Kenapa Sebaiknya Memaafkan Orangtua Sebelum Jadi Orangtua?
Menjadi orangtua bukan hanya soal mempersiapkan finansial dan fisik. Dalam prosesnya, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian yaitu pentingnya memaafkan orangtua sebelum menjalankan peran sebagai orangtua.
Psikolog keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menyampaikan, setiap orang membawa memori masa kecil dalam cara mereka membesarkan anak.
Jika memori itu berisi luka atau pengalaman buruk yang belum disadari dan diproses, luka tersebut berisiko diwariskan ke anak tanpa disadari.
“Memaafkan orangtua bukan soal membenarkan perlakuan mereka yang menyakiti, tapi agar kita tidak menjadi orangtua yang melanjutkan pola yang sama,” ujar Sukmadiarti saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (15/7/2025).
Kenapa harus memaafkan orangtua sebelum jadi orangtua?
Luka masa kecil berpengaruh ke pola asuh
Sukmadiarti mencontohkan, seseorang yang tumbuh dengan orangtua otoriter atau kerap mengabaikan emosinya, bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit memahami emosi anak.
Saat anak menangis atau rewel, ia bisa langsung terpancing emosi. Bukan karena perilaku anak, tapi karena luka lamanya ikut terpicu.
“Orangtua yang belum berdamai dengan luka masa lalu cenderung mengasuh anak dari tempat trauma. Anak bisa jadi korban ‘sambung trauma’ antar generasi,” tuturnya.
Memaafkan orangtua adalah proses memutus rantai
Memaafkan orangtua tak berarti membenarkan luka lama, tapi agar kita tak mewariskannya ke anak kelak. Ini penting dilakukan sebelum jadi orangtua.
Menurut Sukmadiarti, proses memaafkan orangtua membutuhkan waktu, kesadaran, dan keinginan untuk berubah.
Hal ini dimulai dengan menerima kenyataan bahwa orangtua kita pun manusia yang punya keterbatasan, luka, atau mungkin tidak mendapat bekal pengasuhan yang sehat dari generasi sebelumnya.
Namun, memaafkan tidak berarti membiarkan atau melupakan kesalahan mereka. Justru tindakan ini adalah bentuk keberanian untuk memilih jalur yang berbeda saat kelak menjadi orangtua.
“Dengan memaafkan, kita belajar memahami pengalaman hidup kita sendiri dan memberi ruang untuk memperbaiki cara kita memperlakukan anak nantinya,” katanya.
Lebih siap secara emosional jadi orangtua
Memaafkan orangtua tak berarti membenarkan luka lama, tapi agar kita tak mewariskannya ke anak kelak. Ini penting dilakukan sebelum jadi orangtua.
Menurut Sukmadiarti, memaafkan orangtua dapat memberi efek emosional yang besar.
Seseorang menjadi lebih tenang, punya ruang berpikir lebih jernih, dan tidak cepat meledak saat menghadapi tantangan dalam membesarkan anak.
“Pola pengasuhan itu refleksi dari kondisi emosional kita. Saat kita tidak punya beban emosional terhadap masa lalu maka kita bisa mengasuh anak dari tempat yang lebih sadar dan stabil,” jelasnya.
Mintalah bantuan profesional jika perlu
Bagi sebagian orang, memaafkan bukan perkara mudah. Ada pengalaman yang sangat menyakitkan hingga sulit dibicarakan. Sukmadiarti menyarankan agar proses ini tidak dijalani sendiri.
Bantuan dari profesional, seperti psikolog atau terapis, sangat membantu memetakan luka, memproses emosi, dan membangun cara pandang baru terhadap peran sebagai orangtua.
Menjadi orangtua bukan soal memulai dari nol, tapi tentang berani menyadari bagasi emosional (emotional baggage) yang kita bawa.
Dengan memaafkan orangtua, kita tidak hanya menyembuhkan diri, tapi juga memberi ruang bagi anak untuk tumbuh tanpa mewarisi luka yang sama.