Mencoba "Rotasella", Game Puzzle Buatan Mahasiswa ITB yang Bikin Penasaran sejak Level Pertama
Di tengah hiruk-pikuk arena Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2025 di Bali, ada sebuah game sederhana dengan gaya tampilan pixelart yang menarik perhatian.
Bukan karena grafisnya, tapi justru karena gamenya yang sederhana memancing rasa penasaran.
Game tersebut bernama Rotasella. Game karya tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sukses menjadi juara Garena Game Jam 2 di Surabaya, Januari lalu.
KompasTekno berkesempatan mencoba game yang belum dirilis ini. Saat pertama kali memainkannya, Rotasella tampak simpel.
Hanya dua tombol yang bisa digunakan: kiri dan kanan. Namun dari situ, justru letak keasyikannya. Dengan dua tombol saja, game ini membuat pemain berpikir keras tapi tetap menyenangkan.
Dua hari, satu ide cemerlang
Game Rotasella, pemenang Garena Game Jam 2, dipamerkan di Indonesia Game Developer Exchange 2025 di Bali, Sabtu (11/10/2025).
Game ini dibuat oleh tim bernama Flying Dutch Man, yang beranggotakan Muhammad Jafar Fadli (Fakultas Teknik Telekomunikasi), Luzhanifa Savina Yasmine (Fakultas Bio-engineering), dan Izzah Imani (Fakultas Seni Rupa dan Desain).
Mereka menciptakan Rotasella hanya dalam dua hari, mulai dari ide hingga tahap eksekusi enam level pertamanya. Hanya butuh dua hari untuk melahirkan game yang tidak hanya unik secara konsep, tapi juga menantang logika pemain.
Game ini diisi dengan karakter utama yang duduk di kursi roda dan harus melarikan diri dari laboratorium misterius. Setiap level menguji kemampuan berpikir pemain dengan cara yang tidak biasa.
Simpel tapi rumit
Game Rotasella menuntut pemain menjadi lebih peka terhadap petunjuk. Karena petunjuk kecil justru bisa jadi kunci memecahkan teka-teki.
Jalan ceirta game Rotasella memang sederhana yaitu karakter berusaha kabur lewat pintu di setiap level.
Namun, cara untuk keluar dari setiap ruangan itulah yang bikin penasaran. Misalnya, di level pertama, pintu keluar terletak di atas, sementara karakter hanya bisa bergerak ke kanan dan kiri.
Di sinilah tantangan dimulai. Pemain harus mencari cara agar karakter bisa naik ke atas lewat mekanisme atau rangkaian tindakan tertentu.
Dalam game ini, sebuah petunjuk kecil menjadi kunci untuk menembus ke level berikutnya.
Bikin ketagihan
Game Rotasella membawa gameplay unik. Pemain hanya dibekali dua tombol untuk memecahkan teka-teki. Game ini membuat pemainnya penasaran.
Total ada 10 level yang bisa dimainkan sejauh ini. Namun dari pengalaman kami mencoba beberapa level, rasanya tidak berlebihan kalau menyebut Rotasella sebagai game yang bikin ketagihan.
Setiap level membuat pemain penasaran dan ingin tahu logika seperti apa yang harus digunakan.
Tampilan pixelart-nya yang sederhana dan warna hitam putih justru membuat pemain fokus berpikir tanpa ada distraksi. Tidak ada gangguan visual berlebihan, tidak ada suara bising, hanya ada karakter di kursi roda dan teka-teki yang harsdipecahkan.
Game Rotasella tidak menuntut kecepatan. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalh kesabaran dan rasa ingin tahu.
Jika Anda adalah penggemar game yang slow, tidak kompetitif dengan pemain lain, dan tidak ingin dikejar waktu, Rotasella sangat layak untuk dicoba.
Game ini rencananya akan dirilis di Steam pada akhir tahun 2025 ini. Menruut tim Flying Dutchman, saat ini pengerjaan Rotasella masih 50 persen penyempurnaan. Game ini akan dirilis berbayar dan tidak memmbawa "jebakan" in-app purchase.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.