Kartini Zaman Now Bukan Cuma Anggun, Tapi Juga Berani Cari Nafkah di Jalanan

Patung RA Kartini dipasangi masker di Kota Jepara Jawa Tengah, 25 Juni 2020
Patung RA Kartini dipasangi masker di Kota Jepara Jawa Tengah, 25 Juni 2020

 Perayaan Hari Kartini kini tak lagi hanya identik dengan kebaya dan lomba memasak. Di tengah perkembangan era digital, makna perjuangan perempuan Indonesia ikut berubah. Banyak perempuan kini tak hanya dituntut mandiri secara finansial, tetapi juga harus mampu bertahan di ruang publik yang penuh tantangan, termasuk di jalanan dan dunia teknologi.

Fenomena itu terlihat dari semakin banyaknya perempuan yang terjun menjadi pengemudi transportasi online, pelaku UMKM digital, hingga mulai masuk ke industri teknologi yang selama ini masih didominasi laki-laki. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun di balik meningkatnya partisipasi perempuan tersebut, muncul tantangan baru yang tak kalah besar: rasa aman, literasi keuangan, hingga kepercayaan diri untuk berkembang di dunia digital.

Melihat kondisi tersebut, sejumlah program pemberdayaan perempuan mulai bermunculan dengan pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan modern. Salah satunya lewat pelatihan bela diri bagi pengemudi perempuan, edukasi keuangan untuk pelaku UMKM, hingga ruang diskusi teknologi untuk generasi muda perempuan.

“Di Grab, kami ingin memastikan setiap perempuan di dalam ekosistem memiliki ruang untuk tumbuh dan mandiri. Fokus kami adalah memberikan mereka wadah untuk berkembang, sehingga mereka mampu membuka jalan dan menginspirasi perempuan lainnya untuk menciptakan dampak yang lebih luas,” ujar Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 9 Mei 2026. 

Salah satu perhatian terbesar datang dari aspek keamanan perempuan yang bekerja di jalan. Banyak pengemudi perempuan mengaku masih menghadapi situasi yang membuat mereka tidak nyaman saat bekerja.

Karena itu, pelatihan perlindungan diri mulai dianggap penting, bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan mental menghadapi risiko di ruang publik.

“Kemampuan dasar untuk melindungi diri bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal kesiapan mental dan kesadaran situasional. Dengan latihan yang tepat, perempuan dapat lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi di ruang publik, termasuk saat bekerja di jalan,” kata Dennis Laoh, Internationally Accredited Urban Self Protection Coach sekaligus pengajar di Gym Bela Diri Kida Dharmawangsa.

Bagi para pengemudi perempuan sendiri, dukungan seperti ini dinilai sangat membantu untuk meningkatkan rasa aman saat bekerja.

“Senang banget bisa ikut pelatihan ini bareng mpok dan tante sesama Mitra Pengemudi perempuan. Saya jadi lebih kebayang harus gimana kalau ada situasi nggak enak di jalan. Apalagi sekarang juga dibantu sama fitur keamanan lewat aplikasi buat driver, seperti tombol keamanan dan kamera Dashcam. Jadi lebih tenang dan pede setiap narik,” ungkap Putri Herawati, Mitra Pengemudi GrabCar.

Tak hanya soal keamanan, tantangan lain yang banyak dihadapi perempuan adalah mengelola keuangan usaha. Di tengah tren bisnis online dan kuliner rumahan yang semakin berkembang, banyak pelaku UMKM perempuan ternyata masih kesulitan mengatur arus kas dan dana darurat usaha.

“Bagi pelaku UMKM, pengelolaan keuangan yang sehat menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Dengan memahami cara mengatur arus kas dan membangun dana darurat, pelaku usaha dapat lebih siap menghadapi tantangan sekaligus mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan,” ujar Financial Planner Ayu Sara Herlia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal itu juga dirasakan Trivena Florentina, pemilik usaha kuliner yang kini mulai memahami pentingnya memisahkan uang pribadi dan bisnis.

“Banyak insight baru yang saya dapatkan, terutama soal cara mengelola keuangan usaha. Sekarang, saya jadi lebih paham cara mengatur arus kas dan pentingnya dana darurat, jadi lebih siap untuk mengembangkan usaha ke depannya,” tuturnya.