Israel Kembali Serang Selatan Beirut, Komandan Senior Hizbullah Jadi Target

Bangunan di Lebanon hancur akibat serangan Israel
Bangunan di Lebanon hancur akibat serangan Israel

Sedikitnya tujuh orang tewas dalam serangan Israel di pinggiran selatan Beirut dan sebuah kota terdekat, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sementara Hizbullah terus melawan invasi darat Israel di selatan negara itu.

Sebuah serangan Israel menghantam kawasan Jnah di Beirut, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 21 lainnya, kata kementerian pada Rabu. Serangan terpisah pada Selasa malam menimpa Khaldeh, selatan ibu kota, menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Badan berita milik pemerintah, National News Agency (NNA), juga melaporkan serangan pada Rabu pagi di distrik Hadath, pinggiran selatan Beirut, yang sebagian besar telah kosong karena serangan Israel berulang dan perintah pengungsian paksa.

Zeina Khodr dari Al Jazeera, yang melaporkan dari lokasi serangan di Jnah, mengatakan sumber keamanan menyebut insiden ini sebagai pembunuhan terencana yang menarget kendaraan, bukan gedung apartemen.

“Belum jelas apakah serangan itu menarget dua mobil atau satu mobil. Banyak kendaraan terparkir di pinggir jalan karena ada sekolah di dekatnya, tempat pengungsi berlindung,”kata Khodr dikutip dari laman Al Jazeerah, Rabu 1 April 2026.

Militer Israel menyatakan mereka menargetkan seorang komandan senior Hizbullah, namun kelompok bersenjata Lebanon itu belum mengonfirmasi atau membantah pembunuhan tersebut.

“Sebenarnya, mereka sudah lama tidak memposting kabar kematian anggota secara resmi. Kita hanya mengetahui beberapa kematian dari postingan keluarga mereka di media sosial,” tambah Khodr.

Lebanon terseret ke dalam perang AS-Israel melawan Iran pada 2 Maret, ketika Hizbullah melancarkan serangan ke Israel untuk mendukung sekutunya, Iran. Israel menanggapi dengan serangan luas di seluruh Lebanon dan invasi darat.

Hizbullah pada Rabu mengklaim melakukan serangan lintas perbatasan ke Israel dan mengatakan para pejuangnya terlibat pertempuran sengit dengan tentara di kota Shamaa, Lebanon, sekitar 5 km dari perbatasan. Mereka juga mengklaim menembakkan roket ke sekelompok tentara Israel di lokasi lain.

Media Israel pada Selasa malam melaporkan lebih dari 40 roket ditembakkan oleh Hizbullah, yang juga mengaku melakukan beberapa serangan di utara Israel. Militer Israel melaporkan beberapa korban di pihaknya dalam beberapa hari terakhir di selatan Lebanon. Sejak eskalasi terakhir, setidaknya 10 tentara Israel dilaporkan tewas.

Tiga pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dari UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL) juga tewas di selatan Lebanon minggu ini, memicu penyelidikan atas insiden tersebut.

Jumlah korban tewas di Lebanon kini mencapai lebih dari 1.200 orang, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

Menteri-menteri sayap kanan Israel mendorong Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menganeksasi selatan Lebanon, sementara militer telah menghancurkan jembatan dan rumah untuk memutus wilayah itu dari bagian lain negara tersebut.

Netanyahu sebelumnya memerintahkan tentara untuk memperluas invasi selatan Lebanon guna mengubah situasi secara mendasar di utara Israel.

Khodr mengatakan ada kekhawatiran di Lebanon setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pada Selasa bahwa rumah-rumah di desa-desa Lebanon dekat perbatasan Israel akan dihancurkan dan 600.000 orang yang mengungsi dari selatan tidak akan diperbolehkan kembali hingga Israel dianggap aman.

“Ada kekhawatiran bahwa pasukan Israel berniat tinggal secara permanen, atau setidaknya memanfaatkan situasi ini untuk memaksa Hizbullah melucuti senjata dan pemerintah Lebanon menerima syarat apapun yang diinginkan Israel,” kata reporter tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, bulan lalu secara resmi melarang aktivitas militer Hizbullah dan meminta tentara untuk mencegah serangan apapun yang berasal dari wilayah Lebanon.

Namun, kelompok bersenjata Lebanon yang bersekutu dengan Iran ini, yang beroperasi independen dari pemerintah Lebanon, menolak melucuti senjata dan menegaskan perlunya melawan serangan Israel.