Hizbullah Lebanon Serang Israel Buntut Kematian Pimpinan Iran, Ayatollah Ali Khamenei

Israel Bom Beirut, Lebanon
Israel Bom Beirut, Lebanon

 Pada Senin pagi, Hizbullah melancarkan serangan roket dan drone yang menargetkan sebuah pangkalan militer di dekat Haifa, Israel Utara. Kelompok bersenjata asal Lebanon yang bersekutu dengan Iran itu menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei serta respon terhadap serangan Israel yang berulang.

“Pimpinan perlawanan selalu menegaskan bahwa kelanjutan agresi Israel dan pembunuhan terhadap para pemimpin, pemuda, dan rakyat kami memberi kami hak untuk membela diri serta merespons pada waktu dan tempat yang tepat. Muscuh Israel tidak dapat terus melanjutkan agresinya yang telah berlangsung selama 15 bulan tanpa adanya respons peringatan untuk menghentikan agresi tersebut dan menarik diri dari wilayah Lebanon yang diduduki,” demikian pernyataan kelompok itu, merujuk pada serangan Israel yang hampir terjadi setiap hari ke Lebanon seperti dikutip dari laman Al Jazeerah, Senin 2 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kekerasan ini menandai eskalasi besar dalam konflik yang kian berkembang menjadi perang kawasan antara Amerika Serikat dan Israel di satu pihak, serta Iran beserta sekutu-sekutunya di pihak lain.

Hizbullah, yang beroperasi di luar kendali langsung pemerintah Lebanon, melemah akibat perang pada 2024 yang menewaskan sebagian besar pemimpin militer dan politik kelompok tersebut oleh Israel. Belum jelas seberapa besar kerusakan yang masih dapat mereka timbulkan terhadap Israel atau apakah keterlibatan mereka dapat secara signifikan mengubah keseimbangan kekuatan bagi Iran.

Menyusul dengan serangan tersebut, Israel dengan cepat membalas melalui serangan udara di Beirut bagian selatan. Sejumlah media lokal melaporkan serangan Israel di beberapa desa di Lebanon selatan serta di Lembah Bekaa di bagian timur negara itu.

Militer Israel menyatakan pihaknya secara gencar menyerang Hizbullah di seluruh wilayah Lebanon.

“(Militer Israel]) akan bertindak terhadap keputusan Hizbullah untuk bergabung dalam kampanye ini, dan tidak akan membiarkan organisasi tersebut menimbulkan ancaman terhadap (Israel) serta membahayakan warga di wilayah utara. Organisasi teroris Hizbullah sedang menghancurkan negara Lebanon. Tanggung jawab atas eskalasi ini berada pada mereka, dan [militer Israel] akan merespons dengan tegas terhadap ancaman tersebut,” demikian pernyataan mereka.

Belakangan, militer Israel menyebut telah menargetkan anggota senior Hizbullah di wilayah Beirut dan seorang tokoh kunci di Lebanon selatan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Israel juga meminta warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, termasuk kota Bint Jbeil, untuk mengosongkan rumah mereka dan menjauh setidaknya 1 kilometer dari bangunan-bangunan di wilayah tersebut.

Peringatan untuk wilayah seluas itu dinilai mencerminkan pola perintah pengungsian massal yang pernah dikeluarkan Israel selama perang di Gaza.

Eskalasi ini berpotensi memperdalam krisis di Lebanon, yang selama bertahun-tahun dilanda persoalan ekonomi dan politik.

Hizbullah dan Israel sempat mencapai gencatan senjata pada November 2024, namun Israel disebut terus melanggar kesepakatan tersebut dan hampir setiap hari melancarkan serangan di berbagai wilayah Lebanon.

Kelompok Lebanon itu sebelumnya menahan diri untuk tidak membalas serangan Israel, sembari mendesak pemerintah Lebanon mengambil tanggung jawab dan melindungi negara.

Pemerintah di Beirut juga telah berulang kali meminta komunitas internasional menekan Israel agar menghentikan pelanggaran tersebut, namun belum membuahkan hasil.

Pada Januari, Beirut mengajukan pengaduan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendokumentasikan 2.036 pelanggaran kedaulatan Lebanon oleh Israel dalam tiga bulan terakhir tahun 2025.

Tahun lalu, pemerintah Lebanon mengeluarkan dekret untuk melucuti senjata Hizbullah, tetapi kelompok itu menolak keputusan tersebut dengan alasan bahwa persenjataan mereka diperlukan untuk melindungi negara dari ekspansionisme Israel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada Senin, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyebut serangan Hizbullah sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mencurigakan yang membahayakan keamanan dan keselamatan Lebanon serta memberi Israel dalih untuk melanjutkan agresinya.

“Kami tidak akan membiarkan negara ini terseret ke dalam petualangan baru, dan kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menangkap para pelaku serta melindungi rakyat Lebanon,” ujar Salam melalui platform X.