Ini Dampak Positif Penerapan BBM dengan Etanol 10 Persen
Etanol tengah jadi perbincangan banyak pihak belakangan ini. Pasalnya diketahui bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina mengandung etanol setidaknya tiga persen.
Hal ini kemudian membuat sejumlah perusahaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) batal menggunakan base fuel dari Pertamina.
Meskipun menuai kontroversi, perlu dicatat bahwa etanol merupakan aditif yang sebenarnya memiliki dampak positif buat kendaraan dan pengurangan emisi gas buang.
BBM ketika di-blending etanol mendapatkan peningkatan angka oktan. Artinya kualitas bensin semakin baik.

“Ini mencegah knocking mesin modern dan mampu meningkatkan efisiensi pembakaran,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO, Kamis (09/10).
Dampak terhadap lingkungan juga dapat dirasakan. BBM dengan campuran etanol mengurangi emisi karbon dioksida 20 persen sampai 30 persen.
Persentase etanol yang mau diterapkan di Indonesia rencananya adalah E10, artinya etanol 10 persen dan BBM 90 persen.
Di negara-negara lain, persentasenya lebih tinggi karena telah didukung infrastruktur, regulasi serta spesifikasi kendaraan yang sesuai.
Etanol sendiri adalah hasil proses limbah tani dan material pertanian lain seperti tebu.
Bahan dasar yang diperoleh dari sektor pertanian, dalam jangka waktu panjang bisa menguntungkan petani di Indonesia.
Hanya saja jalan ke sana masih panjang. Sebab perlu transisi dan kesiapan mesin kendaraan produksi dalam negeri.
“E10 sebagai campuran 10 persen etanol dalam bensin dianggap tepat sebagai langkah awal yang efektif untuk kurangi emisi karbon monoksida,” tegas Yannes.
Pihak Pertamina dalam kesempatan terpisah menjelaskan penggunaan etanol pada bahan bakar sudah jadi hal lazim di negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman dan Inggris.

Sementara di India, program yang tengah dicanangkan adalah E20 agar bisa diterapkan optimal per 2030.
Mengingat Net Zero Emission menjadi salah satu target pemerintah RI, Pertamina berkomitmen mendukung melalui penerapan E10.
Hanya saja masih butuh edukasi kepada masyarakat pengguna kendaraan bermotor. Sehingga transisi menuju bahan bakar ramah lingkungan tidak terkesan terburu-buru.