Modus 'Ganti Kepala' dan Ancaman Pengambilan Organ Tubuh Menghantui PMI Ilegal di Kamboja

Palembang, warga Palembang, Modus 'Ganti Kepala' dan Ancaman Pengambilan Organ Tubuh Menghantui PMI Ilegal di Kamboja, Modus Perekrutan dan Jeratan "Ganti Kepala", Dipaksa Jadi Operator Love Scamming, Kesaksian Korban, Disetrum dan Dicambuk, Ancaman Perdagangan Organ Tubuh

Fenomena warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus tawaran kerja bergaji besar di luar negeri terus meningkat. Tak hanya 15 warga Palembang yang belakangan viral, ribuan warga dari berbagai daerah di Indonesia terindikasi mengalami nasib serupa di Kamboja.

Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Waydinsyah, mengungkapkan bahwa banyak WNI yang saat ini masih terjebak dan berharap bisa segera dipulangkan ke Tanah Air.

"Pada 2025 se-Provinsi Sumsel ada 262 orang yang sudah kita pulangkan. Sementara hingga 19 Februari 2026 sudah 53 orang yang berhasil kita pulangkan, dan sekarang kita fokus pada 15 orang ini. Di luar itu, artinya memang jumlahnya masih banyak," ujar Waydinsyah di Palembang, Sabtu (21/2/2026).

Modus Perekrutan dan Jeratan "Ganti Kepala"

Waydinsyah menjelaskan, para pelaku TPPO menggunakan berbagai pola untuk menjaring korban. Umumnya, korban tergiur iming-iming keberangkatan gratis dan janji gaji tinggi. Selain lowongan kerja fiktif sebagai operator, pelaku juga kerap menggunakan modus tawaran perjalanan wisata ke Malaysia sebelum akhirnya diselundupkan ke negara tujuan.

Pihak BP3MI Sumsel mensinyalir adanya keterlibatan perekrut lokal di Palembang. Mirisnya, sebagian besar proses perekrutan justru dilakukan oleh orang terdekat atau teman korban sendiri atas dasar kepercayaan.

Dalam praktiknya, pekerja yang tidak mampu mencapai target kerja diwajibkan menyetor sejumlah uang. Jika gagal, mereka dipaksa mencari orang lain sebagai pengganti.

"Biasanya mereka mencari orang terdekat. Kalau tidak bisa merekrut (pengganti), ancamannya lebih parah, bahkan sampai dugaan pengambilan organ. Istilahnya 'ganti kepala'. Ini yang membuat banyak yang berangkat tapi tidak pulang," ungkap Waydinsyah.

Dipaksa Jadi Operator Love Scamming

Kamboja dikenal sebagai titik maraknya praktik judi online dan penipuan daring (online scamming). Di sana, para korban dipaksa bekerja sebagai operator untuk menipu orang lain melalui media sosial dan WhatsApp.

Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah love scamming. Waydinsyah menceritakan ada seorang wanita yang pernah dipulangkan mengaku bisa menghasilkan hingga Rp 2 miliar dari hasil menipu.

"Korbannya disuruh chatting manis-manis, termasuk modus love scamming. Mereka berkomunikasi dengan orang Indonesia cukup lewat video call yang sudah diatur," tambahnya.

Kesaksian Korban, Disetrum dan Dicambuk

R, warga 7 Ulu Palembang, adalah salah satu korban yang berhasil pulang. Awalnya, ia ditawari temannya bekerja di Vietnam sebagai pegawai restoran dengan gaji besar. Namun, kenyataan pahit justru diterimanya saat tiba di lokasi.

"Karena anak-anak masih kecil dan ditawarin gaji besar, tentu saya tergiur dengan harapan bisa mengubah nasib," kata R saat ditemui di Kantor Gubernur Sumsel, Senin (30/3/2026).

Bukannya kesejahteraan, R justru mendapatkan penyiksaan fisik jika tidak mencapai target kerja.

"Kalau dicambuk di pantat sudah sering sampai biru-biru. Pernah juga disetrum di badan. Kami kerjanya tim, saya bagian chatting love," tuturnya pilu.

Selama tujuh bulan bekerja, ia hanya menerima gaji untuk dua bulan sebesar 400 dollar AS atau sekitar Rp 6 juta.

Senada dengan R, V, warga Palembang lainnya, memilih nekat melarikan diri pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat karena merasa akan dijual ke perusahaan lain.

"Saya di sana baru kerja empat hari dan belum dapat gaji. Saya melarikan diri bersama sembilan orang teman lainnya karena merasa mau dijual lagi," kata V. 

Ancaman Perdagangan Organ Tubuh

Kasus mengerikan lainnya diungkapkan BP3MI terkait seorang warga Bukit, Palembang. Korban tersebut sempat dibawa melintasi hutan perbatasan Thailand secara ilegal. Kecurigaan muncul saat korban menjalani pemeriksaan medis yang tidak lazim.

"Dia curiga ketika organnya diperiksa dan hasilnya disampaikan lewat telepon bahwa organ tubuhnya bagus semua. Akhirnya dia sadar itu bukan untuk jadi sopir, tapi diduga untuk dijual organnya. Dia berhasil lari dan sekarang sudah bekerja di luar Palembang," jelas Waydinsyah.

BP3MI menekankan pentingnya kerja sama lintas instansi untuk memutus rantai TPPO. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada tawaran kerja luar negeri jika tidak memiliki surat perjanjian kerja resmi yang diverifikasi oleh BP3MI.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan TribunSumsel.com dengan judul BP3MI Sumsel Bongkar Pola Rekrut Korban TPPO Ke Luar Negeri, Ungkap Diduga Perekrut Ada di Palembang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang