Kisah Cinta Soekarno dan Yurike Sanger serta Pesan Terakhir di Bungkus Rokok

Kisah cinta Presiden pertama RI, Soekarno, dengan Yurike Sanger menjadi salah satu episode penting dalam perjalanan hidup Sang Proklamator.
Hubungan keduanya bermula dari pertemuan sederhana di barisan Bhinneka Tunggal Ika, berkembang menjadi perhatian khusus, hingga akhirnya berujung pada pernikahan dan perpisahan.
Pertemuan Pertama di Istora
Yurike mengenang awal mula dirinya menjadi anggota ke Barisan Bhinneka Tunggal Ika saat upacara bendera, pada tahun 1963. Kala itu, Yurike tampil menggunakan kebaya Jawa.
Setelah mendapat pengarahan, ia tampil perdana dalam sebuah acara kepresidenan di Istora Senayan (Istana Olahraga Bung Karno).
"Aku yang merupakan anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika termuda tampil dengan kebaya Jawa," tulis Yurike dalam Catatan nya dikutup dari artikel Kisah Cinta Soekarno dan Yurike Sanger
Di luar dugaan, Soekarno berhenti tepat di hadapannya dan menyapa. Dengan penuh rasa gugup, Yurike menjawab pertanyaan singkat sang presiden. Bung Karno sempat keliru mengira Yurike yang kala itu masih duduk di bangku SMP sebagai seorang mahasiswi karena posturnya yang tinggi.
Dalam perkenalan itu, Bung Karno sempat berpesan agar Yurike tidak menggunakan nama dengan akhiran "ke" atau "ce".
"Pakai Yuri saja. Nama dengan embel-embel 'ke' atau 'ce' itu kebarat-baratan, tidak sesuai dengan kepribadian nasional kita," ujar Bung Karno.
Sejak tatapan pertama itu, Yurike mengaku kagum. "Matanya yang jernih dan terang itu sepertinya hinggap ke pusat mataku... Bicaranya mantap, wajahnya tampan, dan makin tampak gagah dengan jas cokelat tua," tulisnya.
Perhatian Khusus Bung Karno
Sukarno memberikan jawaban untuk pidato sambutan Kennedy di Pangkalan Angkatan Udara Andrews.
Seiring keterlibatannya dalam kegiatan resmi, Yurike Sanger semakin sering bertemu Bung Karno. Ia kerap diminta duduk di dekat presiden saat acara, bahkan Bung Karno kerap mengambilkan kue tradisional untuknya.Di Istana Bogor, Bung Karno pernah memanggil Yurike dengan suara lantang saat tengah makan malam bersama tamu negara. Kursi di sebelahnya sengaja dikosongkan untuk Yurike.
Momen lain terjadi saat pembukaan Ganefo, ketika protokol istana menunjuk Yurike untuk menyambut Bung Karno turun dari mobil kepresidenan, tugas yang tak lazim bagi anggota Bhinneka Tunggal Ika.
Kedekatan keduanya semakin jelas saat Bung Karno mengantar Yurike pulang dengan sedan Lincoln. Ia bahkan meminta Yurike memanggilnya "Mas", bukan "Pak".
"Mustahil presiden yang usianya di atas ayahku minta dipanggil 'Mas' oleh seorang gadis SMA," tulis Yurike.
Bung Karno pun sering mengajaknya dalam perjalanan incognito keliling kota. Dalam salah satu kesempatan di tepi pantai, Bung Karno blak-blakan menyatakan perasaan.
"Apa adik tahu Mas mencintai adik?" kata Bung Karno, membuat Yurike terkejut.
Lamaran Bung Karno
Keinginan Bung Karno memperistri Yurike semakin nyata. Setelah peresmian pembangunan Wisma Nusantara pada 1 April 1964, Bung Karno menghadiahi Yurike sebuah kalung dari koleksi pribadinya.
Lamaran resmi kemudian disampaikan langsung ke orangtua Yurike dalam jamuan makan malam. Meski terkejut, keluarga menerima dengan syarat meminta waktu untuk mempertimbangkan.
"Aku hanyalah gadis yang baru dijemput ambang remaja... tiba-tiba saja seorang lelaki melamarku, dan dia justru seorang presiden," tulis Yurike mengenang.
Pernikahan dengan Bung Karno
Akhirnya, pernikahan dilangsungkan pada Kamis, 7 Agustus 1964 secara Islam. (Catatan: ada versi keliru menyebut tahun 1946, tetapi sumber keluarga menyebut 1964).
Selama menikah, Yurike sempat tinggal bersama orangtuanya, sebelum diberi rumah oleh Bung Karno di kawasan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Rumah itu merupakan sitaan kejaksaan dari seorang buronan.
Namun, kehidupan rumah tangga tidak selalu indah. Yurike merasa sepi di rumah besar dengan pagar tinggi itu. Ia juga harus menjalani operasi karena kehamilan di luar kandungan di RS Husada.
Ketika seorang dokter muda menghadiahkan majalah asing yang memuat foto mesra Bung Karno dengan aktris Italia Gina Lolobrigida, Bung Karno murka. Ia bahkan memerintahkan pengawal istana memanggil sang dokter untuk diperiksa.
Masa Sulit dan Perceraian
Setelah kejatuhan Soekarno dari kursi presiden pada 12 Maret 1967, kehidupan berubah drastis. Bung Karno harus meninggalkan istana dan hidup dalam isolasi di Wisma Yaso.
Tahun 1968, Yurike pun dipaksa meninggalkan rumah Cipinang Cempedak. Ia Sempat menolak hingga ada pesan Bung Karno yang ditulis di atas bungkus rokok:
"Dik, lebih baik tinggalkan rumah itu, toh bukan rumah kita."
Yang lebih menyakitkan, Bung Karno menyarankan Yurike untuk mengajukan cerai demi masa depannya.
"Aku sedih, betul-betul sedih. Tidak kubayangkan perkataan itu keluar dari bibir Bung Karno," ungkap Yurike.
Meski menolak, akhirnya perceraian harus terjadi. Keduanya berpisah baik-baik meski masih saling mencintai.
Wafat di Amerika Serikat
Puluhan tahun setelah kisah cinta itu, kabar duka datang. Yurike Sanger, istri ketujuh Bung Karno, meninggal dunia pada Rabu (17/9/2025) di San Gorgonio Memorial Hospital, California, Amerika Serikat, setelah berjuang melawan kanker payudara.
Yurike meninggal pada usia 81 tahun. Kabar wafatnya disampaikan langsung oleh putranya, Yudhi Sanger, lewat unggahan Instagram penuh haru.
"Selamat Jalan Mama Tercinta, Yudhi yang akan jaga Mama di sana yaa. Tunggu Yudhi ya Ma. Mama sudah happy, Mama sudah fight dari semua penyakit Mama di dunia," tulis Yudhi.
Rencananya, jenazah Yurike Sanger akan diterbangkan ke Indonesia dan disemayamkan di Rumah Duka RS Fatmawati, Jakarta Selatan, sebelum dimakamkan.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.