815 Desa di Jatim Diprediksi Alami Kekeringan, Puncak Kemarau Agustus

El Nino, BPBD Jatim, desa, kekeringan, 815 Desa di Jatim Diprediksi Alami Kekeringan, Puncak Kemarau Agustus

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) menyebut ratusan desa di wilayahnya berisiko mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun 2026.

Fenomena El Nino yang diprediksi lebih kuat disebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya potensi krisis air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, sedikitnya 815 desa di 222 kecamatan yang tersebar di 26 kabupaten diperkirakan terdampak kekeringan.

"Pemerintah provinsi telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panas dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya di Surabaya, Selasa (31/3/2026), dikutip dari Antara.

Kemarau Diprediksi Lebih Panjang dan Panas

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada April dan berlanjut hingga November, dengan puncak periodenya terjadi pada Agustus.

“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat atau ekstrem. Dampaknya, suhu akan lebih panas dan periode kemarau lebih panjang. Ini tentu berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah,” ujar Gatot.

Ia menjelaskan sebagian besar desa yang berpotensi terdampak berada di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap kekurangan air, terutama daerah yang mengandalkan sumber air tadah hujan serta memiliki keterbatasan infrastruktur penyediaan air bersih.

"Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah tersebut sangat rentan ketika musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya," imbuhnya.

BPBD Siapkan Skema Distribusi Air Bersih

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD Jatim bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mulai menyiapkan sejumlah strategi penanganan.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang rencananya dipimpin langsung oleh Gubernur Jatim.

“Kami melakukan rakor bersama seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pemerintah kabupaten atau kota, untuk menyusun langkah-langkah konkret dalam menghadapi kekeringan. Ini penting agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat sasaran,” terangnya.

Selain koordinasi antarinstansi, pemerintah daerah juga menyiapkan skema distribusi air bersih bagi wilayah yang diprediksi terdampak paling parah. Bantuan air akan disalurkan, antara lain, melalui pengiriman menggunakan truk tangki.

“Distribusi air bersih akan menjadi prioritas utama kami. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Kami juga akan memetakan wilayah mana saja yang membutuhkan penanganan segera,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang