Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan Targetkan Pertanian Berkelanjutan di Bali

kopi kintamani bali, kopi arabika di kopi kenangan, kopi kenangan targetkan pertanian berkelanjutan, Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan Targetkan Pertanian Berkelanjutan di Bali

Pelanggan bisa menikmati kopi gratis, para petani mendapatkan dukungan baru untuk memproduksi kopi. Itulah gaya Kopi Kenangan merayakan Hari Kopi Sedunia pada 1 Oktober 2025 lalu.

Salah satu jaringan kopi terbesar di Asia Tenggara tersebut meluncurkan inisiatif bertajuk "Sip for Sustainability", membantu petani kopi di Kintamani, Bali untuk memperkuat rantai pasok kopi Indonesia dari hulu hingga hilir.

"Ada tiga pilar utama yang menjadi fokus Kenangan Brands. Pertama, memberdayakan petani kopi," kata Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands, Inneke Lestari, dalam temu media di Desa Oculus Kintamani, Bali, Rabu (1/10/2025).

Pemberdayaan pelaku industri kopi di hulu ini diharapkan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dengan begitu, lingkungan lebih terjaga, hasil panen kopi Indonesia meningkat, juga harganya kompetitif di pasar global.

Lewat misi tersebut, Kopi Kenangan membagikan 20 mesin potong rumput kepada petani binaan Karana Global sebagai solusi penggunaan pestisida kimia.

Program ini menyusul temuan residu kimia yang melebihi ambang batas pada ekspor kopi arabika Kintamani ke Jepang pada akhir 2024.

kopi kintamani bali, kopi arabika di kopi kenangan, kopi kenangan targetkan pertanian berkelanjutan, Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan Targetkan Pertanian Berkelanjutan di Bali

Senior Vice President Legal and Corporate Affairs Kenangan Brands, Inneke Lestari, bersama Doktor Ilmu Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Made Sarjana, dalam simbolis pemberian mesin potong rumput bagi petani kopi arabika di Bali, Rabu (1/10/2025).

Puluhan mesin potong rumput ini digunakan oleh 50 petani binaan Kopi Kenangan. Sebanyak 30 di antaranya berada di bawah Karana Global dan 20 sisanya dinaungi oleh Universitas Udayana Bali.

"Target kami, semoga lancar, akan ada 100 petani binaan Kopi Kenangan," ujar Inneke.

Selain mesin potong rumput, ada pula mesin pemilah biji kopi (mesin sutton) yang diberikan kepada Karana Global, perusahaan spesialis kopi di Bali yang bekerja sama dengan Kopi Kenangan.

Mesin sutton berfungsi sebagai pemilah biji kopi otomatis. Biji kopi yang mulanya disortir manual menggunakan manusia, kini dipilah menggunakan mesin otmatis.

Mesin yang dirakit di Lampung ini berfungsi memilah biji kopi berdasarkan berat jenisnya (density).

"Mesin ini digetarkan untuk mencari density. Dari density itu kita sudah bisa memisahkan kualitas kopi tersebut," kata Direktur Utama Karana Global, I Kadek Edi.

Biji kopi dengan density lebih tinggi ditetapkan sebagai kopi berkualitas paling baik. Sisanya, biji kopi dengan level dua ke bawah akan disortir manual oleh ibu-ibu pekerja.

"Mesin sutton ini fungsinya untuk mempercepat penyortiran. Pada akhirnya, tetap ibu-ibu yang memilih mana biji kopi paling bagus," kata Inneke.

Kopi di masa depan

kopi kintamani bali, kopi arabika di kopi kenangan, kopi kenangan targetkan pertanian berkelanjutan, Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan Targetkan Pertanian Berkelanjutan di Bali

ibu rumah tangga yang bekerja menyortir biji kopi di tempat sortir Karana Global, Singaraja, Bali, saat ditemui dalam kegiatan media trip bersama Kopi Kenangan, Kamis (2/10/2025).

Sepintas tak ada masalah dengan kopi Indonesia. Indonesia masih menjadi produsen terbesar kopi di dunia sejak bertahun-tahun lalu.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengatakan petani kopi arabika di Bali saat ini tersebar di tiga wilayah, yakni Bangli, Badung, dan Buleleng.

"Kalau di Kabupaten Bangli, luas arealnya sekitar 5.900 hektar, mendekati 6.000 hektar dan produksinya sekitar 3.000 ton dengan jumlah petaninya ada 6.791 orang," ungkap Sudiarta.

Meski telah menjadi sumber pendapatan bagi sebagian besar petani, penanaman kopi arabika di Bali tak lepas dari tantangan.

Tidak sedikit petani yang ingin buru-buru menjual hasil tanamnya demi mendapatkan rupiah.

Bukan buah kopi matang yang dijual, tetapi buah kopi belum cukup umur yang terpaksa dipanen demi mempersingkat waktu tanam.

"Petani enggan melakukan petik merah sesuai anjuran karena ada alasan. Di samping harga, juga pola pemasarannya," kata Doktor Ilmu Lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), I Made Sarjana, dalam kesempatan yang sama.

Sejumlah petani di Kintamani, kata Sarjana, terbiasa memasarkan kopinya saat masih ditanam di pohon. Kondisi ini dikenal istilah tebasan.

Petani-petani yang akan panen kopi, biasanya menggunakan tenaga kerja sistem borongan yang jasanya dihargai Rp 2.000 per Kilogram (Kg).

"Akhirnya yang dilihat itu kuantitasnya, bukan kualitasnya. Itu jadi kendala," ujar Sarjana.

Petik merah kopi membutuhkan waktu tanam sedikitnya enam bulan. Kopi akan dipanen sebanyak dua kali dalam periode ini.

Sementara untuk petik hijau alias kopi yang belum matang, biasanya dipanen tiga hingga empat kali dalam periode yang sama.

Melihat kondisi ini, Sarjana sempat mengimbau para petani untuk melakukan panen petik merah. Maksudnya, memanen tanaman kopi saat buahnya sudah matang memerah, bukan ketika buahnya masih berwarna hijau.

"Lewat diskusi kemarin, saya menemukan memang masih sedikit susah untuk mengubah sikap petani agar mau melakukan petik merah," kata Sarjana.

Selain kualitas kopi, jumlah sumber daya manusia atau petani kopi juga terlihat kian menurun, seperti disampaikan Edi.

"Masih belum banyak anak muda yang tertarik bekerja sebagai petani," kata Edi.

Masih ada secercah harapan masa depan kopi Indonesia saat melihat segelintir anak petani kopi yang ingin tahu kelanjutan bisnis orang tuanya.

Sebagian dari mereka ingin menggunakan sistem lebih modern, seperti digitalisasi sistem pertanian kopi, untuk memperbaiki produktivitas petani kopi.

Sertifikasi kebun kopi

kopi kintamani bali, kopi arabika di kopi kenangan, kopi kenangan targetkan pertanian berkelanjutan, Hari Kopi Sedunia, Kopi Kenangan Targetkan Pertanian Berkelanjutan di Bali

Senior Manager Product Support Rainforest Alliance, Elpido Soplantila, dalam temu media bersama Kopi Kenangan di Bali, Rabu (1/10/2025).

Bekerja sama dengan para akademisi dari Universitas Udayana dan Karana Global, Kopi Kenangan kini tengah menjalani proses sertifikasi standar keberlanjutan untuk produk pertanian.

Sertifikasi yang dilakukan Rainforest Alliance ini diakui secara global dan belum banyak kebun kopi di Indonesia yang berhasil mengantonginya.

"Di Indonesia, ada sekitar 48 pemegang sertifikat Rainforest Alliance dari kebun kopi dan kakao," ujar Senior Manager Product Support Rainforest Alliance, Elpido Soplantila.

Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 20 pemegan sertifikat pertanian berkelanjutan yang merupakan perkebunan kopi.

"Total 20 sertifikat itu sebenarnya mencakup sekitar 20.000 petani kopi. Jadi masing-masing pemegang sertifikat itu punya petani binaan," jelas dia.

Perkebunan kopi yang dinyatakan lolos dan mendapatkan sertifikat ini harus memenuhi 145 persyaratan yang bakal diterapkan sesuai praktik di lapangan.

Untuk praktik pertanian kopi, pemegang sertifikat harus menjamin bahan tanam pertanian jelas dan tidak menggunakan pestisida. 

Lewat sertifikasi ini, bukan hanya kualitas kopi yang dijaga, melainkan juga kepastian harga jual kopi di pasaran yang semestinya menguntungkan para petani.