Kenapa Kita Makan 3 Kali Sehari? Inilah Sejarah di Balik Tradisi Tersebut
Pernahkah kamu merasa bersalah kalau melewatkan sarapan, atau merasa ada yang kurang kalau belum makan siang padahal perut belum lapar-lapar amat?
Kita seolah sudah diprogram secara otomatis untuk makan tiga kali sehari, pagi, siang, dan malam.
Tapi, ternyata manusia tidak selalu makan dengan pola kayak Ini. Tradisi makan tiga kali sehari bukan aturan biologis dari alam, melainkan hasil dari perubahan sejarah, budaya, dan tuntutan pekerjaan.
Menurut laporan dari Mashed, (10/5/26), ribuan tahun lalu, waktu makan manusia purba sangat bergantung pada ketersediaan cahaya matahari dan tentu saja, apakah ada makanan yang bisa diburu atau dipetik.
Tidak ada istilah "jam makan siang" jam 12 tepat.
Bahkan, bangsa Romawi Kuno punya pandangan unik. Mengutip Smithsonian Magazine, “The History of Breakfast” orang Romawi sebenarnya merasa lebih sehat kalau cuma makan satu kali sehari dengan porsi besar.
Mereka menganggap makan lebih dari sekali sehari itu rakus dan nggak baik buat pencernaan.
Nama "Breakfast" sendiri secara harfiah berarti breaking the fast atau membatalkan puasa (dari tidur malam).
Menurut Mashed, istilah ini dipopulerkan oleh para biarawan di abad pertengahan. Namun, saat itu sarapan bukan ritual wajib.
Dulu, sarapan dianggap hanya untuk orang yang sakit, anak-anak, atau pekerja kasar yang butuh tenaga ekstra di pagi buta. Orang dewasa yang sehat biasanya baru makan besar pertama kali di waktu yang kita sebut sekarang sebagai "makan siang".
Revolusi Industri, Awal Tradisi Pola Makan 3 Kali Sehari
Inilah titik baliknya. Pola makan tiga kali sehari yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah produk dari Revolusi Industri di abad ke-18 dan 19.
orang mulai bekerja di pabrik dengan jam kerja yang kaku, mereka nggak bisa lagi pulang ke rumah untuk makan siang santai bareng keluarga.
Berdasarkan catatan JSTOR Daily, para pekerja butuh asupan energi sebelum berangkat (sarapan), jeda singkat di tengah hari (makan siang/lunch), dan makan besar saat pulang kerja (makan malam).
Kata "lunch" sendiri awalnya berasal dari kata luncheon, yang di abad ke-16 berarti camilan kecil yang bisa dimakan sambil berdiri atau bekerja.
Gara-gara tuntutan jam kerja pabrik, camilan ini "naik kelas" jadi makan siang resmi.
Taktik Marketing di Balik "Sarapan adalah Makan Paling Penting"
Pernah dengar jargon kalau sarapan itu makan paling penting seharian? Ternyata itu bukan murni saran medis, tapi strategi marketing!
Mashed menyebutkan bahwa pada tahun 1940-an, perusahaan sereal melakukan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan penjualan produk mereka.
Mereka meyakinkan masyarakat bahwa sarapan sereal adalah kunci kesehatan dan produktivitas. Sejak saat itulah, ide sarapan sebagai "kewajiban" makin melekat kuat di kepala kita.
Apakah Kita Benar-Benar Butuh 3 Kali Makan?
Secara medis, jumlah makan harian itu sebenarnya fleksibel. Beberapa ahli gizi di Mashed menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda-beda tergantung aktivitas, metabolisme, dan kondisi kesehatan (seperti diabetes).
Beberapa orang merasa lebih cocok dengan intermittent fasting (puasa berkala), sementara yang lain lebih suka makan porsi kecil 5-6 kali sehari.
Jadi, pola "tiga kali sehari" lebih ke arah tradisi sosial daripada kewajiban biologis.
Jadi, alasan kita makan tiga kali sehari sekarang adalah campuran antara warisan jam kerja buruh pabrik zaman dulu dan strategi iklan perusahaan makanan.
Tradisi ini membantu kita mengatur jadwal harian agar lebih teratur, tapi bukan berarti kamu "berdosa" kalau sesekali melewatkan salah satunya.
Makanlah saat kamu butuh energi, dan yang paling penting, perhatikan kualitas nutrisinya, bukan cuma sekadar mengikuti jam dinding!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang