Mandi Air Dingin sampai Ngopi Setelah Olahraga, Mana yang Efektif untuk Pemulihan
Sama pentingnya dengan latihan olahraga itu sendiri, tubuh juga membutuhkan waktu jeda dan pemulihan yang cukup. Saat berolahraga, otot, sendi, dan berbagai jaringan tubuh mengalami tekanan serta mikrokerusakan yang merupakan bagian normal dari proses adaptasi.
Pada fase pemulihan inilah tubuh bekerja memperbaiki jaringan yang rusak, mengisi kembali cadangan energi, serta membangun kekuatan dan daya tahan yang lebih baik.
Banyak orang memiliki cara masing-masing untuk memulihkan tubuh. Ada yang langsung berendam atau mandi air dingin, melakukan pijat olahraga, melakukan peregangan, hingga bersantai di cafe sambil masih mengenakan pakaian olahraga yang basah oleh keringat.
Lantas, apakah berbagai kebiasaan yang sering dilakukan setelah berolahraga itu memang mendukung perbaikan tubuh atau justru sebaliknya? Simak penjelasan dr.Alan Cheung, konsultan senior ahli bedah ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura.
Mandi pakai air dingin dan cryotherapy
Fenomena mandi air dingin, bahkan berendam di air es, pasca-latihan intens dipercaya dapat mempercepat pemulihan kebugaran.
Menurut dr. Alan Cheung, praktik pengondisian suhu ini secara umum tidak dilarang untuk dilakukan. Namun, tetap utamakan fase pendinginan otot (cooling down) melalui gerakan peregangan pasca-latihan secara disiplin.
"Saya tidak merasa mandi di pancuran air dingin itu berbahaya, asalkan lakukan peregangan setelahnya agar tubuh tidak menjadi kaku," jelas dr. Cheung.
Metode pendinginan ekstrem seperti cryotherapy dapat digunakan pada kasus terjadi cedera tertentu. Metode tersebut berguna pada 48 jam pertama untuk menekan pembengkakan awal.
"Jika Anda mengalami cedera, tubuh sebenarnya membutuhkan peradangan untuk pulih," terang dr. Cheung.
Efektivitas pijat olahraga vs penanganan medis
Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com di Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Dari kacamata ilmu kedokteran olahraga, pijat olahraga hanya merespons gejala, bukan mencegah kemungkinan terjadinya robekan ligamen pada sesi latihan berikutnya.
"Bagi saya, pijat olahraga lebih bertujuan untuk relaksasi otot, meredakan otot yang sakit, serta sendi yang kaku, sebagai pendamping untuk perawatan seperti fisioterapi," ungkap dr. Cheung.
Fisioterapi jauh lebih disarankan secara medis karena pakar akan memberikan program latihan inti yang bertugas memperkuat area tubuh yang lemah agar tidak mudah cedera lagi.
Terlebih jika nyeri tidak tertahankan, metode pijat berisiko memperburuk peradangan yang belum terdiagnosis secara akurat.
"Jika rasa sakitnya parah, tidak cepat membaik, dan setelah mencoba pijat masih terasa sakit hingga Anda tidak dapat berjalan dengan benar, maka sebagian besar orang harus mencari bantuan medis untuk pemindaian MRI," tutur dr. Cheung.
Budaya nongkrong usai berolahraga
Duduk bersantai di cafe pasca-olahraga sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Terkait dampaknya pada kualitas pemulihan persendian, hal tersebut sepenuhnya dikembalikan pada prioritas pembentukan fisik masing-masing individu.
"Itu bergantung pada apa tujuan. Jika tujuan utama Anda berolahraga adalah untuk bersosialisasi dan berkumpul bersama teman-teman, maka mengapa tidak? Lakukan saja apa yang Anda inginkan," kata dr. Cheung.
Jika tujuan berolahraga adalah untuk menurunkan berat badan, jangan lupa untuk tetap memantau kalor dari makanan yang disantap.
Tingkat stres dan pemulihan tubuh pasca-cedera
Banyak yang meyakini bahwa kondisi psikologis, seperti minimnya stres atau tingginya perasaan bahagia, mempercepat perbaikan tubuh usai cedera.
Faktanya, hal tersebut tidak berpengaruh secara signifikan dalam menyembuhkan luka fisik pasca-trauma karena tubuh sudah memiliki sistem perbaikan otomatis.
"Apa pun tingkat stres Anda, tubuh akan pulih sesuai dengan kecepatannya sendiri. Anda tidak dapat mengendalikannya melalui pikiran," terang dr. Cheung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang