Koperasi Desa Jadi Strategi Pemerintah Bangun Ekonomi dari Akar Rumput
Memasuki satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemberdayaan ekonomi rakyat menjadi salah satu fokus utama. Salah satu capaian menonjol adalah terbentuknya 80.081 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di seluruh Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Asta Cita, khususnya poin keenam yang menekankan pembangunan dari desa demi pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menyebut Kopdes Merah Putih sebagai gerakan nasional untuk mengembalikan koperasi pada perannya sebagai tulang punggung ekonomi rakyat.
“Koperasi Desa Merah Putih adalah gerakan negara, bukan hanya program pemerintah biasa. Ini adalah upaya menyelamatkan ekonomi rakyat dengan mengembalikan koperasi pada fungsi aslinya sebagai soko guru ekonomi rakyat,” ujarnya dalam dialog FMB9, dikutip VIVA Senin 20 Oktober 2025.
Diluncurkan pada 21 Juli 2025 di Klaten, Jawa Tengah, program ini kini telah mencapai seluruh target tahun pertamanya. Sekitar 65 persen koperasi telah beroperasi aktif di berbagai sektor, mulai dari distribusi kebutuhan pokok, pengelolaan hasil pertanian, hingga layanan kesehatan desa. Sebanyak 20 ribu koperasi berperan sebagai offtaker hasil pertanian dan perikanan, memasarkan produk ke pasar regional dan nasional.
Ferry menjelaskan, setiap koperasi memperoleh plafon modal hingga Rp3 miliar, sebagian digunakan untuk membangun gerai, gudang, dan fasilitas produksi desa. Total dana yang dialokasikan mencapai Rp240 triliun.
“Ini bukan pengeluaran yang tidak menghasilkan, melainkan investasi yang akan menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa,” katanya.
Program ini juga membuka peluang kerja bagi sekitar 1,6 juta orang, karena setiap koperasi memerlukan 10–20 tenaga pengelola. “Ketika desa memiliki lapangan kerja, masyarakat tidak perlu berbondong-bondong ke kota menjadi pekerja sektor informal,” tegas Ferry.
Selain memperkuat ekonomi lokal, Kopdes Merah Putih juga diarahkan untuk mendukung kedaulatan pangan. “Koperasi akan menjadi pengumpul hasil pangan lokal, sehingga gudang Bulog terisi dengan produk dalam negeri,” ungkapnya.
Ferry optimistis manfaat program ini akan mulai terlihat dalam dua tahun ke depan. “Ini kesempatan sejarah untuk menyelesaikan masalah mendasar desa setelah 80 tahun merdeka,” tutupnya.