Pesan Persija kepada The Jakmania di Laga Terakhir: Jangan Pesta Flare!
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan Persija Jakarta, Ferry Indrasjarief, mengimbau kepada The Jakmania untuk tidak berpesta flare pada laga terakhir Macan Kemayoran.
Pasalnya, klub bisa mendapatkan denda ratusan juta andai suporter tetap nekat melakukan hal tersebut.
2026 segera memasuki pekan ke-34 atau pekan terakhirnya di musim ini.
Persija dijadwalkan menjamu Semen Padang di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Duel Persija Jakarta vs Semen Padang akan kick off pada pukul 16.00 WIB.
Laga ini sejatinya sudah tak menentukan bagi kedua tim. Pasalnya, hasil apa pun yang didapat tak akan mengubah posisi mereka di klasemen akhir.
Persija sudah dipastikan finis di posisi ketiga. Saat ini Macan Kemayoran telah mengoleksi 68 angka.
Kemenangan di laga pamungkas kontra Kabau Sirah tetap tak akan mengubah peringkat tim asuhan Mauricio Souza lantaran Borneo FC yang duduk di peringkat kedua mengoleksi 76 poin.
Persebaya Surabaya juga tak bisa mengejar Persija karena perbedaan poin yang cukup jauh.
Sementara, Semen Padang juga sudah pasti terdegradasi ke Championship menemani PSBS Biak.
Momen Penutup Musim
Meski begitu, laga ini bakal menjadi momen penutup musim yang manis bagi The Jakmania sebelum menyongsong musim baru.
Sebagai perpisahan, kabarnya The Jakmania bakal mengadakan pesta flare pasca pertandingan kontra Semen Padang ini.
Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh suporter PSS Sleman dan Persik Kediri.
Menyoal tersebut, pria yang akrab disapa Bung Ferry itu mengungkapkan pesan dari manajemen Persija agar suporter tak menyalakan apalagi sampai melakukan pesta flare.
"Begini, saya bagian dari kepanitiaan, jadi harus taat pada regulasi," kata Bung Ferry kepada awak media.
"Saya tidak mungkin mengeluarkan pernyataan yang memperbolehkan pesta flare," tegasnya.
Lebih lanjut, Bung Ferry tak menampik bahwa pesta flare sebenarnya merupakan hal yang sangat indah dan dinikmati oleh suporter.
Seperti yang terlihat ketika di Kediri pada akhir pekan lalu. Namun, saat itu flare menyala setelah pertandingan berakhir.
"Sebagai suporter, jujur saya juga pernah menikmati atmosfer seperti itu. Waktu di Kediri, saya menonton sebagai penonton biasa dan suasananya memang menarik," ujar Bung Ferry.
"Awalnya sempat kaget kena petasan, tapi saat flare dinyalakan memang indah dilihat."
"Tapi bedanya, di Kediri flare dinyalakan setelah pertandingan selesai dan pemain sudah meninggalkan lapangan. Beda dengan di Bali yang flare dinyalakan saat pertandingan masih berlangsung," jelasnya.
Imbau Tak Nyalakan Flare
Kendati demikian, Bung Ferry tetap mengimbau kepada The Jakmania agar tetap mematuhi aturan dan tak merugikan klub.
Sebab, satu flare saja yang menyala, Persija bisa mendapat sanksi dari Komite Disiplin PSSI yang salah satu bentuknya berupa denda uang.
Nominalnya pun tak main-main. Mulai dari Rp10 juta hingga Rp250 juta.
"Sekali lagi, regulasinya tetap ada. Saya juga sudah koordinasi dengan Liga. Kata mereka satu flare saja dendanya Rp10 juta dan kalau jumlahnya banyak bisa sampai Rp250 juta," ucap pria 61 tahun.
"Makanya saya tetap tidak menganjurkan anak-anak melakukan pesta flare," paparnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang