Instagram Akan Batasi Remaja Chat dengan AI, Orang Tua Bisa Pantau Topik Percakapan

Logo Instagram.
Logo Instagram.

 Instagram tengah menyiapkan langkah besar untuk memperketat perlindungan bagi pengguna remaja. Dalam waktu dekat, platform milik Meta ini akan menghadirkan fitur baru yang memungkinkan orang tua memblokir atau membatasi interaksi anak mereka dengan karakter AI di aplikasi tersebut.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Meta menanggapi kekhawatiran publik terkait pengaruh negatif kecerdasan buatan (AI) terhadap kesehatan mental remaja, terutama setelah munculnya sejumlah kasus yang dikaitkan dengan penggunaan chatbot AI secara berlebihan.

1. Orang Tua Bisa Batasi Akses ke AI Chat Instagram

Melalui pembaruan terbaru yang diumumkan Jumat (25/10/2025), Meta menjelaskan bahwa fitur ini akan memungkinkan orang tua untuk:

  • Menonaktifkan akses sepenuhnya bagi anak remaja untuk berbicara dengan karakter AI di Instagram.
  • Memblokir karakter tertentu yang dianggap tidak sesuai, misalnya karakter dengan tema dewasa atau sensitif.
  • Melihat topik percakapan anak dengan AI, sehingga orang tua dapat memahami konteks interaksi yang terjadi.

Fitur pengawasan ini tengah dikembangkan dan diperkirakan mulai diluncurkan awal tahun depan. Meta menyebut, pendekatan ini diambil untuk memastikan bahwa AI di platformnya “tidak menggantikan peran sosial yang sehat” dalam kehidupan remaja.

2. Respons Terhadap Tekanan Publik dan Hukum

Langkah Meta tidak datang tanpa alasan. Perusahaan teknologi raksasa itu menghadapi tekanan besar dari masyarakat, lembaga pengawas, hingga anggota parlemen AS yang menuduh media sosial lalai melindungi pengguna muda.

Beberapa waktu terakhir, sejumlah gugatan hukum diajukan terhadap berbagai platform AI terkait dugaan kontribusi terhadap kasus bunuh diri dan gangguan mental pada remaja.

Aplikasi Character.AI digugat karena diduga berperan dalam kasus self-harm dan kematian sejumlah remaja.

OpenAI, pengembang ChatGPT, juga digugat setelah chatbot-nya diduga berkontribusi pada kematian seorang remaja berusia 16 tahun bernama Adam Raine.

Sementara laporan investigasi The Wall Street Journal pada April 2024 menemukan bahwa chatbot Meta dan AI di platform lain masih bisa berinteraksi dengan akun remaja dalam konteks percakapan seksual.

Kondisi ini memperkuat argumen bahwa AI yang tidak diawasi dapat menimbulkan risiko psikologis serius, terutama pada pengguna yang masih berada dalam tahap perkembangan emosional.

3. Meta Janjikan Filter Ketat dan AI “Ramah Remaja”

Meta menegaskan bahwa AI characters di Instagram tidak akan terlibat dalam percakapan mengenai isu sensitif, seperti:

  • Self-harm dan bunuh diri
  • Gangguan makan
  • Topik yang mendorong atau mempromosikan perilaku berbahaya

Sebaliknya, remaja hanya akan dapat berinteraksi dengan karakter AI yang berfokus pada pendidikan, olahraga, dan kreativitas.

Meta juga menegaskan bahwa sistem AI mereka telah dilatih untuk menghindari percakapan yang bisa memicu kecemasan, depresi, atau ketergantungan emosional terhadap chatbot.

4. Instagram Perketat Aturan untuk Akun Remaja

Selain pembatasan interaksi dengan AI, Meta baru-baru ini juga memperketat kebijakan untuk akun remaja di Instagram.

Melalui pembaruan fitur “Teen Accounts”, platform kini akan menyaring konten sesuai standar PG-13, termasuk:

  • Menyembunyikan konten yang mengandung bahasa kasar atau adegan kekerasan.
  • Membatasi promosi unggahan yang mengandung tantangan viral berisiko tinggi.
  • Menonaktifkan saran konten yang mengandung body image ekstrem atau standar kecantikan tidak realistis.

Fitur ini disebut sebagai bagian dari komitmen Meta untuk menciptakan ruang digital yang aman dan mendidik bagi remaja, sejalan dengan tren global menuju media sosial yang lebih bertanggung jawab.

5. OpenAI Juga Perkenalkan Parental Control untuk ChatGPT

Menariknya, langkah Meta ini berbarengan dengan langkah OpenAI yang juga memperkenalkan fitur parental control di ChatGPT pada akhir September.

Fitur tersebut memungkinkan orang tua mengatur batasan seperti:

  • Pemblokiran konten grafis dan kekerasan
  • Larangan interaksi romantis atau seksual dengan chatbot
  • Pengurangan paparan terhadap tren viral berbahaya

Kedua perusahaan besar itu kini tampak berlomba menunjukkan komitmen etika AI, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa chatbot bisa memengaruhi perilaku dan kesejahteraan emosional pengguna muda.

6. Tantangan Etika: Apakah AI Bisa Jadi “Teman Digital” yang Aman?

Meski pembatasan ini disambut positif, para ahli tetap menyoroti dilema etika di balik tren penggunaan AI sebagai “teman digital”.

Sejumlah psikolog memperingatkan bahwa remaja yang kesepian cenderung menjadikan chatbot sebagai pengganti hubungan sosial nyata, sehingga berisiko memicu isolasi, depresi, hingga ketergantungan emosional.

Menurut studi Journal of Adolescent Health, remaja yang sering menggunakan chatbot untuk curhat lebih dari 2 jam sehari menunjukkan peningkatan 18 persen dalam tingkat kecemasan sosial dibandingkan mereka yang tidak.

Oleh karena itu, banyak pakar menyerukan pendekatan yang seimbang: memanfaatkan AI sebagai alat edukatif, bukan sebagai sarana utama untuk pemenuhan kebutuhan emosional.