Gandeng Xynexis, Peruri Gugah Kesadaran Publik Soal Pentingnya Keamanan Siber hingga AI
BUMN percetakan uang Republik Indonesia, Peruri, menegaskan pentingnya pembahasan isu-isu terkait cyber security, artificial intelligence (AI), quantum computing, dan privasi data, guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan perkembangan hal-hal terkait digitalisasi di era saat ini.
Guna mengumpulkan para pemimpin industri, pembuat kebijakan, pakar teknologi, serta stakeholder industri terkait lainnya, Peruri bersama Xynexis pun menggelar 'Digital Resilience Summit 2025' di Jakarta pada 10–11 September 2025.
Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo alias Tiko mengatakan, acara ini tidak hanya bicara soal teknologi, melainkan tentang masa depan kelebihan bangsa di era digital. Menurutnya, transformasi digital di Indonesia saat ini makin berkembang pesat, dimana hingga 2024 tercatat lebih dari 220 juta masyarakat Indonesia telah terhubung ke internet.
"Ini menjadikan kita salah satu komunitas digital terbesar di dunia. Nilai ekonomi digital Indonesia bahkan diperkenalkan mencapai US$109 miliar pada 2025, dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara," kata Tiko dalam keterangannya, Rabu, 10 September 2025.
[dok. Humas Peruri]
Dia menambahkan, di balik potensi tersebut nyatanya masih banyak ancaman, perubahan, dan resiko yang akan ditimbulkan. Misalnya seperti serangan siber yang kian masif, dan menargetkan seluruh sektor strategis seperti sektor perbankan, kesehatan, energi, hingga pemerintahan.
Tiko mengatakan, ancaman itu nantinya juga akan bisa mengganggu situs lembaga dan perusahaan, yang berpotensi menimbulkan risiko reputasi dan risiko keuangan.
"Kita sepakat membangun ekosistem digital dan infrastrukturnya bersama-sama. Jadi kita harus lebih siap dari serangan yang terjadi di masa depan," ujarnya.
Senada, Direktur Utama Peruri, Dwina Septiani Wijaya mengatakan, 'Digital Resilience Summit 2025' adalah platform strategis untuk memposisikan Peruri, sebagai pemimpin dalam ekosistem teknologi dan keamanan siber Indonesia. Serta, sebagai pionir dalam transformasi digital yang lebih aman dan efisien.
Dwina menyampaikan, perkembangan teknologi yang sangat pesat khususnya di bidang keamanan siber, kecerdasan buatan (AI), dan komputasi kuantum, telah menghadirkan sejumlah tantangan sekaligus peluang besar bagi berbagai sektor.
"Karena di era disrupsi digital yang kompleks dan penuh risiko seperti saat ini, menuntut pendekatan strategis serta kolaboratif lintas sektor untuk memperkuat ketahanan digital nasional," ujarnya.