Kesederhanaan Sultan HB X, Tak Pernah Minta Pengawalan dan Pilih Nyetir Sendiri

yogyakarta, sultan HB X, Sultan, Sultan Hamengku Buwono X, sirene tot tot wuk wuk, Kesederhanaan Sultan HB X, Tak Pernah Minta Pengawalan dan Pilih Nyetir Sendiri, Tidak Ingin Diperlakukan Istimewa, Mengemudi Sendiri, Tradisi yang Tak Pernah Hilang, Klarifikasi soal Rombongan Pejabat, Simbol Kepemimpinan yang Membumi, Pemimpin yang Tidak Minta Didahulukan

Suara sirene “tot tot wuk wuk” memecah suasana lalu lintas siang itu di Yogyakarta.

Deretan mobil berpelat merah melaju cepat, menyalip kendaraan lain yang berhenti di lampu merah.

Namun, di tengah keramaian itu, ada satu mobil berwarna hitam yang tetap tenang di barisan antrean.

Mobil itu milik Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Video pendek momen itu kemudian viral di media sosial. Banyak warganet terkejut sekaligus kagum, seorang gubernur justru menunggu dengan sabar di lampu merah tanpa pengawalan, sementara rombongan pejabat lain melaju dengan sirene nyaring.

Namun bagi Sultan HB X, apa yang dianggap luar biasa oleh publik itu hanyalah kebiasaan yang sudah ia jalani puluhan tahun.

“Saya biasa enggak ada pengawalan kok, kalau tidak acara resmi. Wong saya juga bisa nyopiri sendiri juga kok,” katanya dengan nada santai saat ditemui di Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Senin (13/10/2025).

Tidak Ingin Diperlakukan Istimewa

Sultan menjelaskan, pengawalan hanya digunakan ketika menghadiri acara resmi pemerintahan.

Di luar itu, ia memilih bepergian sendiri tanpa iring-iringan kendaraan pengawal, bahkan menggunakan mobil pribadi.

“Kenapa dipersoalkan, kan enggak perlu dipersoalkan pakai pengawalan atau tidak. Biasa saja,” ujarnya.

Bagi Sultan, menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu mendapat perlakuan istimewa.

Ia justru ingin hadir di tengah rakyat dengan kesederhanaan, tanpa jarak atau simbol kemewahan.

Mengemudi Sendiri, Tradisi yang Tak Pernah Hilang

Kebiasaan Sultan menyetir mobil sendiri bukan hal baru. Dalam banyak kesempatan, ia terlihat mengemudi tanpa sopir, seperti ketika melakukan kunjungan ke Gunungkidul atau meninjau Jembatan Pandansimo.

Menurutnya, mobil dinas hanya dipakai untuk kegiatan resmi pemerintahan, sedangkan urusan pribadi sebaiknya menggunakan kendaraan sendiri.

Prinsip ini telah menjadi bagian dari gaya hidupnya sejak lama.

Sikap sederhana itu membuat banyak warga Yogyakarta semakin menghormati sosok pemimpinnya.

Bagi mereka, Sultan bukan sekadar pejabat daerah, melainkan panutan dalam bersikap rendah hati di tengah jabatan tinggi.

yogyakarta, sultan HB X, Sultan, Sultan Hamengku Buwono X, sirene tot tot wuk wuk, Kesederhanaan Sultan HB X, Tak Pernah Minta Pengawalan dan Pilih Nyetir Sendiri, Tidak Ingin Diperlakukan Istimewa, Mengemudi Sendiri, Tradisi yang Tak Pernah Hilang, Klarifikasi soal Rombongan Pejabat, Simbol Kepemimpinan yang Membumi, Pemimpin yang Tidak Minta Didahulukan

Sultan Hamengku Buwono X Saat Melakukan prosesi Jejak Banon, Kamis (4/9/2025)

Klarifikasi soal Rombongan Pejabat

Sementara itu, video viral yang memperlihatkan mobil Sultan disalip rombongan pejabat dengan sirene sempat dikaitkan dengan rombongan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Namun, dugaan itu segera dibantah oleh Staf Khusus Menko Bidang Infrastruktur, Herzaky Mahendra Putra.

“Pak Menko AHY sudah meninggalkan tempat sekitar 30 menit lebih awal mendahului Sri Sultan. Jadi, tidak mungkin Pak Menko AHY malah tertinggal dan harus mendahului Sri Sultan di lampu merah seperti terlihat di video,” jelas Herzaky dalam keterangan tertulis, Minggu (12/10/2025).

Herzaky bahkan mengajak publik untuk memastikan sendiri identitas rombongan yang terekam dalam video tersebut.

“Kalau ingin memastikan itu rombongan siapa, bisa dicek nomor pelat merah salah satu mobil dalam rombongan tersebut. Silakan netizen mencari tahu, pelat merah itu terasosiasi dengan instansi mana,” ujarnya.

Simbol Kepemimpinan yang Membumi

Bagi masyarakat Yogyakarta, sikap Sultan bukan hal yang mengejutkan.

Dalam pandangan mereka, Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah sosok pemimpin yang hidupnya mencerminkan filosofi Jawa: “ngayomi tanpa pamrih, memimpin dengan teladan”.

Kesederhanaannya bukan pencitraan, melainkan bagian dari kesehariannya.

Ia terbiasa menolak pengawalan, menyalami warga tanpa jarak, dan menghadiri kegiatan sosial tanpa protokol berlebihan.

Tindakan itu mencerminkan pesan mendalam: kekuasaan bukanlah alasan untuk berjarak dari rakyat, melainkan kesempatan untuk lebih dekat dan mendengar.

Pemimpin yang Tidak Minta Didahulukan

Video viral itu, bagi sebagian orang, mungkin sekadar potongan kejadian di jalan raya.

Namun, bagi warga Yogyakarta, itu adalah potret kecil dari nilai besar: seorang pemimpin yang tidak minta didahulukan, bahkan rela menunggu di antrean seperti warga biasa.

Ketika banyak pejabat berlomba mendapatkan prioritas di jalan, Sultan HB X justru menunjukkan bahwa kehormatan sejati tidak datang dari sirene pengawalan, melainkan dari sikap rendah hati.

“Wong saya juga bisa nyopiri sendiri kok,” kata Sultan HB X.

Sebagian artikel di atas dengan judul .

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.