Hati-hati kalau Mau Ambil Uang di ATM
Bank of England sedang siap-siap menggelar pembicaraan genting dengan para kreditur (pemberi pinjaman) terkemuka seiring meningkatnya kekhawatiran tentang ancaman siber yang ditimbulkan oleh sistem AI terhadap sistem keuangan global.
Bank-bank Inggris akan diberikan akses awal untuk menguji ketahanan siber mereka terhadap Claude Mythos, sebuah bot AI canggih yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan atau startup Silicon Valley, Anthropic.
Perusahaan teknologi tersebut sempat menggemparkan dunia keamanan siber pada bulan ini dengan mengklaim bahwa Claude Mythos secara otomatis telah menemukan celah keamanan yang tidak dikenal di setiap sistem operasi dan peramban internet utama, beberapa di antaranya berusia hingga 27 tahun.
Berita ini berpotensi membuat semua perusahaan rentan terhadap jenis serangan siber baru yang dapat dilancarkan dengan kecepatan jauh lebih cepat daripada hacker atau peretas manusia mana pun.
Anthropic mengklaim alatnya sangat ampuh sehingga mereka membatasi akses hanya untuk beberapa raksasa teknologi dan bank global, untuk memberi mereka kesempatan meningkatkan keamanan sibernya.
Para ahli keamanan siber mengatakan bahwa bank sangat rentan karena, dalam banyak kasus, mereka masih mengandalkan perangkat keras yang sudah berusia puluhan tahun untuk melakukan sebagian besar transaksi.
Salah satu sistem yang berisiko tinggi terhadap serangan siber adalah COBOL, bahasa pemrograman komputer yang menjadi tulang punggung perbankan modern, seperti dikutip VIVA dari situs This is Money, Rabu, 22 April 2026.
Perangkat lunak atau software lama ini sudah beroperasi sejak 1960-an tetapi tetap digunakan secara luas karena keandalannya yang telah terbukti dan keengganan bank untuk mengganti atau memodernisasi sistem inti mereka yang memproses transaksi senilai triliunan pound setiap hari.
Saham perusahaan raksasa komputasi IBM mengalami penurunan satu hari terbesar dalam 25 tahun terakhir setelah Anthropic mengumumkan alat AI baru dengan kemampuan COBOL. Perangkat lunak tersebut masih tertanam kuat dalam sistem mainframe milik raksasa teknologi AS tersebut.
Para ahli keamanan siber juga mengatakan bahwa bug baru yang ditemukan Anthropic dalam COBOL dan sistem yang saling terkait tidak mudah diperbaiki karena perangkat lunak tersebut dikembangkan oleh spesialis yang sudah meninggal atau pensiun, sehingga pembaruan dan solusi sementara menjadi sulit.
"Risiko tersebut diperparah oleh kurangnya dokumentasi. Anda melakukan rekayasa balik logika bisnis dari sistem yang dibangun ketika Richard Nixon menjabat sebagai presiden AS. COBOL sekarang hanya diajarkan oleh segelintir universitas dan 'mencari insinyur yang bisa membacanya semakin sulit setiap kuartal'," kata Anthropic, dalam sebuah blog baru-baru ini.
Mesin ATM sudah rentan terhadap aksi geng yang menggunakan truk pengangkut atau alat berat untuk mencabut ATM secara paksa. Sistem ini juga dapat diretas ketika pembaca kartu palsu dipasang di atas pembaca kartu asli untuk mengeluarkan uang tunai, sebuah trik yang dikenal sebagai 'skimming'.
Namun, meningkatnya penggunaan alat AI seperti yang dikembangkan oleh Anthropic meningkatkan kemungkinan lonjakan perampokan jarak jauh yang disebut 'jackpotting' jika teknologi ini jatuh ke tangan yang salah.
Jackpotting terjadi ketika penjahat siber mengambil kendali sistem ATM dan memerintahkannya untuk mengeluarkan uang secara ilegal.mengeluarkan uang tunai sesuai permintaan, mengosongkan mesin-mesin tersebut alih-alih rekening pelanggan.
Bank of England dikabarkan bekerja sama erat dengan Departemen Keuangan, Otoritas Pengawasan Keuangan (Financial Conduct Authority), dan Pusat Keamanan Siber Nasional (National Cyber Security Centre) untuk memahami dan menilai risiko yang ditimbulkan oleh kemajuan terbaru dalam kecerdasan buatan (AI).
Grup Ketahanan Operasional Lintas Pasar (Cross Market Operational Resilience Group) akan bertemu minggu ini dengan para pemberi pinjaman terbesar dan lembaga keuangan lainnya untuk membahas perkembangan terbaru di Anthropic. "Kami akan meneliti 'dengan sangat cermat' 'apa arti perkembangan terbaru ini bagi risiko kejahatan siber'," jelas Gubernur Bank of England, Andrew Bailey.