Kisah Mumtaz Bakery, Cara Pondok Pesantren Imam Bukhari Bangun Kemandirian Ekonomi Lewat Roti

Pondok Pesantren Imam Bukhari, Mumtaz Bakery, Kisah Mumtaz Bakery, Cara Pondok Pesantren Imam Bukhari Bangun Kemandirian Ekonomi Lewat Roti, Perjalanan Kemandirian Ekonomi Ponpes Imam Bukhari, Evolusi Mumtaz Bakery, dari Donat Murah ke Spesialis Hajatan, Roti Sebagai Jembatan Kasih Sayang Santri dan Orang Tua, Pandangan Akademisi: Ijtihad Kelembagaan di Era Modern

Dakwah tidak selamanya harus disampaikan melalui mimbar. Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pesan kebaikan tersebut justru terselip melalui aroma harum panggangan roti dari etalase kaca Mumtaz Bakery.

Unit usaha milik Pondok Pesantren (Ponpes) Imam Bukhari ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam mampu membangun kemandirian ekonomi sekaligus menjaga marwah syiar agama.

Perjalanan Kemandirian Ekonomi Ponpes Imam Bukhari

Pondok Pesantren Imam Bukhari yang berlokasi di Jalan Solo-Purwodadi Km 8, Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar, telah merintis jalannya sejak 1994.

Di bawah kepemimpinan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, pondok ini berkembang pesat mulai dari jenjang Ibtidaiyah (SD) hingga jenjang setara S1 bagi santri putri.

Namun, Ponpes Imam Bukhari tidak ingin terjebak dalam stigma bahwa pesantren hanya tempat belajar agama.

Saat ini, mereka tercatat mengelola 10 unit usaha yang bernaung di bawah Badan Usaha Milik Ma'had Imam Bukhari (BUMM).

"Pondok ini unit usahanya sekarang ada 10, ada Mumtaz Bakery (roti), Mumtaz Water (galon isi ulang), Young Bread (coffee shop), laundry putra dan putri, kantin putra dan putri, serta minimarket," ujar Marketing BUMM, Zainul Abidin Syah, saat ditemui di Karanganyar, Rabu (21/1/2026).

Selain unit fisik, pondok juga meluncurkan Bukhari Agency, sebuah aplikasi jasa titip (jastip) untuk mengakomodasi kebutuhan santri dan wali santri.

Evolusi Mumtaz Bakery, dari Donat Murah ke Spesialis Hajatan

Dari sepuluh unit usaha yang ada, Mumtaz Bakery (kini bertransformasi menjadi MMZ Bakery) menjadi unit usaha tertua yang dirintis sejak 2010. Awalnya, unit ini hanya memproduksi donat sederhana dengan harga terjangkau untuk kebutuhan internal dan warga sekitar.

Titik balik terjadi saat manajemen merekrut seorang mantan chef hotel bintang lima di Madinah.

Kehadiran tenaga profesional tersebut memberikan tantangan baru: menghasilkan roti berkualitas premium namun dengan harga yang tetap merakyat.

"Setelah pandemi Covid-19, pemangku kepentingan (stakeholder) ingin usaha ini naik level. Kami menganalisis budaya masyarakat Solo yang gemar mengadakan hajatan. Akhirnya, kami mengambil posisi sebagai spesialis roti hajatan," kata Zainul.

Saat ini, MMZ Bakery telah memiliki tiga gerai utama yang berlokasi di Selokaton, Mojosongo, dan Andong.

Produknya pun beragam, mulai dari roti krumpul, flossroll, hingga bolen pisang dengan kisaran harga Rp 3.000 hingga Rp 67.000.

Roti Sebagai Jembatan Kasih Sayang Santri dan Orang Tua

Pondok Pesantren Imam Bukhari, Mumtaz Bakery, Kisah Mumtaz Bakery, Cara Pondok Pesantren Imam Bukhari Bangun Kemandirian Ekonomi Lewat Roti, Perjalanan Kemandirian Ekonomi Ponpes Imam Bukhari, Evolusi Mumtaz Bakery, dari Donat Murah ke Spesialis Hajatan, Roti Sebagai Jembatan Kasih Sayang Santri dan Orang Tua, Pandangan Akademisi: Ijtihad Kelembagaan di Era Modern

Ilustrasi roti. Dakwah tidak selamanya harus disampaikan melalui mimbar. Di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pesan kebaikan tersebut justru terselip melalui aroma harum panggangan roti dari etalase kaca Mumtaz Bakery. Unit usaha milik Pondok Pesantren (Ponpes) Imam Bukhari ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam mampu membangun kemandirian ekonomi sekaligus menjaga marwah syiar agama.

Lebih dari sekadar profit, unit usaha roti ini juga berfungsi sebagai penyambung silaturahmi. Banyak wali santri yang berasal dari Jabodetabek hingga luar pulau Jawa membawa produk MMZ Bakery sebagai buah tangan saat menjenguk anak-anak mereka.

"Kami melihat peluang saat wali santri berkunjung. Kenapa tidak kita sediakan oleh-oleh sendiri? Jadi, ada sesuatu yang mereka banggakan saat pulang dari pondok," lanjut Zainul.

Konsistensi rasa dan pelayanan menjadi kunci utama.

Pihak manajemen menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat serta adaptasi teknologi untuk menjaga higienitas tanpa menghilangkan sentuhan personal dalam pelayanan.

Pandangan Akademisi: Ijtihad Kelembagaan di Era Modern

Transformasi pesantren menjadi lembaga produktif ini mendapat tanggapan positif dari kalangan akademisi. Dosen Prodi Manajemen UMPKU Surakarta, Asa Sheila Amelia menilai langkah ini sebagai bentuk adaptasi institusional yang rasional.

"Keterlibatan pesantren dalam aktivitas ekonomi tidak bisa dipandang sebagai komersialisasi agama, melainkan ijtihad kelembagaan agar pesantren tetap berkelanjutan dan relevan," jelas Asa Sheila.

Menurutnya, kemandirian finansial sangat penting bagi otonomi pendidikan agar pesantren tidak bergantung pada intervensi eksternal dalam menjaga nilai-nilai dakwahnya.

"Unit usaha pesantren bisa berfungsi sebagai laboratorium bisnis syariah. Di masa depan, pesantren idealnya menjadi motor pemberdayaemandirian

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bisnis Pesantren di Tengah Pasar Roti Modern, Inovasi Tanpa Henti demi Kepuasan Pelanggan

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang