Sejarah 3 Terowongan Kereta Api di Jalur Reaktivasi Banjar-Pangandaran
Rencana reaktivasi jalur kereta api Banjar-Pangandaran sepanjang 82 kilometer kini menjadi salah satu proyek konektivitas jalur kereta paling dinanti.
Jalur yang telah lama tertidur ini menyimpan harta karun berupa tiga terowongan legendaris peninggalan era kolonial yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Dalam arsip pemberitaan detikJabar 2024 lalu, ketiga terowongan legendaris ini diberi nama Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana. Terowongan-terowongan ini telah berusia lebih dari satu abad dan dalam tahap pengkajian teknis untuk memastikan kekokohan strukturnya sebelum kembali dilintasi si "Ular Besi".
1. Terowongan Hendrik
Terowongan Hendrik yang terletak di Desa Kalipucang menjadi pintu pembuka eksotisme jalur ini dengan panjang lintasan mencapai 106 meter. Bangunan yang membelah perbukitan batu breksi ini memiliki langit-langit beton cor yang masih sangat kokoh dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter.
Uniknya, konstruksi mulut terowongan di sisi selatan menggunakan batu kali setinggi 2,5 meter yang tertata rapi, lengkap dengan sistem drainase sedalam 20 cm di kedua sisinya yang masih berfungsi dengan baik sebagai bukti kecanggihan arsitektur masa lalu.
2. Terowongan Wilhelmina

Terowongan Wilhelmina di Pangandaran Foto: Tri Ispranoto/detikTravel
Terowongan ini berdiri megah di Desa Bagolo sebagai terowongan kereta api terpanjang di Indonesia dengan jarak tempuh mencapai 1.116 meter. Dinamai sesuai dengan nama Ratu Belanda, terowongan ini memiliki lintasan yang lurus sempurna sehingga cahaya dari ujung seberang tetap terlihat meski jaraknya mencapai lebih dari satu kilometer.
Interior terowongan dengan lebar 4 meter dan tinggi 4,5 meter ini masih dipenuhi sisa-sisa batu koral dari bantalan rel lama, menciptakan atmosfer sejarah yang sangat kuat bagi siapa pun yang memasukinya.
3. Terowongan Juliana
Berada di Desa Pamotan memiliki panjang 147 meter, terowongan ini dikenal karena keunikan desain interiornya yang tidak biasa. Berbeda dengan Wilhelmina, bagian tengah terowongan ini dirancang berkelok sehingga ujung keluar tidak dapat terlihat langsung dari pintu masuk, memberikan sensasi petualangan tersendiri bagi para penumpang nantinya.
Struktur mulut terowongannya tampil artistik dengan perpaduan bentuk setengah lingkaran di atas dan persegi di bawah, dibalut plesteran batu halus yang menandakan estetika tinggi pada masa pembangunannya.