Riset Cisco: AI bisa jadi Bumerang

Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go.
Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go.

Risiko ini muncul akibat ketidakselarasan antara adopsi teknologi yang cepat dengan kesiapan infrastruktur pendukungnya.

Managing Director Cisco Indonesia Cin Cin Go menyebut keputusan infrastruktur yang diambil perusahaan saat ini akan menjadi penentu utama pencapaian bisnis di masa depan.

Ia menilai, perusahaan perlu menghindari penumpukan utang infrastruktur kecerdasan buatan yang dapat menghambat inovasi.

"Pilihan infrastruktur sekarang menentukan masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitekturnya dengan beda-beda. Mereka membangun pondasi yang berorientasi pada jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal,” ujarnya, Jumat, 30 Januari 2026.

Laporan AI Readiness Index 2025 menyoroti adanya kelompok elit yang disebut AI Pacesetters, yang mencakup 13 pesen perusahaan global.

Kelompok ini dinilai berhasil mengimplementasikan AI pada skala yang tepat untuk mencapai tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal.

tanda awal tumpukan utang infrastruktur mulai terlihat masif di Indonesia.

Banyak organisasi mengimplementasikan agen kecerdasan buatan (AI agent) jauh lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengamankan dan mengelola infrastruktur pendukungnya.

Menurut riset AI Readiness Index, perusahaan yang unggul dalam penerapan AI memiliki kesamaan mendasar yaitu, mereka membuat pilihan-pilihan arsitektur strategis yang tidak dilakukan oleh kompetitor.

Sebagai contohnya dalam aspek daya, lebih dari setengah perusahaan di Indonesia memperkirakan beban kerja AI akan meningkat di atas 50 persen dalam 3 hingga 5 tahun ke depan.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa 43 persen perusahaan masih kekurangan infrastruktur daya yang memadai untuk menopang pertumbuhan tersebut.

Kesenjangan infrastruktur juga terlihat dari sisi jaringan. Hanya 29 persen perusahaan di Indonesia yang menilai jaringan mereka sudah optimal untuk mendukung beban kerja AI.

Angka ini tertinggal jauh dibandingkan kelompok Pacesetters yang mencapai level kesiapan jaringan sebesar 81 persen.

Selain itu, integrasi AI dengan jaringan di Indonesia baru mencapai angka 51 persen.

Capaian ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat integrasi rata-rata global yang telah menyentuh angka 79 persen.

Dari sisi keamanan siber, tantangan terbesar muncul seiring hadirnya agen AI otonom.

Data menunjukkan bahwa meski 97 persen organisasi di Indonesia telah menerapkan agen AI otonom, hanya 42 persen yang dinilai mampu mengamankannya dengan baik.

Pacesetters juga memandang penerapan model AI sebagai titik awal, bukan garis akhir.

Sebanyak 72 persen dari kelompok pemimpin pasar ini memanfaatkan pemantauan berkelanjutan, berbanding terbalik dengan rata-rata organisasi di Indonesia yang baru mencapai 38 persen.