Kenapa Gerbong Wanita Berada di Posisi Belakang Kereta? Ternyata Ini Alasannya

Kereta Khusus Wanita
Kereta Khusus Wanita

Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Pasar Turi terlibat kecelakaan dengan KRL CommuterLine di Stasiun Bekasi Timur, Senin 27 April sekitar pukul 20.50 WIB. Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terlihat lokomotif KA Argo Bromo menabrak gerbong belakang KRL hingga menyebabkan ringsek.

Berdasarkan data terbaru pada Selasa 28 April 2026, tercatat 15 orang meninggal dunia dan 84 orang korban mengalami luka-luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan seluruh korban yang dievakuasi 100 persen adalah perempuan.

"Alhamdulillah, saya dari basarnas, dibantu TNI-Polri dan seluruh potensi, kita telah menyelesaikan operasi SAR dengan penanganan khusus kurang dari 12 jam, terhitung tadi malam kita sama-sama berduka pukul 08.57 terjadi musibah kecelakaan yang terjadi antara dua kereta yaitu kereta Commuter dan Agro Anggrek," kata Syafii di Stasiun Bekasi Timur, Selasa, 28 April 2026.

Buntut dari insiden ini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL wanita ditempatkan di tengah rangkaian.

Kenapa Gerbong Wanita Berada di Posisi Belakang Kereta?

Menyusul insiden kecelakaan tersebut, banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian belakang kereta. Ternyata, kebijakan ini tidak hanya berlaku pada Commuter Line, tetapi juga diterapkan pada Light Rail Transit (LRT), di mana gerbong wanita juga berada di posisi paling belakang.

Mengacu pada situs Instagram resmi KAI LRT Jabodebek Rabu, 29 April 2026, penempatan ini dirancang untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan kemudahan pengawasan bagi pengguna wanita.

1. Pengawasan lebih mudah

Petugas dapat memantau area khusus wanita secara lebih fokus karena posisinya terlokalisasi di ujung rangkaian

2. Akses lebih tertib

Penempatan di belakang membantu mengatur alur naik-turun pengguna wanita agar lebih teratur dan tidak bercampur terlalu padat dengan pengguna lainnya

3. Minim risiko pelanggaran

Penempatan khusus di belakang memudahkan control dan mencegah pelanggaran aturan area khusus wanita

Usulan Pemindahan Gerbong Wanita ke Tengah Rangkaian

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL wanita yang semula berada di ujung agar dipindahkan ke tengah rangkaian. 

Usulan pemindahan gerbong KRL wanita itu disampaikan Arifah imbas peristiwa tabrakan kereta api Argo Bromo dengan KRL di  Stasiun Bekasi Timur. 

"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung, yang... iya, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu. Tadi sementara itu," kata Arifah kepada wartawan di RSUD Bekasi, Selasa, 28 April 2026.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merespon soal usulan gerbong wanita dipindahkan ke tengah.  AHY menegaskan bahwa posisi perempuan dan laki-laki itu sama. Mereka, kata AHY tak boleh menjadi korban dalam insiden apapun.

"Yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apapun," kata AHY kepada wartawan di RSUD Bekasi, Selasa, 28 April 2026.

AHY menjelaskan, keselamatan publik saat menggunakan transportasi umum harus menjadi prioritas utama. Sehingga, semua yang menggunakan transportasi umum merasa aman dan nyaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," jelas AHY.