktu tertentu. Menurutku itu paham yang udah usang karena kita gabisa dikotakkan sebagai perempuan,” ujar Dian Satrowardoyo, dalam konferensi perd Pond's di Jakarta Fashion Week, di Jakarta, Sabtu 1 November 2025.

Dian juga menyoroti bagaimana ageism menimbulkan kesan bahwa perempuan memiliki “batas waktu” dalam berkarya atau merawat diri. 

“Kesannya punya deadline buat mengaktualisasi diri, mencoba hal baru, keahlian baru, kayak ada deadline. Kesannya kalau udah tua nggak bisa eksplor atau kalau masih terlalu muda juga nggak bisa mencoba karya atau sesuatu yang baru,” tambahnya.

Lebih jauh, Dian berharap perempuan bisa terbebas dari tekanan sosial yang membatasi kecantikan hanya pada usia tertentu. 

“Aku pengen perempuan secara kecantikan dari ageism, kalau punya kesempatan merawat diri kita, selfcare, merasa baik, kita bisa terlihat cantik di usia manapun. Kita bisa mempercantik diri nggak terpaku pada usia berapapun,” ujarnya.

Secara umum, ageism merupakan bentuk diskriminasi berdasarkan usia yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pandangan terhadap kecantikan perempuan. 

Dalam konteks ini, ageism sering menempatkan perempuan yang menua sebagai kurang menarik atau tidak relevan lagi secara sosial. Padahal, kecantikan sejati tidak seharusnya diukur dari usia, melainkan dari bagaimana seseorang merawat diri, berdaya, dan memancarkan kepercayaan diri.

Melalui pandangannya, Dian Sastrowardoyo seolah mengingatkan bahwa setiap perempuan berhak untuk terus tumbuh, belajar, dan merasa cantik—tanpa batasan umur dan tanpa harus tunduk pada standar kecantikan yang usang.