Mengapa Hubungan Cinta Tanpa Drama Sering Terasa Hambar

Mengapa Hubungan Cinta Tanpa Drama Sering Terasa Hambar

Berpasangan dengan orang yang tenang dan tidak meledak-ledak saat menghadapi masalah adalah idaman banyak orang.

Namun, tidak adanya drama yang berlebihan (karena pasangan stabil secara emosional), sering dipandang sebagai sesuatu yang terlalu datar bagi sebagian orang.

"Bagi banyak orang, terutama di tahap awal cinta, kestabilan emosional itu dapat dianggap sedikit membosankan," kata psikolog Mark Travers dalam tulisannya, disadur dari Psychology Today, Rabu (22/4/2026).

Ketika kestabilan emosional terasa membosankan

Travers menuturkan, ada alasan kuat mengapa stabilitas dan rasa "seru" dianggap sebagai dua hal yang bertolak belakang. Menurut dia, ini sebenarnya tidak berkaitan dengan kualitas pribadi.

"Mengapa pasangan yang stabil secara emosional bisa terasa membosankan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan nilai mereka sebagai pasangan. Sebaliknya, hal itu berkaitan erat dengan bagaimana pikiran kita mencatat pengalaman emosional," ungkap dia.

Alasan psikologis hubungan baik terasa datar

1. Mekanisme regulasi emosi yang menenangkan

Penyebab pertama adalah cara pasangan mengatur emosi negatif mereka. Pasangan yang stabil memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, sehingga mereka jarang mengalami gejolak perasaan yang ekstrem.

Di satu sisi, hal ini sangat sehat. Namun di sisi lain, ketiadaan naik-turun emosi membuat interaksi harian terasa kurang memacu adrenalin.

"Dari perspektif ilmiah, stabilitas emosional yang tinggi sering kali berjalan seiring dengan neurotisme yang lebih rendah, artinya lebih sedikit lonjakan kecemasan, kecemburuan, rasa bersalah, atau rasa takut kehilangan yang intens," tutur Travers.

Meskipun sangat menenangkan, minimnya drama membuat hubungan terasa kurang berkesan bagi mereka yang terbiasa dengan konflik.

Mengapa Hubungan Cinta Tanpa Drama Sering Terasa Hambar

Ilustrasi pasangan yang berpisah.

2. Kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan

Penyebab kedua melibatkan bias dalam cara memandang cinta. Budaya populer dan media kerap meromantisasi pasangan yang sulit ditebak, pemarah, tetapi penuh gairah.

Hal ini membangun pola pikir bahwa hubungan yang "hidup" harus memiliki gejolak emosional yang intens.

Padahal, dalam kehidupan nyata, ketidakstabilan emosional seperti itu hanya memberikan stimulasi sementara, tapi tidak menjamin kesehatan hubungan.

Perbedaan antara stabilitas dan plastisitas

Stabilitas mencakup ketenangan emosional dan kesetiaan, sedangkan plastisitas berhubungan dengan rasa ingin tahu dan spontanitas.

Pasangan yang stabil mungkin tidak memberikan "kejutan" setiap saat, tetapi mereka menawarkan keteraturan yang sangat diperlukan dalam jangka panjang.

Sering kali, rasa bosan yang muncul hanyalah bentuk dari pengalaman emosional yang bisa diprediksi, bukan karena hilangnya kasih sayang.

Di sisi lain, hubungan yang "terasa membosankan" dalam jangka pendek justru cenderung memberikan hasil yang jauh lebih baik dan minim konflik dalam jangka panjang.

Stabilitas emosional membantu pasangan untuk lebih mudah beradaptasi dengan stres yang mungkin muncul di masa depan.

"Meskipun pasangan yang stabil secara emosional terasa kurang mendebarkan dalam interaksi sehari-hari, mereka sering memberikan fondasi untuk hubungan langgeng, yang mungkin sulit dipertahankan oleh pasangan yang tidak stabil," papar Travers.

Menghargai ketenangan sebagai bentuk cinta

Travers menuturkan, penting untuk dipahami bahwa otak manusia memang dirancang untuk lebih memperhatikan perubahan dan hal-hal baru.

Jika emosi pasangan cenderung konstan dan positif, otak mungkin tidak akan memberikan perhatian sebesar saat terjadi konflik.

Namun, hubungan yang tenang pun bisa tetap terasa seru melalui humor atau petualangan bersama secara sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang